Penguatan Kepercayaan Dorong Stabilitas Ekonomi
Kamis, 28 Mei 2026, 01:05 WIBJakarta â Penguatan kepercayaan pasar menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global yang masih berlangsung. Selain stabilitas makroekonomi yang relatif terjaga, sentimen atau kepercayaan investor dinilai memiliki peran besar dalam memengaruhi arus modal, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga keputusan investasi.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai bahwa stabilitas makroekonomi Indonesia perlu diiringi dengan penguatan kepercayaan pasar (market confidence) agar arus modal, nilai tukar rupiah, dan investasi tetap terjaga dengan baik.
âAntara stabilitas dengan market confidence ini yang perlu diperhatikan. Pemerintah mencoba menjaga dengan data-data makro yang sudah sangat baik, tetapi masalahnya confidence,â kata Aviliani, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah indikator makroekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang relatif kuat. Namun demikian, persepsi pasar tetap menjadi faktor kunci yang menentukan arah investasi, keluar-masuknya modal asing, serta dinamika nilai tukar rupiah di pasar keuangan.
Menurut dia, pelemahan rupiah salah satunya dipengaruhi keluarnya modal asing dari pasar keuangan domestik.
âKalau kita lihat kenapa terjadi pelemahan, satu adalah capital outflow cukup banyak,â ujarnya.
Aviliani mencatat rupiah melemah 6,18 persen secara year to date terhadap dollar AS, lebih dalam dibandingkan sejumlah mata uang negara Asean lainnya. Pada penutupan perdagangan Selasa, rupiah juga melemah 52 poin atau 0,29 persen menjadi 17.796 rupiah per dollar AS dari sebelumnya 17.744 rupiah per dollar AS.
Ia menilai Bank Indonesia (BI) telah melakukan berbagai langkah stabilisasi, mulai dari intervensi pasar, penggunaan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga operasi moneter untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Namun, kebijakan moneter tersebut dinilai perlu diperkuat oleh kebijakan fiskal dan sektor keuangan yang konsisten agar dapat membentuk persepsi positif di mata investor.
Faktor Domestik
Sementara itu, ekonom dari Universitas Binawan, Farouk Abdullah Alwyni, menilai pelemahan rupiah tidak hanya disebabkan faktor global, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan ekonomi domestik.
âTekanan global memang memengaruhi banyak mata uang negara berkembang. Namun fakta empiris menunjukkan bahwa dalam satu hingga dua tahun terakhir cukup banyak mata uang dunia justru menguat terhadap dollar AS,â kata Farouk.
Ia menyebut beberapa mata uang seperti ringgit Malaysia, euro, hingga Swiss franc justru menguat terhadap dollar AS. Menurutnya, hal ini menunjukkan adanya ruang perbaikan pada struktur ekonomi Indonesia.
Farouk menegaskan stabilitas rupiah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi pasar dan kebijakan suku bunga, tetapi juga harus ditopang sektor riil yang kuat.
Ia menekankan pentingnya penguatan daya beli masyarakat dan perlindungan kelas menengah sebagai penopang utama konsumsi domestik dan penerimaan pajak.
âPelemahan kelompok ini pada akhirnya akan melemahkan pertumbuhan ekonomi dan ketahanan rupiah itu sendiri,â ujarnya.
Selain itu, ia mendorong reformasi perpajakan yang lebih berkeadilan, deregulasi, debirokratisasi, penguatan ekspor, serta pengembangan industri substitusi impor untuk memperkuat fundamental ekonomi.
âStabilitas mata uang pada dasarnya sangat terkait dengan kepercayaan terhadap kapasitas produksi, iklim bisnis yang kondusif, dan daya saing ekonomi suatu negara,â katanya.
Baik Aviliani maupun Farouk menekankan bahwa penguatan rupiah dalam jangka panjang tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter, tetapi juga pada konsistensi reformasi struktural, peningkatan produktivitas, serta penguatan kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia.
- Indikator Makrokonomi
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.