Enam Unit Alat 'Early Warning System' untuk Mitigasi Erupsi GAK

Selasa, 18 Agu 2026, 22:57 WIB

Bandarlampung - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung menyatakan bahwa sebanyak enam unit alat early warning system atau sistem peringatan dini yang terpasang di pesisir Kabupaten Lampung Selatan dapat membantu memitigasi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

"Memang beberapa waktu ini Gunung Anak Krakatau ada eskalasi erupsi, sehingga kami secara rutin melakukan koordinasi dengan Pos Pantau Krakatau," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung Rudy Syawal di Bandarlampung, Selasa.

Ket. Foto: Alat early warning system beserta tower sirine yang terpasang di salah satu desa di pesisir Kabupaten Lampung Selatan. — Sumber: Antara

Ia mengatakan, untuk meminimalisir dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau, selain melakukan pemantauan pihaknya dibantu oleh Bank Dunia telah memasang alat early warning system di beberapa desa di pesisir Kabupaten Lampung Selatan.

"Untuk Kabupaten Lampung Selatan sudah diidentifikasi, saat ada erupsi itu ada beberapa titik yang akan terdampak pertama kali. Dan disana kami pasang alat early warning system bantuan dari Bank Dunia melalui BNPB," katanya.

Dia menjelaskan alat early warning system sebanyak enam unit tersebut, akan memberikan informasi bila ada kejadian darurat akibat erupsi Gunung Anak Krakatau seperti gempa ataupun tsunami melalui sirine yang akan berbunyi.

"Alat early warning system yang ada di daerah pesisir ini secara otomatis akan memberikan informasi awal, kalau terjadi erupsi yang berdampak pada peningkatan tinggi gelombang laut atau gempa. Dan bila ada kendala teknis tim pusat pengendalian operasi (pusdalop) bisa menyalakannya dari pos pantau secara manual," ucap dia.

Menurut dia, alat early warning system tersebut terpasang di desa atau daerah yang sudah berpredikat Desa Tangguh.

"Karena Lampung Selatan memiliki tingkat kerawanan bencana cukup banyak, disana sudah banyak Desa Tangguh Bencana (Destana) yang dibentuk dengan bantuan dari NGO ataupun Bank Dunia. Dan alat early warning system dipasang di desa dengan predikat tangguh tersebut," tambahnya.

Ia melanjutkan, pemasangan di Desa Tangguh Bencana dilakukan, sebab masyarakat di desa tersebut telah terlatih menghadapi kejadian bencana alam.

"Jadi di desa itu masyarakat sudah terbiasa, dan terlatih ketika ada kejadian, dan mereka bisa dengan cepat melakukan mitigasi di wilayahnya. Saat ini kami juga terus melakukan pemantauan melalui pusdalop untuk melihat kondisi terkini Gunung Anak Krakatau," ujar dia.

Diketahui berdasarkan data BPBD Provinsi Lampung pada Selasa (18/8) pukul 06.00-12.00 WIB kondisi Gunung Anak Krakatau telah terjadi 60 kali gempa hembusan dengan amplitudo 18,5-72 mm dan lama gempa 22-78 detik.

Lalu ada dua kali gempa dengan frekuensi rendah dengan amplitudo 21-58 mm dan lama gempa 7-16 detik. Kemudian gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 13,6-68 mm dengan lama 5-23 detik, dan satu kali gempa tremor menerus dengan amplitudo 1-40 mm.

Dan pada Senin (17/8) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat Gunung Anak Krakatau telah mengalami 20 kali erupsi dengan status siaga. Sehingga masyarakat atau pengunjung tidak diperbolehkan mendekati gunung atau beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.