Chwalinska Ukir Sejarah di Roland Garros, Jumpa Andreeva di Final Prancis Open

Jumat, 05 Jun 2026, 07:48 WIB

PARIS – Petenis Polandia Maja Chwalinska terus menciptakan kisah sensasional di Prancis Open 2026. Peringkat 114 dunia itu mencatat sejarah sebagai pemain kualifikasi pertama di era profesional yang berhasil menembus final Roland Garros setelah menyingkirkan Diana Shnaider di babak semifinal, Jumat (5/6) dini hari WIB.

Chwalinska mengalahkan unggulan ke-25 asal Rusia tersebut dengan skor 7-6 (7/4), 6-4 dan memastikan tiket ke partai puncak. Di final yang akan berlangsung hari Sabtu, ia akan menghadapi remaja Russia berusia 19 tahun, Mirra Andreeva, yang sebelumnya menundukkan Marta Kostyuk dua set langsung.

Ket. Foto: Maja Chwalinska. — Sumber: AFP

Jika berhasil mengalahkan Andreeva, Chwalinska akan menjadi petenis putri kedua dalam era Open yang mampu menjuarai Grand Slam setelah memulai turnamen dari babak kualifikasi. Sebelumnya, pencapaian serupa hanya dilakukan Emma Raducanu saat menjuarai US Open 2021.

“Saya seperti sedang bermimpi,” ujar Chwalinska sesaat setelah memastikan kemenangan di Court Philippe Chatrier.

Petenis berusia 24 tahun itu mengaku sulit mempercayai pencapaian yang diraihnya di Paris. Kemenangan atas Shnaider terasa semakin istimewa karena lawannya sehari sebelumnya baru saja menyingkirkan petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka.

“Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Saya bahkan tidak tahu harus mengatakan apa. Maaf, saya hanya sangat bahagia,” kata Chwalinska yang disambut tepuk tangan meriah para penonton.

Perjalanan Chwalinska menuju final terbilang luar biasa. Tampil untuk pertama kalinya di undian utama Roland Garros, ia telah memenangkan sembilan pertandingan dalam rentang tiga pekan, termasuk tiga laga babak kualifikasi.

Dalam perjalanannya menuju empat besar, Chwalinska menyingkirkan sejumlah nama besar seperti juara Olimpiade Zheng Qinwen, unggulan ke-23 Elise Mertens, mantan petenis nomor tiga dunia Maria Sakkari, wakil tuan rumah Diane Parry, serta unggulan ke-22 Anna Kalinskaya.

Berkat pencapaian ini, Chwalinska diproyeksikan melonjak ke peringkat tertinggi sepanjang kariernya, setidaknya ke posisi 21 dunia.

Meski demikian, kondisi fisiknya mulai terkuras setelah pertandingan semifinal yang berlangsung selama dua jam 10 menit.

“Ini sangat menantang karena setiap hari harus menghadapi pemain-pemain terbaik dunia. Tetapi ini Grand Slam, jadi Anda harus memberikan yang terbaik setiap hari,” ujarnya.

“Saya sama sekali tidak mengeluh.”

Sebelum tampil di Roland Garros tahun ini, Chwalinska hanya pernah memenangi satu pertandingan dari dua penampilan Grand Slam sebelumnya, yakni di Wimbledon 2022. Ia juga hanya mengoleksi dua kemenangan di level tur pada lapangan tanah liat.

Pada semifinal, Chwalinska merebut set pertama melalui tie-break yang ketat. Set kedua berlangsung seimbang hingga skor 4-3 ketika Shnaider meminta jeda medis untuk menjalani pijatan punggung. Setelah pertandingan dilanjutkan, Chwalinska langsung mengambil alih kendali dan menyapu tiga gim berikutnya untuk mengunci kemenangan.

“Saya sangat terkejut. Rasanya campur aduk antara bahagia dan tidak percaya,” kata Chwalinska saat mengenang momen ketika pukulan forehand-nya menghasilkan match point kemenangan.

“Saya merasa sangat emosional dan kewalahan.”

Di sisi lain, kekalahan tersebut mengakhiri penampilan terbaik Shnaider sepanjang kariernya di turnamen Grand Slam.

“Saya sangat bangga dengan apa yang saya capai di sini,” ujar petenis berusia 22 tahun itu.

“Chwalinska bermain luar biasa. Dia pantas memenangkan pertandingan ini dan berada di final.”

Sebelumnya, Mirra Andreeva memastikan tempat di final Grand Slam pertamanya setelah mengalahkan Marta Kostyuk dengan skor telak 6-1, 6-3 hanya dalam waktu 76 menit.

Kemenangan itu sekaligus menjadi ajang balas dendam bagi Andreeva. Ia sebelumnya dua kali kalah dari Kostyuk musim ini, termasuk pada final Madrid Open.

“Saya sangat fokus sampai-sampai bisa melihat bulu-bulu kecil pada bola,” ujar Andreeva sambil tersenyum.

“Saya sangat senang dengan cara bermain saya hari ini. Saya juga senang bisa membalas kekalahan di final Madrid dan akhirnya mencapai final Grand Slam pertama dalam karier saya.”

Sebaliknya, Kostyuk tampil jauh dari performa terbaiknya. Petenis Ukraina yang datang ke semifinal dengan modal 17 kemenangan beruntun di lapangan tanah liat itu melakukan 34 unforced error sepanjang pertandingan.

“Jelas ini bukan pertandingan terbaik saya,” katanya.

Meski gagal melangkah ke final, musim tanah liat tahun ini tetap menjadi terobosan besar bagi Kostyuk. Ia sukses meraih gelar di Rouen dan memenangkan trofi WTA 1000 pertamanya di Madrid.

Sementara itu, kemenangan atas Kostyuk membuat Andreeva mencatatkan 35 kemenangan sepanjang musim 2026, jumlah terbanyak di antara seluruh petenis putri di tur WTA sejauh ini.

Final Roland Garros pun akan menghadirkan duel menarik antara dua kisah berbeda: Chwalinska yang datang dari jalur kualifikasi dan menciptakan salah satu kejutan terbesar turnamen, melawan Andreeva, bintang muda yang tengah menjelma menjadi kekuatan baru tenis dunia.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.