Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mengajak Generasi Muda Berkreasi Tanpa Memutus Tradisi

📅 Kamis, 25 Jun 2026, 23:56 WIB | Oleh: Tim Penulis
Mengajak Generasi Muda Berkreasi Tanpa Memutus Tradisi Doc: Antara

Denpasar - Tokoh seni kreatif Dr Anak Agung Gede Agung Rahma Putra mengajak generasi muda berkreasi tanpa memutus tradisi.

“Kreativitas generasi muda menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan seni dan budaya Bali di tengah derasnya perkembangan zaman, namun inovasi yang lahir tidak boleh memutus akar tradisi, melainkan harus tumbuh dari nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ucapnya di Denpasar, Kamis.

Agung Rahma menyinggung ini dalam Diskusi Budaya PWI dan Kawiya Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, di mana ajakan ini berangkat dari pengalamannya sendiri.

Tahun 2012 perjalanan kreatifnya masuk pada babak mendirikan komunitas seni bernama Pancer Langit sebagai ruang alternatif bagi generasi muda untuk bereksplorasi dan berinovasi di tengah dominasi sanggar tari tradisional yang berkembang saat itu.

Ketika itu, Agung Rahma melahirkan karya inovatif yang berfokus pada eksplorasi busana, namun mendapat kritik keras dan disebut sebagai karya sampah oleh kalangan pencinta seni tradisi saat ditampilkan di Pesta Kesenian Bali.

Momen itu menjadi titik refleksi yang membentuk cara pandangnya bahwa antara inovasi dan tradisi harus saling terhubung, tradisi justru identitas utamanya.

Untuk itu ia mengingatkan seniman muda bahwa inovasi bukan upaya meninggalkan tradisi, melainkan menghadirkan bahasa baru untuk menyampaikan nilai-nilai yang sama kepada masyarakat masa kini.

"Dari pengalaman itu saya memahami bahwa berinovasi bukan berarti melepaskan diri dari tradisi, tradisi adalah identitas yang harus dijaga, sedangkan inovasi adalah ruang kreativitas yang membuat seni tetap hidup dan berkembang," ujar Agung Rahma.

Ia sendiri akhirnya dalam proses penciptaan karya, selalu berpegang pada konsep desa, kala, patra sebagai kompas utama.

Seorang seniman harus memahami tempat karya dipentaskan, waktu penyajian, serta konteks sosial yang melatarbelakanginya agar karya yang lahir tetap relevan dan memiliki makna.

Menurut dia, masa depan seni Bali justru terletak pada kemampuan menjembatani tradisi, idealisme, dan hiburan agar dapat saling menguatkan.

Pandangan serupa turut disampaikan komposer sekaligus akademisi seni I Wayan Ary Wijaya. Namun ia menyoroti bagaimana semestinya teknologi digital menjadi instrumen penting dalam proses penciptaan karya seni tanpa harus menghilangkan identitas budaya.

“Teknologi bukan ancaman bagi tradisi, melainkan alat bantu yang mempercepat proses kreatif sekaligus membuka peluang lahirnya gagasan-gagasan baru, pengaruh budaya luar yang masuk dapat disaring melalui visi berkesenian yang tetap berlandaskan nilai-nilai tradisi Bali,” katanya.

Berbekal pengalaman mengajar sejak 1996 hingga 2020, Ary melihat inovasi sering lahir dari keinginan untuk keluar dari stagnasi, namun, karya baru tidak selalu langsung diterima masyarakat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Jepang Percepat Ibu Kota Kedua

6 menit yang lalu | Lukman

Luar Negeri
Jepang Percepat Ibu Kota Kedua
Luar Negeri
Macron Menjamu Meloni setel...
Pengenalan Teknologi eVTOL Dinilai Kemenekraf Dapat Dongkrak Pertumbuhan Ekraf di Indonesia

Pengenalan Teknologi eVTOL Dinilai Kemenekraf Dapat Dongkrak Pertumbuhan Ekraf di Indonesia

25 Jun 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.