Pertanian Padi Rendah Emisi Makin Dilirik
Senin, 20 Jul 2026, 20:28 WIBJAKARTA â Perusahaan agritech Rize memperoleh pendanaan Seri B senilai 31 juta dolar AS atau sekitar Rp 559 miliar untuk mempercepat pengembangan pertanian padi berkelanjutan di Asia Tenggara. Dana tersebut akan digunakan untuk memperluas jangkauan lahan, memperkuat rantai pasok, mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), serta meningkatkan akses petani kecil terhadap praktik pertanian modern.
Pendanaan tersebut terdiri atas 20 juta dolar AS dalam bentuk ekuitas yang dipimpin BNP Paribas Asset Management Alts, dengan partisipasi The Rockefeller Foundation, Temasek, dan Breakthrough Energy Ventures. Sementara itu, pembiayaan utang sebesar 11 juta dolar AS berasal dari UOB, BIDV, dan Temasek Foundation.
Dengan tambahan investasi tersebut, total pendanaan yang berhasil dihimpun Rize sejak berdiri mencapai 47 juta dolar AS atau sekitar Rp849 miliar. Perusahaan menyatakan dana baru ini akan dimanfaatkan untuk memperluas ekspor beras rendah emisi, mengembangkan perangkat berbasis AI bagi petani dan tenaga lapangan, mempercepat sertifikasi karbon, serta memperluas operasional ke negara-negara lain di Asia Tenggara.
Dalam dua tahun terakhir, Rize mencatat pertumbuhan bisnis yang pesat. Perusahaan kini bermitra dengan sekitar 17.000 petani kecil yang mengelola lebih dari 50.000 hektare lahan pertanian di Indonesia dan Vietnam. Operasional tersebut didukung sekitar 250 tenaga yang bergerak di bidang teknologi, agronomi, dan operasional lapangan.
Selain itu, Rize telah mengekspor sekitar 1.500 ton beras rendah emisi ke sejumlah negara, termasuk Eropa, Kanada, Australia, dan Singapura. Perusahaan menargetkan hingga 2030 dapat memperluas dampaknya ke lebih dari 300.000 hektare lahan pertanian dan mendukung lebih dari 150.000 petani kecil, sekaligus memperkuat ketahanan sektor pertanian terhadap dampak perubahan iklim.
Fokus pada pertanian rendah emisi
Budidaya padi menjadi salah satu penyumbang emisi metana terbesar di dunia. Rize menyebut sektor ini berkontribusi sekitar 12 persen emisi metana global, setara dengan emisi yang dihasilkan industri penerbangan.
Untuk mengurangi dampak tersebut, perusahaan menerapkan metode Alternate Wetting and Drying (AWD), yaitu teknik irigasi yang direkomendasikan International Rice Research Institute (IRRI) dan CGIAR.
Metode ini diklaim mampu mengurangi emisi metana hingga 50 persen, menghemat penggunaan air sebesar 20â30 persen, sekaligus meningkatkan pendapatan petani hingga 30 persen tanpa menurunkan produktivitas panen.
Selain menerapkan praktik budidaya rendah emisi, Rize juga membantu petani memenuhi standar Maximum Residue Limit (MRL) agar beras yang dihasilkan memenuhi persyaratan pasar ekspor premium.
Pendanaan terbaru juga akan digunakan untuk memperluas penerapan metode AWD, memperkuat sistem penelusuran rantai pasok, membuka akses pasar ekspor baru, serta membangun platform yang memungkinkan pelaku industri pertanian dan penyedia teknologi menjangkau jaringan petani Rize.
Perkuat teknologi AI dan sertifikasi karbon
Selain ekspansi bisnis, perusahaan akan mempercepat pengembangan perangkat berbasis AI guna membantu petani mengambil keputusan yang lebih akurat dalam proses budidaya.
Rize juga memperkuat inisiatif perdagangan karbon. Proyek Sustainable Rice Production in Southeast and South Asia milik perusahaan telah memperoleh peringkat A.pre dari BeZero Carbon, yang menunjukkan tingkat keyakinan tinggi terhadap potensi pengurangan emisi karbon yang dihasilkan proyek tersebut.
