Perilaku Konsumtif dan Kebiasaan Menabung

Rabu, 24 Jun 2026, 23:17 WIB

Yogyakarta - Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Satria Utama menyatakan kegagalan masyarakat dalam membiasakan diri menabung lebih banyak disebabkan oleh perilaku keuangan yang tidak sehat dibandingkan faktor rendahnya pendapatan.

Satria di Yogyakarta, Rabu, menjelaskan persoalan menabung merupakan tantangan mendasar yang dipengaruhi oleh cara seseorang mengelola arus kas bulanan.

Ket. Foto: Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Satria Utama. — Sumber: Antara

"Kegagalan menabung kerap terjadi karena pendapatan yang diperoleh habis terserap untuk memenuhi pengeluaran rutin, sehingga menabung sering kali dikesampingkan dari skala prioritas keuangan rumah tangga," kata Satria.

Akibat pola pikir yang menganggap penghasilan bulan depan sebagai jaminan, lanjut dia, banyak orang akhirnya terjebak dalam kondisi keuangan yang stagnan. Tanpa adanya disiplin dalam menyisihkan dana di awal penerimaan pendapatan, niat untuk menabung sering kali hanya menjadi wacana yang sulit diwujudkan dalam praktik keseharian.

Akar masalah utama dalam fenomena ini, menurut Satria, adalah perilaku keuangan (financial behavior) yang kurang tepat. Ia menyoroti adanya kecenderungan masyarakat untuk menaikkan standar hidup atau gaya hidup secara otomatis ketika pendapatan mereka mengalami peningkatan.

"Fenomena yang dikenal sebagai lifestyle inflation ini menyebabkan ruang untuk menabung tetap sempit meskipun kemampuan finansial seseorang sebenarnya telah meningkat. Dalam banyak kasus, kenaikan penghasilan justru diikuti dengan lonjakan pengeluaran konsumtif yang tidak terencana," katanya.

Satria menegaskan bahwa banyak keluarga dengan penghasilan tergolong cukup justru tetap kesulitan menabung karena pengeluaran mereka meningkat seiring dengan bertambahnya pendapatan. Hal ini membuktikan bahwa besar kecilnya penghasilan tidak otomatis menjamin kemampuan seseorang untuk menyimpan dana cadangan jika tidak dibarengi dengan kontrol konsumsi.

Selain faktor gaya hidup, ketiadaan tujuan keuangan yang jelas juga menjadi faktor penghambat bagi masyarakat untuk konsisten menabung. Menabung tanpa target yang spesifik akan membuat seseorang lebih mudah kehilangan motivasi saat menghadapi berbagai hambatan atau kebutuhan mendesak di tengah jalan.

"Menabung itu seperti melakukan perjalanan. Tanpa tujuan yang jelas, seseorang akan lebih mudah kehilangan motivasi dan berhenti di tengah jalan ketika menghadapi berbagai hambatan atau kebutuhan mendesak," ujar Satria saat memberikan pandangannya.

Ia menambahkan, kebiasaan menabung juga kerap terganggu karena masyarakat belum memiliki perlindungan keuangan atau dana darurat yang memadai. Akibatnya, ketika muncul kebutuhan mendesak seperti biaya kesehatan atau perbaikan kendaraan, tabungan yang telah dikumpulkan terpaksa digunakan hingga nilainya kembali ke titik nol.

"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menabung bukan hanya persoalan kemampuan menghasilkan uang, tetapi juga kemampuan mengelola, melindungi, dan mengarahkan pendapatan sesuai dengan prioritas yang benar. Tabungan harus dipandang sebagai kebutuhan masa depan, bukan sekadar sisa uang di akhir bulan," katanya.

Ia menekankan pentingnya mengubah paradigma masyarakat mengenai prioritas keuangan. Tabungan harus dialokasikan sejak awal saat pendapatan diterima, bukan menunggu seluruh kebutuhan dan keinginan konsumtif terpenuhi terlebih dahulu.

Disiplin dalam mengelola keuangan serta menetapkan tujuan yang terukur menjadi kunci utama bagi masyarakat untuk membangun kebiasaan menabung yang berkelanjutan. Hal ini penting dilakukan agar masyarakat memiliki stabilitas finansial yang lebih kuat di masa depan.

Ia menegaskan bahwa pendapatan besar tidak menjadi jaminan bagi seseorang untuk mampu menabung dengan baik. Yang paling menentukan adalah bagaimana seseorang mengelola pendapatannya secara bijak, konsisten, dan terarah sesuai dengan kebutuhan prioritas.

"Dengan edukasi literasi keuangan yang tepat, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Upaya ini diharapkan mampu menciptakan budaya menabung yang sehat untuk mendukung ketahanan ekonomi individu maupun keluarga di masa mendatang," katanya.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.