Terobosan Cerdas, Ini Cara Jitu Menghidupkan Ekonomi Baru di Stasiun Tawang

Sabtu, 01 Agu 2026, 17:30 WIB

JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengelola lebih dari 600 bangunan berstatus cagar budaya di seluruh wilayah Indonesia, dan 120 di antaranya sedang dipugar. Stasiun Semarang Tawang, yang diresmikan kembali pada Kamis (23/7), setelah 330 hari pengerjaan, hanyalah satu dari daftar tersebut.

Stasiun Semarang Tawang yang pertama tuntas dan jadi contoh paling konkret tentang seperti apa arah proyek-proyek pemugaran stasiun-stasiun berikutnya, yaitu Jakarta Kota, Tanjung Priuk, dan Bogor, yang akan menyusul tahun ini juga.

Ket. Foto: Ilustrasi - Stasiun Semarang Tawang. — Sumber: Antara foto

Bangunan berusia 112 tahun rancangan arsitek Belanda Sloth-Blauwboer itu berdiri di lahan 27.310 meter persegi, dengan luas bangunan utama sekitar 5.300 meter persegi. Pengerjaan pemugaran stasiun itu dibagi dua tahap, fasad depan dan hall utama lebih dulu, baru kemudian sisi barat dan timur.

Karena berstatus cagar budaya, Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.57/PW007/MKP/2010 mengamanahkan bahwa setiap detail, mulai dari bentuk jendela sampai tata ruang publik, harus mengikuti dokumentasi sejarah, bukan selera desain hari ini. Aturan itu juga yang membuat prosesnya lambat dan mahal dibanding sekadar mengecat ulang gedung tua.

Salah satu bagian yang paling teknis dari pekerjaan ini justru tidak terlihat dari foto-foto seremoni: sistem drainase.

Semarang bagian utara, tempat Tawang berdiri, dikenal sebagai kawasan yang rutin terendam banjir rob. Bukan kebetulan kalau revitalisasi ini menyertakan perbaikan saluran air, karena percuma mengembalikan fasad seindah apa pun kalau lantai stasiunnya tetap tergenang tiap air laut pasang.

Pemugaran Semarang Tawang lebih serius dibandingkan renovasi yang sekadar kosmetik.

Sejarah Tawang

Sejarah Tawang tidak berdiri sendiri di Semarang. Jalur kereta yang menghubungkan kota ini dengan Tanggungharjo, Grobogan, mulai dibangun 1864, sebagai jalur kereta api pertama di Nusantara.

Dari sana, jaringan rel Jawa tumbuh hingga melahirkan bangunan-bangunan besar seperti Lawang Sewu, yang jaraknya dari Tawang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Ditambah Klenteng Sam Poo Kong dan Gereja Blenduk, kawasan ini padat oleh bangunan tua yang saling menopang sebagai satu rute wisata sejarah.

Sepanjang 2025, kunjungan wisatawan ke Semarang mencapai 8.923.868 orang, naik dari 7.345.373 setahun sebelumnya. Sementara di sisi transportasi, Tawang tercatat sebagai stasiun tersibuk keempat di Indonesia, dengan 2.152.894 pergerakan penumpang hanya dalam semester pertama 2026 dan 34 keberangkatan kereta setiap hari.

Jadi, stasiun ini bukan monumen yang sepi pengunjung di luar jam wisata. Ia tetap ramai karena fungsi aslinya sebagai stasiun, dan itu yang membedakannya dari banyak bangunan cagar budaya lain yang setelah dipugar justru mati fungsi.

Lawang Sewu sudah lebih dulu membuktikan pola ini bisa jalan lama. Bekas kantor pusat perusahaan kereta swasta kolonial itu direstorasi dan diresmikan sebagai museum pada 2011, dan sampai sekarang masih rutin dipakai untuk festival akhir tahun, pameran, sampai pertunjukan sinema imersif di malam hari.

Menjelang libur Nataru tahun lalu, gedung itu bahkan masuk sepuluh besar stasiun tujuan terpadat.

Kalau KAI ingin 120 bangunan lain bernasib serupa, formulanya sudah kelihatan: jangan biarkan gedung tua cuma jadi latar foto, kembalikan fungsinya sebagai ruang yang dipakai orang tiap hari.

Untuk rakyat

Dalam sambutannya di Tawang, Prabowo mengingatkan agar kereta api tetap menjangkau kota-kota kecil dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Ini bukan imbauan kosong. Skema subsidi tarif atau Public Service Obligation (PSO) dari Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan dinikmati 155.809.294 pelanggan sepanjang Januari-April 2026, mencakup KA jarak jauh, KA lokal, Commuter Line, dan LRT Jabodebek.

Setidaknya, 13 kereta ekonomi bersubsidi, seperti Bengawan, Kahuripan, Serayu, dan Airlangga masih beroperasi dengan tarif Rp67 ribu sampai Rp104 ribu sekali jalan, jauh di bawah harga kereta komersial, dan justru singgah di stasiun-stasiun kecil yang dilewati begitu saja oleh kereta kelas atas.

KA Bengawan misalnya, dengan tarif Rp74 ribu untuk rute Purwosari-Pasar Senen, tetap berhenti di Klaten, Kutoarjo, dan kota-kota yang jarang disinggahi kereta kelas eksekutif.

Awal Maret, KAI meluncurkan KA Ekonomi Kerakyatan rute Pasar Senen-Lempuyangan dengan tarif Rp175 ribu selama masa promo. Pelajar yang menempuh jarak jauh untuk sekolah, pedagang yang membawa dagangan antarkota, pekerja yang berangkat sebelum subuh, mereka naik kereta yang sama dengan yang membawa wisatawan berfoto di depan fasad Tawang yang baru dipugar.

Itu yang membuat proyek ini terasa berbeda dari sekadar mempercantik gedung tua untuk konten Instagram. Rel yang sama membawa pedagang kecil ke pasar dan turis ke museum.

Jakarta Kota dan Tanjung Priuk, dua stasiun yang menyusul direvitalisasi tahun ini, punya karakter berbeda dari Tawang. Stasiun-stasiun itu lebih ramai oleh commuter harian daripada wisatawan, tapi tantangannya sama: bagaimana menjaga gedung tua tetap berfungsi penuh sebagai stasiun, bukan sekadar cangkang bersejarah yang dipasangi peron baru.

Kalau 119 bangunan cagar budaya lain yang masih menunggu giliran bisa mempertahankan keseimbangan ini, revitalisasi tersebut pantas jadi standar, bukan pengecualian.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.