• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Diagnostik Presisi Berbasi...

Diagnostik Presisi Berbasis Genomik Dorong Penanganan Kanker yang Lebih Personal

Minggu, 07 Jun 2026, 23:30 WIB

JAKARTA – Upaya meningkatkan kualitas penanganan kanker di Indonesia terus diperkuat melalui pemanfaatan teknologi diagnostik yang lebih canggih. AstraZeneca Indonesia bersama Rumah Sakit Kanker Dharmais menjalin kolaborasi strategis untuk mengembangkan layanan diagnostik presisi berbasis teknologi Next-Generation Sequencing (NGS) bagi pasien kanker payudara, kanker paru, dan Leukemia Limfositik Kronis (Chronic Lymphocytic Leukemia/CLL).

Kolaborasi yang diumumkan pada 4 Juni 2026 tersebut dilatarbelakangi tingginya beban penyakit kanker di Indonesia. Setiap tahun tercatat lebih dari 408 ribu kasus baru kanker, dengan kanker payudara dan kanker paru menjadi dua jenis kanker yang paling banyak ditemukan. Selain jumlah kasus yang tinggi, tantangan penanganan kanker juga semakin kompleks karena karakteristik biologis penyakit dapat berbeda pada setiap pasien.

Ket. Foto: Dari kiri, dr. Feddy, Medical Director AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., M.M.R., QHIA, Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr. Eka Widya Khorinal, Sp.PD-KHOM, FINASIM pada Konferensi Media: Kolaborasi AstraZeneca Indonesia & RSK Dharmais pada hari Kamis (4/6). — Sumber: AstraZeneca Indonesia

Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, mengatakan bahwa penguatan ekosistem diagnostik menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan terapi yang tepat bagi pasien kanker.

Menurutnya, sebagai perusahaan biofarmasi berbasis sains, AstraZeneca tidak hanya berfokus pada pengembangan terapi inovatif, tetapi juga pada penguatan sistem diagnostik yang mampu membantu tenaga medis memahami karakteristik penyakit pasien secara lebih akurat.

“Melalui kolaborasi dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais dan pemanfaatan teknologi NGS sebagai alat diagnostik presisi, kami berharap dapat mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat, personal, dan berbasis bukti,” ujarnya melalui siaran pers pada hari Kamis (4/6).

Kolaborasi ini berfokus pada penguatan alur diagnostik kanker agar dokter memperoleh informasi biomarker yang lebih jelas sejak tahap awal pemeriksaan. Implementasi NGS dilakukan sebagai bagian dari layanan diagnostik presisi terpadu yang mencakup peningkatan kapasitas klinis dan diagnostik, optimalisasi proses pengujian, serta percepatan analisis biomarker genomik dan pelaporan hasil pemeriksaan.

Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr. Eniarti, M.Sc., Sp.KJ., M.M.R., QHIA, menilai penguatan kapasitas diagnostik menjadi kebutuhan penting di tengah tingginya angka kasus kanker payudara dan kanker paru di Indonesia.

“Dokter membutuhkan dukungan informasi klinis yang lebih baik untuk menentukan langkah penanganan yang lebih personal sesuai kondisi masing-masing pasien,” katanya.

Teknologi NGS memungkinkan pemetaan biomarker genomik secara komprehensif dari sampel jaringan maupun darah. Berbeda dengan pemeriksaan biomarker tunggal, teknologi ini mampu menganalisis banyak gen secara simultan sehingga menghasilkan informasi yang lebih lengkap mengenai profil molekuler kanker.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi medik, dr. Eka Widya Khorinal, Sp.PD-KHOM, FINASIM, menjelaskan bahwa NGS memungkinkan pemeriksaan berbagai biomarker genomik dalam satu kali pengujian.

Dengan data molekuler yang lebih komprehensif, dokter dapat memahami karakteristik penyakit pasien secara lebih mendalam, mempercepat penyusunan strategi pengobatan, serta mendukung keputusan terapi yang lebih personal dan tepat sasaran.

