Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menkes: 70 Juta Orang Terkena Sakit Hati Kronis

📅 Rabu, 03 Jun 2026, 03:17 WIB | Oleh: Tim Penulis
Menkes: 70 Juta Orang Terkena Sakit Hati Kronis Doc: Antara
Ket. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menargetkan lebih banyak rumah sakit di 34 provinsi dapat melakukan transplantasi hati dengan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) sebesar 90 persen. Hal tersebut seiring adanya sekitar 70 juta orang yang terkena penyakit hati kronis.

“Banyak orang-orang Indonesia yang ditransplant, yang terkena, kemudian akhirnya ke luar negeri. Karena saya juga baru tahu, bahwa yang bisa transplant hati itu baru 2 kota, 4 rumah sakit,” kata Budi di Jakarta, Selasa (2/6).

Dia menyebutkan prevalensi sakit hati atau liver lebih tinggi dibandingkan HIV maupun tuberkulosis (TBC). Secara global, ada 300 juta orang yang memiliki penyakit hati, dan tiap tahunnya dua juta orang meninggal karena penyakit itu.

Budi menyebutkan, di Indonesia, ada sekitar 70 juta orang yang terkena penyakit hati kronis. Klaim Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atas penanganan penyakit hati masih rendah, yakni sekitar 1 triliun rupiah, karena layanan-layanan terkait belum termasuk dalam daftar layanan yang dibayarkan BPJS Kesehatan.

“Misalnya kayak transplant hati. Jadi hati itu kalau udah rusak, salah satu caranya harus ditransplant,” katanya.

Diamenugaskan Rumah Sakit Fatmawati untuk melakukan pengampuan agar 34 provinsi bisa melakukan prosedur tersebut.

Dalam kesempatan itu, Menkes menyebutkan masalah harga obat di Indonesia juga perlu diselesaikan, serta skrining hati di fasilitas kesehatan tingkat pertama, guna memperkuat tata laksana penyakit hati.

Pola Makan

Pada momen Hari Kesehatan Hati Sedunia 2026, Budi mengatakan hati adalah organ yang unik dan hebat. Dia menyebutkan, seperti hati kiasan yang bisa bahagia setelah merasakan kesal atau sakit hati, liver dapat tumbuh setelah dipotong.

Dengan kemampuan regenerasi sedemikian rupa, katanya, seharusnya potensi selamat dari penyakit itu lebih tinggi.

Untuk menjaga kesehatan hati dan mencegah dari penyakit, katanya, perlu memastikan pola makan yang sehat, banyak bergerak agar tidak obesitas, karena apabila obesitas dapat terjadi fatty liver, dan dapat berujung kanker. Dia mengingatkan bahwa perburukan hati dapat terjadi akibat virus hepatitis B dan C, konsumsi alkohol, serta obesitas.

Menkes Budi Gunadi Sadikin juga mengatakan, melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG), pihaknya mengejar target skrining 90 persen orang dengan hepatitis B dan C yang ditetapkan WHO, sebagai upaya mencegah penyakit hati dan kanker.

“Targetnya 90 persen, sekarang realisasi baru 10. Yang di-treatment targetnya 80 persen, yang direalisasi mungkin nggak tahu 5 atau 3 persen atau 1 persen,” kata Budi.

Oleh karena itu, katanya, pihaknya menggalakkan CKG agar dapat mencakup 136 juta orang pada 2026, dari yang sebelumnya 70 juta pada 2025. Dengan CKG yang agresif, katanya, penyakit hati, baik yang disebabkan virus hepatitis B dan C, konsumsi alkohol, maupun obesitas, dapat segera ditemukan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Megapolitan
Pelatihan pembuatan roti da...
Daerah
Gunung Lewotobi Laki-Laki A...
Rona
Pemusatan latihan Gita Baha...

Kejuaraan Seluncur Es Terbuka Asia 2026

21 menit yang lalu | Wahyu AP

Olahraga
Kejuaraan Seluncur Es Terbu...

Realisasi PNBP Sumatera Selatan

26 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Realisasi PNBP Sumatera Sel...

Optimalisasi pengelolaan sampah TPS 3R

27 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Optimalisasi pengelolaan sa...

Bau Badan Menyengat, Seorang Penumpang Transjakarta Diturunkan di Kampung Melayu, Manusiawikah?

Bau Badan Menyengat, Seorang Penumpang Transjakarta Diturunkan di Kampung Melayu, Manusiawikah?

04 Aug 2026
Pilihan Pembaca
# 6
# 6
Defisit Migas Tekan Neraca Perdagangan
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.