Arteta vs Luis Enrique: Sahabat Lama, Rival di Final Liga Champions

Jumat, 29 Mei 2026, 06:00 WIB

BUDAPEST — Final Liga Champions antara Arsenal melawan Paris Saint-Germain di Budapest akhir pekan ini tak hanya mempertemukan dua raksasa Eropa, tetapi juga dua pelatih dengan akar, filosofi, dan obsesi yang sama: Mikel Arteta dan Luis Enrique.

Keduanya pernah berbagi ruang ganti di Barcelona dan sama-sama tumbuh di bawah pengaruh besar Pep Guardiola. Kini, persahabatan lama itu berubah menjadi rivalitas di panggung terbesar sepak bola Eropa.

Ket. Foto: Mikel Arteta. — Sumber: AFP

“Pep menjadi referensi bagi semua orang yang ingin memainkan sepak bola dengan cara tertentu,” kata Luis Enrique, yang mengikuti jejak Guardiola sebagai pelatih Barcelona.

Arteta juga berkali-kali mengakui Guardiola sebagai sosok yang membantunya memahami dunia kepelatihan. Selama tiga tahun, ia menjadi asisten Guardiola di Manchester City sebelum memulai kariernya sendiri sebagai pelatih kepala.

Ketiganya sempat berada di Barcelona pada pergantian milenium. Namun jalan Arteta menuju tim utama tertutup karena ketatnya persaingan di lini tengah.

Saat itu, Barcelona memiliki Guardiola dan Luis Enrique, sementara generasi muda seperti Xavi Hernandez dan Andres Iniesta mulai muncul dari akademi La Masia. Kedatangan Emmanuel Petit dari Arsenal semakin mempersempit peluang Arteta.

Pada 2001, Arteta akhirnya dipinjamkan ke PSG, keputusan yang mengubah hidupnya.

“Itu sangat menakutkan bagi saya dan keluarga saya,” ujar Arteta dalam wawancara dengan situs resmi Arsenal.

Selama 18 bulan di Paris, Arteta tampil dalam 53 pertandingan dan sekamar dengan bek tangguh Gabriel Heinze yang kini menjadi staf kepelatihannya di Arsenal.

“Itu pengalaman yang akan selalu saya ingat. Rekan-rekan di sana membentuk saya sebagai pemain dan memunculkan keinginan untuk menjadi pelatih,” katanya.

Setelah meninggalkan PSG, Arteta melanjutkan karier bersama Rangers, Everton, dan Arsenal. Meski karier bermain dan kepelatihan Luis Enrique sejauh ini lebih gemilang, final di Budapest memberi peluang bagi Arteta untuk mulai menyamai pencapaian seniornya itu.

“Mikelito Arteta… saya sangat menyayanginya,” ujar Luis Enrique.

PSG asuhan Luis Enrique dikenal lebih atraktif dan ofensif dibanding Arsenal yang lebih mengandalkan kontrol permainan dan soliditas pertahanan.

Sebagian pihak menilai penggunaan julukan “Mikelito” oleh Luis Enrique sebagai permainan psikologis menjelang final, mengingat itu merupakan panggilan lamanya kepada Arteta sejak 25 tahun lalu.

Musim lalu, Luis Enrique sukses menyingkirkan Arsenal pada semifinal Liga Champions.

Obsesi Membawa Klub ke Puncak

Sebagai pelatih, Arteta dan Luis Enrique memiliki kesamaan lain: mereka datang ke klub yang haus sukses dan membangun ulang fondasi tim.

PSG memang mendominasi kompetisi domestik Prancis selama bertahun-tahun, tetapi selalu gagal mewujudkan ambisi menjuarai Liga Champions hingga Luis Enrique datang.

Dengan skuad muda yang lapar gelar, PSG tampil luar biasa dan menghancurkan Inter Milan di final musim lalu untuk meraih trofi Liga Champions pertama mereka.

“Dia pelatih fantastis, pelatih terbaik di dunia, sekaligus pribadi yang luar biasa,” kata Presiden PSG Nasser Al-Khelaifi.

Itu menjadi gelar Liga Champions kedua Luis Enrique setelah sebelumnya membawa Barcelona juara pada 2015.

Arteta sendiri memuji “aura” yang dimiliki kompatriotnya itu.

“Cara dia menyampaikan pesan, keyakinannya terhadap apa yang dilakukan, dan bagaimana dia tetap teguh pada prinsipnya adalah kekuatan luar biasa,” kata Arteta kepada UEFA.

Mantan gelandang PSG David Beckham bahkan mengungkap bahwa Nasser Al-Khelaifi pernah bercerita Luis Enrique hampir tidur setiap malam di pusat latihan PSG pada musim pertamanya karena terlalu terobsesi membangun tim.

Dedikasi serupa juga terlihat pada Arteta.

Sejak ditunjuk menangani Arsenal pada Desember 2019 ketika klub berada di posisi ke-10 Liga Inggris, Arteta perlahan membangkitkan kembali kejayaan The Gunners.

Musim ini, Arsenal akhirnya mengakhiri penantian 22 tahun untuk meraih gelar liga dan kembali tampil di final Liga Champions setelah absen selama dua dekade.

Arteta membangun tim dengan mengandalkan pemain muda dan menyingkirkan nama-nama besar yang tidak sesuai dengan budaya yang ingin ia ciptakan — pendekatan yang mirip dengan Luis Enrique di PSG.

“Kami terus menggali dan menggali karena suatu hari emas itu akan ditemukan,” ujar Arteta di awal musim.

Jika PSG mengandalkan permainan menyerang penuh kreativitas, Arsenal lebih banyak membangun kemenangan lewat pertahanan kokoh dan kontrol permainan. Namun keduanya sama-sama percaya pada penguasaan bola dan struktur posisi.

“Anda bisa melihat Mikel Arteta adalah seorang pemimpin yang menanamkan mentalitas juara,” puji Luis Enrique.

Musim ini Arteta telah berhasil menggulingkan Guardiola di kompetisi domestik Inggris. Kini, ia menghadapi maestro lini tengah Barcelona lainnya yang sedang memburu gelar Liga Champions ketiga dalam karier kepelatihannya.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.