- Home
-
- Luar Negeri
-
- Korban Tewas Krisis Imigra...
Korban Tewas Krisis Imigran Ceuta Tembus 67 Orang, Spanyol Kritik Solidaritas Uni Eropa dan Bangun Penghalang di Laut
Sabtu, 01 Agu 2026, 17:45 WIBCEUTA - Krisis migrasi yang mengguncang perbatasan Spanyol dan Maroko di wilayah kantong Ceuta terus memakan korban. Pemerintah Spanyol mengonfirmasi jumlah korban tewas kini telah mencapai 67 orang, setelah gelombang besar migran berusaha memasuki wilayah Spanyol dalam beberapa hari terakhir.
Dari The Guardian, sebagai respons, Madrid mengumumkan langkah pengamanan baru dengan membangun penghalang yang membentang dari pemecah gelombang hingga ke laut. Infrastruktur tersebut dirancang untuk mencegah penyeberangan ilegal setelah puluhan ribu migran nekat memasuki Ceuta dari wilayah Maroko.
Di lapangan, aparat kepolisian dan militer Spanyol terus berjaga di sepanjang perbatasan. Ribuan migran yang sempat masuk ke Ceuta dikawal menuju perbatasan untuk dipulangkan ke Maroko.
Menteri Luar Negeri Spanyol, José Albares, menyatakan bahwa hampir seluruh migran yang berhasil memasuki Ceuta kini telah kembali ke Maroko. Melalui akun X, Albares juga menegaskan bahwa tidak ada akses bebas dari Ceuta maupun Melilla menuju daratan utama Spanyol tanpa pemeriksaan identitas oleh polisi. Menurutnya, integritas kawasan Schengen tetap aman dan terkendali.
Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez melontarkan kritik keras kepada sejumlah negara anggota Uni Eropa. Ia menilai respons beberapa negara terhadap krisis di Ceuta bersifat egois, memecah belah, bahkan bertentangan dengan semangat solidaritas Eropa.
Dalam surat yang dikirim kepada otoritas Uni Eropa di Brussels, Sánchez menuding beberapa negara justru memilih menyerang kebijakan Spanyol dengan mengusulkan pengecualian sementara terhadap aturan Schengen. Menurutnya, sikap tersebut didorong oleh prasangka, informasi yang keliru, kepentingan politik, serta bertentangan dengan hukum Eropa dan prinsip-prinsip kemanusiaan.
Sánchez menegaskan bahwa dalam waktu kurang dari 48 jam, pemerintahnya berhasil memulihkan kendali penuh atas perbatasan Ceuta. Selain memberikan bantuan kemanusiaan kepada para migran, Spanyol juga telah memulangkan hampir seluruh pendatang ilegal serta mencegah mereka bergerak menuju daratan Eropa.
Ia menambahkan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari koordinasi intensif dengan pemerintah Maroko, meskipun menurutnya dukungan dari negara-negara Uni Eropa lainnya masih sangat terbatas.
Karena itu, Sánchez mendesak agar para menteri dalam negeri Uni Eropa segera menggelar pertemuan darurat untuk membahas penanganan krisis migrasi yang semakin mengkhawatirkan.
Di sisi lain, laporan media Spanyol El PaÃs menyebut situasi di Ceuta mulai berangsur normal. Aktivitas ekonomi kembali berjalan, toko-toko telah dibuka, lalu lintas kembali lancar, dan distribusi bahan bakar mulai pulih setelah sempat terganggu selama beberapa hari. Meski demikian, sejumlah kelompok kecil migran masih terlihat berada di beberapa titik kota, sementara kerumunan besar yang memenuhi Ceuta pada awal pekan kini telah menghilang.Jika diinginkan, saya juga bisa membuat versi yang lebih dramatis dengan gaya narasi khas berita televisi atau kanal YouTube berita internasional.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Bapanas Mencatat 7,7 Juta Ton CBP Disalurkan ke Masyarakat Selama 2023–2025
-
16 Tim Meriahkan Festival Bedug 2026 di Jakarta Barat, Seni Tradisional Bergema.
-
MPR RI Kaji Penguatan Kedaulatan Rakyat dalam Perspektif Demokrasi Pancasila
-
Pemadaman listrik di Kota Kediri
-
Pemprov Banten Dorong Pertanian Modern untuk Tarik Minat Generasi Muda.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.