Dukungan CAF untuk Infantino Belum Menjamin Kemenangan di Afrika
Jumat, 14 Agu 2026, 00:15 WIBCAPE TOWN â Dukungan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) kepada Gianni Infantino belum tentu menjamin seluruh 54 asosiasi sepak bola Afrika akan memberikan suara kepada Presiden FIFA tersebut dalam pemilihan tahun depan.
Infantino tengah menghadapi tekanan setelah rencana kontroversialnya untuk mengalihkan sebagian hak komersial Piala Dunia mendapat penolakan dari sejumlah konfederasi. Di tengah gejolak tersebut, CAF secara resmi menyatakan dukungannya terhadap Infantino.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa dukungan resmi CAF tidak selalu diikuti oleh para anggotanya ketika pemilihan presiden FIFA berlangsung.
Infantino sangat mengandalkan dukungan Afrika. Selama hampir satu dekade memimpin FIFA, pria berdarah Swiss-Italia tersebut secara signifikan meningkatkan dana hibah FIFA untuk asosiasi-asosiasi di benua Afrika.
Meski demikian, 54 anggota CAF belum tentu memberikan suara secara blok kepada Infantino ketika pemilihan berlangsung pada 17 Maret di Kongres FIFA di Maroko.
Afrika memiliki 54 suara dari total 211 anggota FIFA. Jumlah tersebut menjadikan benua itu sebagai salah satu kawasan paling menentukan dalam perebutan kursi presiden FIFA.
Namun, sejumlah catatan sejarah memperlihatkan bahwa asosiasi anggota CAF kerap mengabaikan arahan organisasi induknya.
Pada pemilihan presiden FIFA 1998, CAF bersekutu dengan UEFA untuk mendukung Lennart Johansson. Namun, mayoritas asosiasi Afrika justru memberikan suara kepada pesaingnya, Sepp Blatter, yang akhirnya memenangkan pemilihan.
Empat tahun kemudian, ketika Presiden CAF saat itu, Issa Hayatou, menantang Blatter, tokoh Swiss tersebut kembali meraih kemenangan telak. Mayoritas negara Afrika memilih Blatter meski Hayatou merupakan kandidat dari benua mereka sendiri.
Situasi serupa kembali terjadi pada 2016. CAF mendukung Sheikh Salman Bin Ibrahim Al Khalifa dari Bahrain sebagai kandidat presiden FIFA. Namun, sejumlah asosiasi Afrika justru membantu Infantino memenangkan putaran kedua dan mengantarkannya ke kursi tertinggi FIFA.
Afrika juga pernah berbeda sikap dengan CAF dalam pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2026.
CAF secara resmi mendukung pencalonan Maroko. Namun, 11 negara Afrika memilih tawaran bersama Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat pada Kongres FIFA di Moskow pada 2018.
Perbedaan tersebut terutama dipengaruhi persoalan Sahara Barat. Maroko menganggap wilayah tersebut sebagai bagian dari negaranya, sementara Front Polisario memperjuangkan pembentukan negara merdeka Republik Sahrawi yang diakui sejumlah negara Afrika.
Untuk saat ini, dukungan Afrika terhadap Infantino masih terlihat kuat. Namun, situasi tersebut dapat berubah jika pemberontakan terbuka terhadap kepemimpinannya semakin meluas.
Hal itu terungkap dari wawancara dengan sejumlah pemimpin asosiasi sepak bola Afrika dalam beberapa hari terakhir.
Seluruh asosiasi Afrika sebelumnya mengirimkan surat dukungan terhadap ambisi Infantino untuk kembali memimpin FIFA pada Kongres FIFA di Vancouver, April lalu.
Namun, dukungan tersebut diberikan sebelum munculnya laporan mengenai rencana Infantino menjual sebagian kepemilikan hak komersial Piala Dunia mendatang.
Rencana tersebut memicu kemarahan dari UEFA, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), serta CONCACAF, konfederasi yang menaungi sepak bola di kawasan Karibia, Amerika Utara, dan Amerika Tengah.
Sejumlah presiden asosiasi sepak bola Afrika mengaku terkejut melihat kuatnya reaksi terhadap Infantino. Namun, mereka memilih tidak menyampaikan pandangan secara terbuka dan menunggu apakah akan muncul kandidat yang siap menantang Infantino pada pemilihan Maret mendatang.
Meski belum ada jaminan dukungan secara keseluruhan, beberapa negara Afrika telah menyatakan dukungan secara terbuka kepada Infantino.
Republik Demokratik Kongo, Mesir, Mauritania, Maroko, dan Niger termasuk negara yang memberikan dukungan formal dalam sepekan terakhir. Sejumlah asosiasi lainnya juga telah menyatakan sikap serupa.
âSaya tidak melihat alasan untuk tidak mendukungnya,â kata Mathurin de Chacus, Presiden Federasi Sepak Bola Benin sekaligus anggota Komite Eksekutif CAF.
Presiden Federasi Sepak Bola Burundi Alexandre Muyenge juga menyatakan dukungannya.
âDia adalah presiden yang melakukan apa yang diperlukan untuk mendukung Afrika, khususnya negara-negara yang kurang makmur. Rekornya bagus, jadi logis untuk mendukungnya,â ujar Muyenge.
Infantino sejauh ini selalu terpilih tanpa lawan dalam dua pemilihan terakhir, yakni pada 2019 dan 2023.
Namun, situasinya berpotensi berbeda pada pemilihan berikutnya. Kandidat yang ingin menantangnya harus menyerahkan pencalonan paling lambat 18 November.
Statuta FIFA menetapkan bahwa kandidat membutuhkan mayoritas sederhana, yakni sedikitnya 106 suara, jika pemilihan hanya diikuti dua kandidat.
Dengan total 211 asosiasi anggota, setiap negara memiliki satu suara dalam pemilihan presiden FIFA.
Sementara itu, enam konfederasi kontinental, termasuk CAF, tidak memiliki hak suara langsung dalam pemilihan presiden FIFA. Namun, masing-masing presiden konfederasi secara otomatis menjadi anggota Dewan FIFA dengan status wakil presiden.
Karena itu, dukungan CAF terhadap Infantino memang menjadi modal politik penting. Namun, sejarah menunjukkan bahwa suara 54 anggota Afrika tetap berada di tangan masing-masing asosiasi.
Jika tekanan terhadap Infantino terus meningkat dan muncul kandidat kuat untuk menantangnya, dukungan yang saat ini terlihat solid di Afrika bukan tidak mungkin mulai terpecah.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
Berita Terkait:
-
Ilmuwan Ungkap Jutaan Spesies Serangga di Bumi Belum Teridentifikasi.
-
Kemendukbangga: Tren Usia Menikah Semakin Matang
-
Iran Nyatakan Penjualan Minyak Lebih Mudah usai Kesepakatan dengan AS
-
KPK Sita Uang Ratusan Juta Rupiah pada OTT Bupati Langkat
-
Polri Bekukan Aktivitas di Kafe dan Money Changer Usai Penggeledahan Kasus Dugaan Korupsi dan TPPU.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.