- Home
-
- Megapolitan
-
- Menilik Pesan Bung Karno u...
Menilik Pesan Bung Karno untuk Planetarium Jakarta: 75 Persen Edukasi, Bukan Cuma Hiburan
Kamis, 05 Feb 2026, 10:50 WIBJAKARTA - Reaktivasi Planetarium Jakarta oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendapat sambutan positif dari masyarakat. Namun di balik antusiasme tersebut, muncul berbagai masukan kritis terkait substansi pertunjukan yang dinilai belum mencerminkan esensi planetarium sebagai pusat edukasi sains.
Sejumlah masukan datang dari publik hingga mantan pekerja Planetarium Jakarta. Mereka menilai konsep pertunjukan saat ini masih terlalu menitikberatkan pada pemutaran video dan efek visual.
Mantan pekerja Planetarium Jakarta, Ron Aldebaran, menyebut pertunjukan yang disajikan belum sesuai dengan standar planetarium sesungguhnya. Menurutnya, planetarium bukan sekadar ruang hiburan berbasis audiovisual.
"Planetarium bukan sekadar pemutaran video. Live naration oleh pakar astronomi adalah kunci utama," ujar Ron, beberapa waktu lalu.
Ron menjelaskan, informasi astronomi bersifat dinamis dan terus berkembang seiring temuan ilmiah terbaru. Karena itu, penyampaian materi harus dilakukan secara langsung oleh narator yang memahami perkembangan ilmu astronomi.
Ia merujuk pada standar International Planetarium Society (IPS) yang menegaskan bahwa sajian utama planetarium adalah simulasi langit malam dan fenomena benda langit secara langsung. Pendekatan ini dinilai mampu memberikan pengalaman belajar yang autentik kepada pengunjung.
"Sementara video dan efek visual hanyalah pelengkap," tutur Ron.
Ron juga mengingatkan kembali tujuan awal pembangunan Planetarium Jakarta pada era Presiden Soekarno. Saat itu, planetarium dirancang sebagai sarana edukasi publik untuk meluruskan misinformasi dan kepercayaan tahayul terkait fenomena langit.
Pendekatan edukasi tersebut, kata Ron, dikemas dalam suasana belajar kolektif yang menyenangkan. Planetarium diharapkan menjadi ruang literasi sains yang inklusif bagi masyarakat luas.
"Karena itu, porsi pertunjukan idealnya 75 persen edukasi dan 25 persen hiburan. Bukan sebaliknya," tambah Ron.
Masukan dari para mantan pekerja Planetarium tersebut mendapat dukungan dari DPRD DKI Jakarta. Sekretaris Komisi E DPRD DKI Jakarta, Justin Adrian, menyatakan mendukung evaluasi dan penyempurnaan konsep pertunjukan.
Justin berharap pengelola baru Planetarium Jakarta melibatkan pakar astronomi serta teknisi yang kompeten. Menurutnya, keterlibatan tenaga ahli penting untuk menjaga akurasi dan kualitas informasi yang disampaikan kepada publik.
"Planetarium adalah pusat edukasi sains, bukan sekadar atraksi visual," kata politisi PSI itu.
Ia menegaskan, reaktivasi Planetarium Jakarta seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan fungsi utama lembaga tersebut. Edukasi berbasis sains dinilai harus menjadi prioritas utama dibandingkan aspek hiburan semata.
Presiden Soekarno memang mencanangkan pembangunan Planetarium Jakarta pada tahun 1964 dengan visi besar untuk membawa bangsa Indonesia "melek" sains dan meninggalkan takhayul.
- Edukasi
- DPRD DKI Jakarta
- Pemprov DKI Jakarta
- Taman Ismail Marzuki (TIM)
- Astronomi
- Taman Ismail marzuki
- Planetarium
- Planetarium Jakarta
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Progres LRT Jakarta Velodrome–Manggarai 97,9 Persen, Siap Operasi Akhir Agustus
-
Tak Hanya Bangun Fisik! TMMD ke-129 Kodim Sukoharjo Edukasi Kesehatan dan Salurkan Sembako
-
Lantik 1.500 Pengurus FUHAB, Gubernur Pramono Tekankan Pentingnya Toleransi
-
Arah Kebijakan MUI DKI 2025–2030 Resmi Didukung Pemprov DKI Jakarta
-
FIFA ASEAN Cup 2026: Pemprov DKI Siapkan Lapangan Soemantri dan Banteng
-
Normalisasi Kali Cakung Lama Ditarget Selesai 2028, Diproyeksi Redam Banjir 20 Persen
-
Dorong Ekonomi Lokal, Warga Rokan Hilir Dilatih Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin dan Sabun
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.