Ratu Para Dewa yang Menjelajah Tata Surya
Kamis, 04 Jun 2026, 07:19 WIBJuno sang Ratu Para Dewa, bukan hanya digunakan sebagai nama bulan. Dunia astronomi juga menggunakan nama ini untuk memberi nama sebuah asteroid terbesar di Tata Surya dan juga nama untuk wahana antariksa NASA yang dikirim untuk mengungkap misteri planet terbesar, Jupiter.
Istri sekaligus saudari Jupiter ini dikenal sebagai pelindung perempuan, keluarga, dan negara. Kedudukannya begitu penting sehingga namanya diabadikan dalam berbagai aspek kehidupan Romawi, termasuk dalam penanggalan. Bulan Juni dipercaya mengambil nama dari sang dewi.
Berabad-abad kemudian, ketika manusia mulai menemukan benda-benda langit baru di luar planet-planet yang telah dikenal sejak zaman kuno, para astronom kembali menoleh pada khazanah mitologi klasik untuk mencari nama yang sesuai.
Ceritanya bermula pada malam 1 September 1804. Saat itu astronom Jerman Karl Ludwig Harding menemukan sebuah objek kecil yang bergerak di antara orbit Mars dan Jupiter. Objek itu kemudian diberi nama 3 Juno, mengikuti tradisi penamaan asteroid dengan nama dewa dan dewi Romawi.
Angka â3â menunjukkan bahwa Juno adalah asteroid ketiga yang pernah ditemukan manusia, setelah asteroid Ceres dan Pallas. Benda ini pada mulanya dianggap sebagai planet, ia telah diklasifikasikan semula sebagai asteroid dan planet kecil semasa tahun 1850-an.
Saat itu, penemuan asteroid masih merupakan sesuatu yang baru. Juno menjadi salah satu anggota generasi pertama benda langit yang ditemukan di kawasan yang kini dikenal sebagai Sabuk Asteroid Utama. Meski ukurannya lebih kecil dibandingkan Ceres, Pallas, dan Vesta, Juno tetap tercatat sebagai asteroid terbesar keempat yang diketahui hingga saat ini.
Penamaan itu tampak sederhana. Namun tanpa disadari, nama Juno kelak akan kembali muncul dalam salah satu misi antariksa paling ambisius abad ke-21.
Selama berabad-abad, manusia hanya dapat mengamati Jupiter dari kejauhan. Planet raksasa itu terlihat megah melalui teleskop, tetapi bagian dalamnya tetap tersembunyi di balik lapisan awan tebal yang berputar tanpa henti.
Dalam salah satu kisah Romawi kuno, Jupiter digambarkan menyembunyikan dirinya di balik selubung awan. Hanya Juno yang mampu melihat menembus awan tersebut dan mengetahui apa yang sebenarnya Âterjadi. hay
Redaktur: Haryo Brono
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Monas Didatangi Ribuan Wisatawan Lokal dan Luar Negeri saat Libur Paskah
-
Menilik Pesan Bung Karno untuk Planetarium Jakarta: 75 Persen Edukasi, Bukan Cuma Hiburan
-
Hezbollah Tembakkan Rudal Balistik Scud Pertama pada Pangkalan Antariksa Utama Israel
-
Observatorium Bosscha Siapkan Infrastruktur dan SDM Dukung Kunjungan untuk Umum, Simak Jadwal Hari dan Waktu Pembukaannya!
-
Amad Diallo Dukung Carrick Jadi Pelatih Permanen Manchester United: “Dia Punya DNA Klub”
-
Lestari Moerdijat: Merebaknya Kasus Campak Harus Jadi Alarm untuk Bangun Kesadaran Pola Hidup Sehat Masyarakat
-
BP Tapera Cetak Rekor Penyaluran Rumah Subsidi 2025: Hampir 280 Ribu Unit Tersalur
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.