Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bebaskan 5 WNI! Jangan Biarkan HAM Tersandera Kepentingan Geopolitik.

📅 Selasa, 19 Mei 2026, 17:10 WIB | Oleh:
Bebaskan 5 WNI! Jangan Biarkan HAM Tersandera Kepentingan Geopolitik. Doc: Koran Jakarta/M.Fachri
Ket. Pernyataan Sikap, Dr. Rieke Diah Pitaloka, M.Hum Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan

Pada Senin, 18 Mei 2026, militer Israel mencegat misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di perairan internasional dekat Pulau Siprus.

Sebanyak 9 WNI ikut dalam misi tersebut. Lima orang ditahan, empat orang selamat dan masih berlayar.

Lima WNI yang ditahan:

  1. Bambang Noroyono (Jurnalis Republika)
  2. Thoudy Badai Rifan Billah (Jurnalis Republika)
  3. Andre Prasetyo Nugroho (Jurnalis Tempo)
  4. Rahendro Herubowo (Jurnalis iNews/CNN)
  5. Andi Angga Prasadewa (Relawan Rumah Zakat)

Empat WNI yang selamat:

  1. Herman Budianto Sudarsono (Dompet Dhuafa)
  2. Ronggo Wirasanu (Dompet Dhuafa)
  3. Asad Aras Muhammad (Spirit of Aqso)
  4. Hendro Prasetyo (SMART 171)


Saya mengapresiasi langkah cepat pemerintah meskipun Indonesia tidak memiliki hubungan diplomasi dengan Israel.

Kementerian Luar Negeri telah mengeluarkan kecaman resmi. Koordinasi dilakukan melalui KBRI Ankara, Kairo, Amman, Istanbul, dan Roma karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. 

Pemerintah juga menyiapkan Surat Perjalanan Laksana Paspor dan dukungan medis, serta terus menggalang dukungan di DK PBB, Dewan HAM PBB, dan ICRC (Komite Internasional Palang Merah)

Pelanggaran Hukum Internasional yang Terjadi

Saya mencatat setidaknya ada indikasi kuat tiga pelanggaran hukum internasional dalam insiden ini:

Pertama, penahanan sewenang-wenang (arbitrary detention). Penangkapan terjadi di perairan internasional, bukan wilayah yurisdiksi Israel. Ini melanggar Pasal 9 Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR) yang diratifikasi Indonesia melalui UU No. 12 Tahun 2005, serta Prinsip 2 Deklarasi PBB tentang Penahanan Sewenang-wenang (1992).

Kedua, pelanggaran perlindungan terhadap jurnalis di zona konflik. Empat WNI yang ditahan adalah jurnalis sipil. Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 1738 Tahun 2006 secara tegas melarang penargetan terhadap jurnalis yang bertugas di wilayah konflik dan mewajibkan perlindungan penuh terhadap mereka sebagai warga sipil.

Ketiga, penghalangan bantuan kemanusiaan. Pasal 23 Konvensi Jenewa IV Tahun 1949 mewajibkan negara-negara yang berkonflik untuk mengizinkan lewatnya kiriman bantuan medis dan kemanusiaan secara bebas. 

Tindakan menghalangi kapal yang membawa bantuan untuk warga sipil Gaza merupakan pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa.

Rekomendasi Strategis

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Sekjen PBB Soroti Tantangan Lonjakan Populasi Lansia

58 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Sekjen PBB Soroti Tantangan...
Advertisement
Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.