Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Harga Minyak Naik  Usai Trump Umumkan Blokade Berbulan-bulan

📅 Kamis, 30 Apr 2026, 17:40 WIB | Oleh:
Harga Minyak Naik  Usai Trump Umumkan Blokade Berbulan-bulan Doc: Freepik

WASHINGTON DC — Harga minyak dunia melonjak tajam di tengah meningkatnya ketegangan konflik Iran. Lonjakan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa blokade terhadap Iran dapat berlangsung selama berbulan-bulan.

Mengutip dari The Guardian, Kamis (30/4), kondisi ini mendorong harga minyak Brent menembus 126 dollar AS (Rp2,1 juta) per barel. Angka tersebut merupakan level tertinggi sejak 2022 dengan kenaikan lebih dari 13 persen dalam 24 jam.

Lonjakan harga terjadi sejak perang dimulai pada 28 Februari dan semakin memperlihatkan guncangan di pasar energi global. Kebijakan Amerika Serikat yang mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran menjadi salah satu faktor utama.

Sementara itu, Iran merespons dengan menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia. Penutupan tersebut membuat arus kapal tanker minyak hampir terhenti, sehingga mengurangi pasokan global hingga 20 juta barel per hari.

Upaya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang direncanakan berlangsung di Islamabad, Pakistan, gagal terlaksana. Akibatnya, kebuntuan konflik terus berlanjut.

Trump menegaskan bahwa blokade akan tetap dilanjutkan jika diperlukan dan menilai langkah tersebut lebih efektif dibandingkan pengeboman. Pemerintah AS berharap tekanan ini dapat memaksa Iran membatasi produksi minyaknya, terutama jika fasilitas penyimpanan energi mereka mulai penuh.

Meski demikian, para analis belum dapat memastikan kapan dampak maksimal dari kebijakan tersebut akan terjadi. Di sisi lain, lembaga riset Oxford Economics memperingatkan potensi lonjakan harga minyak.

Harga minyak bisa mencapai 190 dollar AS (Rp3,2 juta) per barel jika krisis di Selat Hormuz berlangsung selama enam bulan. Lonjakan harga minyak ini juga memicu kekhawatiran akan terjadinya stagflasi global.

Imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara, termasuk Jepang dan Eropa, mengalami kenaikan signifikan seiring meningkatnya tekanan inflasi. Ekonom Paul Krugman memperingatkan bahwa krisis berkepanjangan di Selat Hormuz dapat memicu resesi global dalam beberapa bulan ke depan.

Dampak kenaikan harga energi juga mulai terasa di berbagai negara. Di Amerika Serikat, Kongres mulai menyoroti meningkatnya biaya perang, sementara Iran terus berupaya memperkuat dukungan internasional melalui jalur diplomasi. ils/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Megapolitan
BPBD Kota Tangerang Petakan...

Mau Tujuh Belasan di Istana? Segera Daftarkan Diri

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Mau Tujuh Belasan di Istana...

Harga Cabai Rawit Rp45.150/Kg, Telur Ayam Rp24.000/Kg

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp45.150/...

Pusat Kota Karawang Akan Memiliki Taman

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pusat Kota Karawang Akan Me...

Krisis di FIFA Kian Memanas, Posisi Gianni Infantino Terancam Usai Gagal Jual Hak Komersial Piala Dunia

Krisis di FIFA Kian Memanas, Posisi Gianni Infantino Terancam Usai Gagal Jual Hak Komersial Piala Dunia

05 Aug 2026
Pilihan Pembaca
# 4
# 4
Empat TPU di Kota Semarang Sudah Penuh
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.