- Home
-
- Luar Negeri
-
- Korea Utara Tegaskan Statu...
Korea Utara Tegaskan Status Nuklirnya 'Tidak Dapat Diubah', Tanggapi Pertemuan Sekutu AS di Tokyo
Minggu, 14 Jun 2026, 09:46 WIBSEOUL - Korea Utara pada hari Minggu (114/6) mengatakan statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir "tidak dapat diubah", kunci untuk memastikan stabilitas regional, menolak seruan Amerika Serikat dan sekutunya untuk denuklirisasi.
Pyongyang berulang kali menegaskan mereka tidak akan meninggalkan persenjataan nuklirnya, menggambarkannya sebagai hal penting untuk pencegahan. Awal bulan ini, Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Kim Jong Un yang berpengaruh, menyebut kebijakan itu sebagai "garis tanpa mundur".
Pernyataan Korea Utara itu disampaikan setelah pertemuan trilateral antara Korea Selatan, Jepang, dan AS di Tokyo pada hari Jumat (12/6), di mana tiga negara menegaskan kembali komitmen mereka terhadap "denuklirisasi total Semenanjung Korea", menurut Kementerian Luar Negeri Seoul.
"Retorika tak berarti AS dan kekuatan-kekuatan bawahannya terhadap Korea Utara... tidak akan pernah dapat mempengaruhi posisi Korea Utara yang tak tergoyahkan sebagai negara pemilik senjata nuklir," kata juru bicara yang tidak disebutkan namanya dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Minggu, menggunakan akronim untuk nama resmi Korea Utara.
"'Denuklirisasi' adalah masalah yang sudah final dan tidak dapat diubah lagi," tambah pejabat itu.
Juru bicara tersebut juga menyebutkan penjualan sistem senjata Washington ke Seoul dan Tokyo sebagai pembenaran atas upaya Pyongyang dalam mengejar program nuklirnya, dan menggambarkannya sebagai "jaminan keamanan yang kuat untuk stabilitas dan perdamaian regional".
"Tidak peduli seberapa keras AS, Jepang, dan Korea Selatan berdebat, mereka tidak akan pernah mengubah posisi Korea Utara saat ini sebagai negara pemilik senjata nuklir," kata pejabat itu, merujuk pada Korea Selatan dengan akronim nama resminya.
Korea Utara telah mempercepat program senjata nuklirnya sejak pembicaraan dengan Washington gagal pada tahun 2019, ketika pertemuan puncak antara Kim dan Presiden AS Donald Trump di Hanoi berakhir tanpa kesepakatan.
Dalam kemungkinan merujuk pada negosiasi yang gagal, juru bicara tersebut mengatakan "tidak ada yang dapat mengembalikan 'denuklirisasi' yang telah lama hilang dalam tren zaman".
Kim baru-baru ini menjamu Presiden Xi Jinping di Pyongyang, setelah pemimpin Tiongkok tersebut mengadakan pertemuan puncak berturut-turut di Beijing dengan Trump dan Putin.Â
Menurut laporan media resmi mereka, kedua belah pihak tidak menyebutkan sama sekali tentang denuklirisasi.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Pemerintah Kaji Rencana Pembelian 24 Pesawat Tempur Rafale dari Prancis
-
Menkeu Purbaya: Mundurnya Dirut BEI akan Ciptakan Sentimen Positif
-
Gaikindo: Industri Segmen Komersial Jadi Kunci Pertumbuhan Otomotif Tanah Air
-
Bawa Obat-obatan, Prajurit TNI Jalan Kaki Tembus Wilayah Terisolir di Aceh Tengah
-
Gerard Pique: Indonesia Punya Kans Besar Lolos ke Piala Dunia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.