• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Ratu Para Dewa yang Menjel...

Ratu Para Dewa yang Menjelajah Tata Surya

Kamis, 04 Jun 2026, 07:19 WIB

Juno sang Ratu Para Dewa, bukan hanya digunakan sebagai nama bulan.  Dunia astronomi juga menggunakan nama ini untuk memberi nama sebuah asteroid terbesar di Tata Surya dan juga nama untuk wahana antariksa NASA yang dikirim untuk mengungkap misteri planet terbesar, Jupiter.

Istri sekaligus saudari Jupiter ini dikenal sebagai pelindung perempuan, keluarga, dan negara. Kedudukannya begitu penting sehingga namanya diabadikan dalam berbagai aspek kehidupan Romawi, termasuk dalam penanggalan. Bulan Juni dipercaya mengambil nama dari sang dewi.

Ket. Foto: Relief Romawi yang terfragmentasi, menggambarkan tiga angsa yang gelisah di depan sebuah kuil Ionia, yang diduga dimaksudkan untuk mewakili kuil Juno Moneta di bukit Capitoline di Roma. — Sumber: Foto : Wikimedia Commons

Berabad-abad kemudian, ketika manusia mulai menemukan benda-benda langit baru di luar planet-planet yang telah dikenal sejak zaman kuno, para astronom kembali menoleh pada khazanah mitologi klasik untuk mencari nama yang sesuai.

Ceritanya bermula pada malam 1 September 1804. Saat itu astronom Jerman Karl Ludwig Harding menemukan sebuah objek kecil yang bergerak di antara orbit Mars dan Jupiter. Objek itu kemudian diberi nama 3 Juno, mengikuti tradisi penamaan asteroid dengan nama dewa dan dewi Romawi.

Angka “3” menunjukkan bahwa Juno adalah asteroid ketiga yang pernah ditemukan manusia, setelah asteroid Ceres dan Pallas. Benda ini pada mulanya dianggap sebagai planet, ia telah diklasifikasikan semula sebagai asteroid dan planet kecil semasa tahun 1850-an.

Saat itu, penemuan asteroid masih merupakan sesuatu yang baru. Juno menjadi salah satu anggota generasi pertama benda langit yang ditemukan di kawasan yang kini dikenal sebagai Sabuk Asteroid Utama. Meski ukurannya lebih kecil dibandingkan Ceres, Pallas, dan Vesta, Juno tetap tercatat sebagai asteroid terbesar keempat yang diketahui hingga saat ini.

Penamaan itu tampak sederhana. Namun tanpa disadari, nama Juno kelak akan kembali muncul dalam salah satu misi antariksa paling ambisius abad ke-21.

Selama berabad-abad, manusia hanya dapat mengamati Jupiter dari kejauhan. Planet raksasa itu terlihat megah melalui teleskop, tetapi bagian dalamnya tetap tersembunyi di balik lapisan awan tebal yang berputar tanpa henti.

Dalam salah satu kisah Romawi kuno, Jupiter digambarkan menyembunyikan dirinya di balik selubung awan. Hanya Juno yang mampu melihat menembus awan tersebut dan mengetahui apa yang sebenarnya ­terjadi. hay

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.