Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tanpa Transisi, Krisis Energi Global Terus jadi Ancaman Berulang ke Fiskal dan Rupiah

📅 Kamis, 07 Mei 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Tanpa Transisi, Krisis Energi Global Terus jadi Ancaman Berulang ke Fiskal dan Rupiah Doc: ANTARA/Ahmad Naufal Oktavian
Ket. Petugas melakukan perawatan panel surya di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (6/5). Pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW) dalam kurun waktu 2026 hingga 2028 guna memperkuat ketahanan energi nasional dan mempercepat transisi energi.

BRUSSELS - Dunia saat ini tengah menghadapi krisis energi paling serius dalam sejarah global akibat konflik di Timur Tengah. Komisaris Eropa untuk Energi dan Perumahan, Dan Jorgensen dalam konferensi pers di Brussels, Belgia, Selasa (5/5) mengatakan krisis energi terparah itu menjadi salah satu yang menguji ketahanan ekonomi, masyarakat, dan kemitraan negara-negara. 

Mantan menteri pertanian Denmark itu mengatakan negara-negara Uni Eropa (UE) telah mengeluarkan dana 30 miliar euro atau sekitar 611 triliun rupiah untuk impor bahan bakar minyak sejak konflik di Timur Tengah dimulai, tanpa memperoleh tambahan pasokan.

Pada 13 April, Angkatan Laut AS mulai memblokade lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz. Selat tersebut menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair (LNG) dunia.

AS menyatakan kapal non-Iran tetap dapat melintasi Selat Hormuz selama tidak membayar pungutan kepada Teheran.

Menanggapi pernyataan itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, mengutip pernyataan Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, krisis energi sekarang adalah “mother of all crisis” untuk menunjukkan keparahan yang melebihi krisis-krisis energi sebelumnya.

“Krisis tidak saja berdampak pada pasokan energi, tetapi juga menciptakan krisis komoditas lain, serta ancaman bencana ekonomi global,” kata Fabby di Jakarta, Rabu (6/5).

Fabby menilai Indonesia cukup rentan menghadapi krisis ini. Sebab, 60 persen pasokan bahan bakar masih bergantung pada impor. Untuk LPG, ketergantungan bahkan lebih tinggi, mencapai 85 persen. Bahan baku petrokimia seperti nafta juga bergantung impor.

“Akibat krisis energi, Indonesia menghadapi tiga guncangan atau shocks, pasokan energi, fiskal, dan nilai tukar,” jelasnya.

Meski demikian, Fabby mengakui dampak krisis pasokan energi di Indonesia tidak seburuk negara tetangga. Hal itu karena Indonesia tidak mengimpor gas dan cukup berhasil mendiversifikasi negara sumber minyak, BBM, dan LPG.

Subsidi Bengkak

Hal yang menjadi kekhawatiran, menurut Fabby, adalah respons pemerintah yang menyerap kenaikan harga energi dengan mengalokasikan subsidi lebih besar. “Dampaknya adalah defisit APBN yang membesar dan potensi pemangkasan anggaran untuk sektor lain yang sebenarnya membutuhkan,” katanya.

Hal itu kata Fabby tidak boleh dianggap sepele, karena pembengkakan subsidi bisa berdampak pada kualitas pembangunan jangka panjang dan menghalangi transisi energi yang justru bisa melepaskan Indonesia dari kebergantungan pada energi fosil.

Ia mendorong pemerintah mempercepat diversifikasi energi dan efisiensi subsidi agar APBN lebih sehat. Tanpa langkah struktural, krisis energi global akan terus jadi ancaman berulang bagi fiskal dan nilai tukar Indonesia.

Sementara itu, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan eskalasi krisis energi global akibat perang dan konflik geopolitik menempatkan Indonesia dalam posisi rentan, baik dari sisi ekonomi maupun energi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.