Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Dampak Rupiah Rp18.000: Dari Pabrikan hingga Bengkel Otomotif Mulai Ketar-Ketir

📅 Rabu, 10 Jun 2026, 17:39 WIB | Oleh:
Dampak Rupiah Rp18.000: Dari Pabrikan hingga Bengkel Otomotif Mulai Ketar-Ketir Doc: ANTARA/Eric Ireng
Ket. ilustrasi seorang mekanik memeriksa salah satu bagian mobil di bengkel PT United Motors Centre (UMC) Suzuki, Surabaya.

JAKARTA - Meningkatnya nilai tukar dolar pada saat ini diproyeksikan memberikan tekanan terhadap industri otomotif nasional, seperti diutarakan pakar  industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Puwadi.

Agus menilai dampak terbesar akan dirasakan pada biaya produksi, margin industri, hingga harga kendaraan yang berpotensi mengalami kenaikan.

“Biaya produksi akan melonjak karena komponen dan bahan baku otomotif masih memiliki kandungan impor yang tinggi,” ujarnya dihubungi dari Jakarta, Rabu (10/6).

Menurut peneliti pusat penelitian multidisiplin teknologi terapan untuk sistem transportasi NCSTT ITB yang kerap meneliti perihal industri otomotif, termasuk mobil listrik dan ekosistemnya tersebut, mengatakan, industri otomotif Indonesia masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap komponen dan bahan baku impor.

Kondisi tersebut membuat meningkatnya nilai tukar dolar langsung berdampak pada kenaikan biaya operasional di lini perakitan kendaraan.

Selain meningkatkan biaya produksi, pelemahan kurs rupiah juga berpotensi menggerus margin industri. Agus menjelaskan, kenaikan harga barang impor akibat imported inflation akan menambah beban pelaku usaha otomotif.

Di sisi lain, kenaikan harga kendaraan dinilai tidak dapat dihindari. Hal itu karena harga komponen yang digunakan dalam proses produksi sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Akademisi gelar doktor Teknik Tenaga Listrik ITB itu memperkirakan tekanan terhadap industri otomotif akan semakin terasa dalam waktu dua hingga tiga bulan ke depan.

Khusus untuk kendaraan buatan dalam negeri, Agus menilai model yang masih memiliki kandungan impor tinggi akan menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Kondisi ini berpotensi menimbulkan polarisasi yang tajam di pasar otomotif.

Selain itu, ketidakpastian kurs juga membuat produsen menghadapi kesulitan dalam menyusun target produksi, menentukan harga jual, serta merancang strategi promosi.

Meski demikian, Agus menyebut pelaku industri yang tergabung dalam Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) relatif tetap optimistis. Mereka menilai kondisi ini tidak akan berlangsung lama sehingga tidak berdampak buruk terhadap industri otomotif dalam jangka panjang.

"Namun Gaikindo relatif cukup optimistis kondisi ini tidak akan berlangsung lama sehingga tidak berdampak buruk dalam jangka panjang," ia menambahkan. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Nasional
Polri Gelar Upacara Serah T...
Megapolitan
Gubernur DKI Cek Pelayanan ...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.