Saat ini proyek tersebut juga tengah menjalani proses sertifikasi Gold Standard dan diperkirakan mampu menghasilkan lebih dari satu juta kredit karbon dalam lima tahun mendatang.
Siap memasuki fase pertumbuhan berikutnya
Co-Founder dan CEO Rize, Dhruv Sawhney, mengatakan pendanaan terbaru menjadi tonggak penting bagi perusahaan dalam memperluas transformasi sektor pertanian padi di kawasan. Pendanaan ini merupakan momen yang sangat istimewa bagi Rize.
âPlatform dan pendekatan kami dalam mentransformasi serta memodernisasi budidaya padi oleh petani kecil mendapat sambutan hangat dari semua pihak para investor, mitra, dan petani. Tim Rize telah berhasil menempatkan dampak iklim dan peningkatan ketahanan petani sebagai bagian inti dari solusi dan model bisnis kami,â tutur Sawhney melalui keterangannya pada hari Kamis (20/7).
âInvestasi ini akan membuka fase pertumbuhan berikutnya, dengan memperluas skala operasi, memperkuat akses ke pasar dan ekspor, serta berinvestasi dalam teknologi mutakhir untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan hasil yang lebih baik di seluruh rantai nilai," tambahnya.
Ia menambahkan bahwa pencapaian tersebut bukan sekadar keberhasilan menghimpun investasi. Kesuksesan ini lebih dari sekadar pencapaian penting dalam hal pendanaan. Hal ini merupakan pengakuan atas fondasi yang telah kami bangun, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa kami siap menciptakan sistem pangan yang lebih terhubung, tangguh, dan berkelanjutan bagi para petani kecil," ujar Dhruv.
Investor melihat potensi besar
Head of Natural Capital & Impact Investments BNP Paribas Asset Management Alts, Alexandre Martin-Min, menilai investasi pada Rize sejalan dengan strategi perusahaan dalam mendukung solusi berbasis alam yang memberikan dampak lingkungan sekaligus nilai ekonomi.
"Kami melihat investasi di Rize sebagai wujud keyakinan bahwa penyaluran modal kepada platform berkelanjutan yang mampu menciptakan dampak besar, khususnya di pasar yang belum terlayani secara optimal, dapat menghasilkan manfaat lingkungan yang nyata dan terukur dalam menghadapi tantangan iklim. Rize telah memposisikan dirinya di titik temu antara pertanian berkelanjutan, pembiayaan karbon, dan perdagangan komoditas terverifikasi; hal ini sangat selaras dengan strategi kami untuk melindungi, memulihkan, dan mengelola ekosistem alam secara berkelanjutan sekaligus memberikan imbal hasil finansial yang kompetitif bagi para investor."
Sementara itu, Vice President of Innovative Finance The Rockefeller Foundation, Slav Gatchev, menilai petani kecil di Asia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses pembiayaan hingga pasar. Petani kecil di seluruh Asia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pengelolaan sumber daya dan akses terhadap pembiayaan hingga ketidakpastian akses pasar.
âKondisi ini dapat menekan hasil pertanian dan mengurangi kesejahteraan petani. Kami bangga dapat mendukung upaya Rize dalam mendorong penerapan praktik regeneratif berbasis teknologi, yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil panen dan pendapatan para petani yang paling membutuhkan dukungan," katanya.
- Teknologi AI
- petani Indonesia
- Pendanaan Startup
- Emisi Karbon
- pertanian berkelanjutan
- Asia Tenggara
- kecerdasan buatan
- Rize
- Agritech
- Pertanian Padi
- AI Pertanian
- Kredit Karbon
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Ketua DPD RI: Harga Sawit Akan Kembali Normal Bertahap
-
East Ventures: Transformasi Digital Indonesia Harus Berujung pada Nilai Ekonomi Nyata
-
Indonesia Dinilai Punya Peran Strategis dalam Pengembangan AI untuk Sektor Kesehatan ASEAN
-
Evaluasi Hasil TKA Belum Merata, Dindik Jatim Genjot Literasi dan Numerasi
-
Jalan Terjal Menuju Gelar Indonesia Open
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.