Dalam implementasinya, pemeriksaan NGS akan digunakan untuk pasien kanker payudara tipe HR+/HER2-, kanker paru jenis Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) adenocarcinoma, serta CLL. Teknologi tersebut memungkinkan identifikasi hingga 45 jenis mutasi gen pada kanker payudara dan kanker paru, serta 23 jenis mutasi gen pada CLL.

Pada kasus kanker payudara HR+/HER2-, pemeriksaan ini dapat mengidentifikasi perubahan molekuler seperti mutasi pada gen PIK3CA, AKT, dan PTEN yang berperan dalam perkembangan penyakit. Informasi tersebut membantu dokter memahami karakteristik biologis tumor dan mempertimbangkan pilihan terapi yang sesuai dengan kondisi pasien.

Medical Director AstraZeneca Indonesia, dr. Feddy, mengatakan inovasi terapi akan memberikan manfaat yang lebih optimal apabila didukung sistem diagnostik yang kuat.

“NGS membantu menerjemahkan kemajuan sains menjadi dasar pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat sehingga pasien dapat diarahkan pada pendekatan terapi inovatif yang sesuai dengan karakteristik penyakitnya,” ujarnya.

Dari sisi klinis, pemanfaatan biomarker dinilai semakin penting karena kanker tidak bersifat seragam. Pasien dengan diagnosis kanker paru maupun kanker payudara yang sama dapat memiliki karakteristik molekuler yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan terapi yang berbeda pula.

Dokter spesialis paru konsultan onkologi, Dr. dr. Arif Riswahyudi Hanafi, Sp.P(K) Onk, menjelaskan bahwa pada kanker paru stadium lanjut, kecepatan memperoleh informasi biomarker menjadi faktor penting dalam menentukan arah penanganan pasien.

Menurutnya, pemeriksaan molekuler komprehensif seperti NGS dapat membantu dokter memahami karakteristik biologis penyakit secara lebih spesifik sehingga keputusan terapi dapat dibuat berdasarkan informasi yang lebih kuat dan presisi.

Pandangan serupa disampaikan dokter spesialis bedah onkologi, dr. Abdul Muhaimin Husein, M.Sc., Sp.B(K) Onk. Ia menegaskan bahwa kanker payudara bukanlah satu penyakit yang seragam karena setiap pasien memiliki karakteristik biologis dan respons terapi yang berbeda.

“Melalui pemeriksaan molekuler yang lebih komprehensif seperti NGS, dokter dapat mengidentifikasi berbagai perubahan gen yang berkaitan dengan kanker secara simultan sehingga keputusan klinis dapat dibuat lebih tepat dan sesuai dengan karakteristik masing-masing pasien,” katanya.

Keberhasilan pemeriksaan NGS juga ditentukan oleh kualitas proses laboratorium. Dokter spesialis patologi anatomi, dr. Grace Shalmont, Sp.PA, MPH, menegaskan bahwa kualitas dan kecukupan sampel menjadi faktor utama yang menentukan akurasi hasil pemeriksaan molekuler.

Sementara itu, dr. Christine Sugiarto, Sp.PK(K), Subsp. Onk, menjelaskan bahwa akurasi NGS sangat bergantung pada standar kualitas di setiap tahapan laboratorium, mulai dari penerimaan sampel, ekstraksi materi genetik, proses sequencing, analisis bioinformatika, hingga penyusunan laporan hasil.

Melalui kolaborasi ini, AstraZeneca dan Rumah Sakit Kanker Dharmais berharap dapat memperkuat ekosistem precision oncology di Indonesia. Pengembangan layanan diagnostik berbasis NGS diharapkan tidak hanya mempercepat identifikasi karakteristik kanker pada pasien, tetapi juga memperluas akses terhadap layanan diagnostik modern yang mendukung terapi yang lebih personal, berbasis bukti, dan sesuai dengan agenda Transformasi Kesehatan Nasional.

  • kanker
  • Genomik
  • RS Kanker Dharmais
  • AstraZeneca Indonesia
  • Kanker Payudara
  • terapi kanker
  • kanker paru
  • leukemia limfositik kronis
  • CLL
  • NGS
  • Next Generation Sequencing
  • diagnostik presisi
  • precision medicine
  • precision oncology
  • biomarker

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.