Sinyal Baru! Kredit Perbankan Bergeser ke Sektor Produktif
Minggu, 28 Jun 2026, 17:55 WIBJAKARTA â Penyaluran kredit perbankan menjadi indikator penting yang mencerminkan tingkat kepercayaan dunia usaha dan rumah tangga terhadap prospek ekonomi.
Pertumbuhan kredit yang sehat mampu mendorong investasi, konsumsi, dan ekspansi sektor produktif sehingga memperkuat laju pertumbuhan ekonomi.
Namun, peningkatan kredit juga perlu diimbangi dengan pengelolaan risiko yang prudent agar kualitas aset perbankan tetap terjaga dan stabilitas sistem keuangan tidak terganggu.
Lembaga riset NEXT Indonesia Center menyebut saat ini arah penyaluran kredit perbankan nasional mulai mengalami perubahan ke sektor produktif, setelah sebelumnya ekspansi kredit lebih banyak ditopang pembiayaan konsumsi.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko mengatakan perubahan arah penyaluran kredit itu menunjukkan industri perbankan selektif terhadap sektor dengan prospek pertumbuhan lebih baik dengan risiko yang tetap terkendali.
âIni sinyal positif, saat ini bank tidak hanya melihat besarnya kebutuhan pembiayaan, tetapi juga mempertimbangkan prospek usaha, kualitas risiko, dan potensi sektor tersebut dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Pergeseran ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan mulai lebih banyak mengalir ke sektor-sektor yang menciptakan nilai tambah," ujar Christiantoko dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Dalam laporan NEXT Indonesia Center terbaru bertajuk âSektor Usaha Favorit Perbankanâ menunjukkan bahwa outstanding kredit bank umum terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.
Per April 2026, total kredit bank umum mencapai Rp8.755 triliun, sedangkan kredit yang mengalir ke sektor ekonomi mencapai Rp6.454 triliun, sementara kredit bukan sektor ekonomi (konsumsi rumah tangga) mencapai Rp2.301 triliun.
Perubahan paling mencolok terlihat pada komposisi penggunaan kredit. Sepanjang periode 2024-2026, kredit investasi menjadi motor utama pertumbuhan.
Per April 2026, kredit investasi tumbuh 19,48 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), jauh melampaui pertumbuhan kredit modal kerja sebesar 6,04 persen yoy maupun kredit konsumsi sebesar 6,13 persen yoy.
âKondisi ini menunjukkan semakin besarnya pembiayaan yang diarahkan untuk pembangunan aset produktif, ekspansi usaha, dan investasi jangka panjang,â katanya.
Berdasarkan analisis NEXT Indonesia Center, terdapat lima sektor usaha yang saat ini menjadi tujuan utama ekspansi kredit perbankan, yaitu konstruksi, pengadaan listrik dan gas, aktivitas profesional dan perusahaan, real estat, serta aktivitas kesehatan manusia dan aktivitas sosial.
Menurut Christiantoko, dominasi kredit investasi menjadi indikator penting bahwa dunia usaha mulai kembali melakukan ekspansi.
âKredit investasi biasanya mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek bisnis beberapa tahun ke depan. Ketika jenis kredit ini tumbuh paling cepat, berarti ada keyakinan bahwa aktivitas ekonomi masih memiliki ruang untuk berkembang,â katanya.
Di sisi lain, kualitas kredit perbankan secara umum masih terjaga. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross yang berada di level 2,17 persen pada April 2026.
Namun, jika dilihat berdasarkan jenis penggunaan kredit, profil risikonya mulai menunjukkan perbedaan. Kredit investasi menjadi segmen dengan kualitas kredit paling baik dengan NPL sebesar 1,34 persen pada April 2026.
Sebaliknya, kredit modal kerja tetap menjadi segmen dengan risiko paling besar dengan NPL mencapai 2,64 persen pada April 2026.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
BI: Kredit Perbankan Tumbuh 9,37 Persen pada Februari 2026
-
Pemerintah Mengeklaim Harga Beras Tak Naik
-
Janice Tjen Bidik Start Positif di Italia Open, Peluang Terbuka Hadapi Peyton Stearns
-
May Day: Ribuan Massa Buruh dari Berbagai Serikat Padati Kawasan Monas
-
TransJakarta Lindas Pejalan Kaki hingga Tewas di di Bus Stop Taman DDN Jaksel, Begini Kronologinya
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.