Korsel akan Melatih 500.000 Tentaranya Jadi 'Prajurit Drone' untuk Melawan Korut

Jumat, 26 Jun 2026, 14:14 WIB

SEOUL - Seluruh pasukan militer Korea Selatan akan dilatih sebagai operator drone dalam perombakan besar-besaran strategi peperangannya, kata menteri pertahanan.

“Semua prajurit seharusnya bisa menggunakan drone seperti senjata api pribadi kedua,” kata Ahn Gyu-back, Kepala Kementerian Pertahanan Korea Selatan di Seoul, Jumat (266/6).

Ket. Foto: Drone militer Korea Selatan terbang dalam formasi saat latihan militer pada Mei 2023. — Sumber: AFP

Rencana tersebut menggambarkan pelatihan 500.000 personel militer yang berwenang di angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara, dan marinir untuk menjadi "prajurit drone," kata kementerian.

“Perang di Ukraina dan Timur Tengah telah menunjukkan bahwa drone kini menjadi "faktor penentu di medan perang," kata Ahn.

“Drone berbiaya rendah yang dioperasikan dalam jumlah besar secara fundamental mengubah sifat peperangan,” kata Ahn. Ia juga memperingatkan bahwa Korea Utara juga terus mengembangkan kemampuan persenjataannya, meningkatkan ancaman terhadap fasilitas militer dan sipil di Korea Selatan.

Militer berencana membeli sekitar 11.000 drone komersial untuk keperluan pelatihan pada akhir tahun ini, meningkat menjadi 60.000 pada tahun 2029, bersamaan dengan 20.000 lebih drone tempur sekali pakai berbiaya rendah pada tahun 2030.

Seoul juga mengatakan akan mempercepat pengembangan amunisi jelajah jarak jauh buatan dalam negeri yang diberi nama K-Lucas. Sistem ini mengambil nama dan konsepnya dari drone Lucas (low-cost uncrewed combat attack system) buatan Amerika, yang merupakan hasil rekayasa balik dari drone bunuh diri Shahed-136 Iran, yang banyak digunakan Russia di Ukraina.

Rencana Korea Selatan mencakup perluasan sistem anti-drone seperti senjata laser dan gelombang mikro berdaya tinggi.

Pengumuman ini disampaikan di tengah kekhawatiran tentang kemampuan pesawat nirawak Korea Utara, serta setelah sebuah insiden yang sangat memalukan bagi pasukan keamanan Seoul pada tahun 2022 ketika lima pesawat nirawak kecil Korea Utara melanggar wilayah udara Korea Selatan.

Salah satu drone memasuki zona larangan terbang di atas kantor kepresidenan di Seoul. Militer mengerahkan jet tempur dan helikopter serang serta melepaskan sekitar 100 tembakan, namun gagal menembak jatuh satu pun drone.

Kemampuan drone Korea Utara telah meningkat pesat, sebagian melalui kemitraan militer yang semakin erat dengan Russia , yang menurut para analis telah memberi Pyongyang akses ke data medan perang dan taktik yang seharusnya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikembangkan.

Pyongyang telah mengerahkan ribuan pasukan untuk bertempur bersama pasukan Russia di Ukraina, sehingga militer mereka terpapar langsung pada peperangan drone dalam skala besar.

Korea Utara pada hari Jumat mengumumkan bahwa pemimpin Kim Jong-un telah mengawasi uji coba rudal balistik taktis dan sistem artileri roket yang telah ditingkatkan dengan jangkauan tembak 90 km, yang menurut Pyongyang merupakan upaya untuk meningkatkan daya tembak di sepanjang perbatasan selatannya.

Sementara itu, Kim berjanji memperluas persenjataan nuklir Korea Utara dengan apa yang disebutnya sebagai "laju eksponensial", menggambarkan perluasan nuklir sebagai "cara yang paling tepat dan unik" untuk menghadapi dunia yang semakin tidak stabil.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.