- Home
-
- Luar Negeri
-
- Krisis Ceuta Mengguncang E...
Krisis Ceuta Mengguncang Eropa, Italia Tutup Jalur Bebas Schengen dengan Spanyol
Sabtu, 01 Agu 2026, 18:37 WIBROMA - Krisis migrasi yang mengguncang wilayah kantong Spanyol di Ceuta kini mulai memicu efek domino di Eropa. Italia resmi mengumumkan penangguhan sementara pengaturan perjalanan bebas Schengen dengan Spanyol selama satu bulan. Langkah ini diambil setelah puluhan ribu migran menyeberang dari Maroko menuju Ceuta dalam waktu singkat, memicu kekhawatiran baru mengenai keamanan perbatasan Uni Eropa.Â
Dari The Guardian, Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, menyebut keputusan tersebut sebagai "langkah luar biasa" yang diperlukan untuk melindungi keamanan nasional. Namun, pemerintah Italia menegaskan bahwa kebijakan ini bukan berarti Spanyol dikeluarkan dari kawasan Schengen.
Yang berubah adalah penerapan pemeriksaan identitas secara selektif terhadap warga negara non-Uni Eropa yang tiba dari Spanyol melalui jalur udara maupun laut. Warga Spanyol dan warga negara Uni Eropa tetap dapat bepergian, meski kemungkinan menghadapi pemeriksaan dokumen yang lebih ketat dibanding biasanya.Â
Meski Italia tidak memiliki perbatasan darat langsung dengan Spanyol, Roma juga berkoordinasi dengan Prancis untuk memperketat pengawasan di perbatasan PrancisâItalia guna mencegah perpindahan migran tidak berdokumen ke wilayah Italia.Â
Keputusan ini merupakan dampak langsung dari krisis migrasi di Ceuta. Dalam beberapa hari terakhir, sekitar 50.000 hingga 60.000 orang dilaporkan menyeberang dari Maroko ke wilayah Spanyol tersebut. Pemerintah Spanyol kemudian mengerahkan aparat keamanan dan militer untuk mengendalikan situasi, sementara puluhan ribu migran akhirnya kembali ke Maroko. Namun, insiden tersebut juga menelan korban jiwa, dengan sedikitnya 57 orang dilaporkan meninggal saat mencoba melakukan penyeberangan berbahaya itu.Â
Langkah Italia memicu perdebatan di dalam Uni Eropa. Sejumlah negara mendukung perlunya pengawasan yang lebih ketat terhadap perbatasan internal Schengen, sementara pihak lain menilai keputusan Roma lebih bersifat simbolis dan berpotensi memperuncing ketegangan politik di dalam blok tersebut.
Kelompok oposisi di Italia bahkan menuduh pemerintahan Meloni memanfaatkan krisis Ceuta untuk kepentingan politik domestik. Mereka berpendapat tidak ada bukti bahwa gelombang migran tersebut memang berniat menuju Italia, sehingga kebijakan itu dinilai lebih sebagai pesan politik daripada solusi nyata terhadap persoalan migrasi.Â
Meski demikian, berdasarkan aturan Schengen, negara anggota memang diperbolehkan mengembalikan kontrol perbatasan internal secara sementara apabila menghadapi ancaman serius terhadap keamanan atau ketertiban umum. Kebijakan seperti ini harus bersifat sementara, proporsional, dan diberitahukan kepada Komisi Eropa sesuai ketentuan Schengen Borders Code.Â
Keputusan Italia menjadi sinyal bahwa krisis di Ceuta bukan lagi sekadar persoalan Spanyol dan Maroko. Gelombang migrasi tersebut kini telah berkembang menjadi isu yang mengguncang solidaritas Uni Eropa dan kembali memunculkan pertanyaan besar mengenai masa depan kawasan Schengen di tengah meningkatnya tekanan migrasi ke Benua Biru.
- Krisis Ceuta
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.