Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026

Rabu, 13 Mei 2026, 00:30 WIB

Stabilitas Moneter

JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut dinilai akan menjadi pertimbangan bagi otoritas moneter untuk menaikkan suku bunga acuan BI Rate ke level 5 persen atau naik 0,25 persen dari posisi saat ini 4,75 persen.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Permata Institute for Economic Research (PIER), lembaga riset ekonomi di bawah Permata Bank memproyeksikan Bank Indonesia (BI) berpeluang menaikkan suku bunga acuan ke level 5 persen pada semester I 2026.

“Kita telah melakukan revisi di 2026 ini kemungkinan ruang kenaikan BI Rate itu ada.

Jadi kita proyeksi kemungkinan akan ada kenaikan 25 persen (basis) poin di semester pertama,” kata Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank Faisal Rachman di Jakarta, Selasa (12/5).

Menurut Faisal, peluang kenaikan suku bunga acuan muncul seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang hingga saat ini telah terdepresiasi lebih dari 4 persen.

Berdasarkan data terakhir pukul 13.52 WIB, nilai tukar rupiah mencapai 17.524 per dollar AS, bahkan sempat ke level 17.660 per dollar AS.

Secara historis jelasnya, BI cenderung mulai membuka ruang kenaikan suku bunga ketika pelemahan rupiah telah melampaui 3 persen.

“Apalagi kalau kita lihat SRBI itu rate-nya sudah cukup meningkat terus ke atas.

Jadi ini kita perlu antisipasi,” jelasnya.

PIER juga mengidentifikasi tiga faktor utama yang dapat memengaruhi keputusan BI ke depan.

Pertama, risiko kenaikan inflasi domestik.

Kedua, potensi pelebaran defisit neraca transaksi berjalan (current account balance) dan terakhir arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed.

Meski hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan adanya sinyal pemangkasan suku bunga, pasar masih memandang ruang penurunan suku bunga The Fed tahun ini sangat terbatas.

“Kalau dari sisi globalnya, yang terletak di sisi advance rate, sebenarnya market masih akan cenderung melihat efek itu tidak akan mempertahankan suku bunganya hingga akhir tahun ini, dan baru membuka kemungkinan pemotongan itu di akhir tahun depan,” terang Faisal.

Kondisi itu membuat tekanan eksternal terhadap nilai tukar dan pasar keuangan domestik masih perlu diwaspadai dalam beberapa waktu ke depan.

Fase Defensif

Pengamat Kebijakan Publik Fitra, Badiul Hadi, menilai proyeksi kenaikan BI Rate menjadi 5 persen menunjukkan stabilitas moneter Indonesia sedang memasuki fase defensif.

“Saat rupiah sudah menembus 17.500 rupiah per dollar AS dan terdepresiasi lebih dari 4 persen sejak awal tahun, ruang kebijakan BI menjadi semakin sempit,” kata Badiul Dalam konteks itu, suku bunga bukan lagi instrumen mendorong pertumbuhan, melainkan alat darurat untuk menjaga kepercayaan pasar dan menahan capital outflow.

Dia mengakui jika kenaikan suku bunga selalu membawa konsekuensi fiskal dan sosial yang tidak kecil.

Pengalaman menunjukkan setiap kenaikan 25 basis poin berpotensi meningkatkan biaya pinjaman pemerintah, memperberat bunga utang korporasi, dan menekan konsumsi rumah tangga.

“Di tengah pertumbuhan ekonomi yang belum benarbenar kuat, kebijakan moneter ketat justru berisiko menciptakan perlambatan ekonomi domestik,” katanya.

Sebab, dunia usaha menghadapi kredit lebih mahal, sementara masyarakat menghadapi cicilan yang makin berat, terutama sektor properti, otomotif, dan UMKM yang sangat sensitif terhadap bunga.

Badiul menilai pelemahan rupiah kali ini bukan semata persoalan psikologis pasar, tetapi juga mencerminkan tekanan struktural.

PIER mencatat adanya ancaman pelebaran defisit transaksi berjalan dan kenaikan imported inflation akibat mahalnya dollar AS.

“Ini menandakan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada arus modal asing dan impor bahan baku,” katanya.

Ketika The Fed menahan suku bunga tinggi lebih lama, Indonesia praktis dipaksa ikut menjaga yield domestik agar dana asing tidak keluar lebih besar.

“Akibatnya, BI berpotensi tersandera oleh dinamika global ketimbang leluasa mendukung pertumbuhan nasional,” jelasnya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.