Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

AS Sebut Proposal Iran Buka Selat Hormuz sebagai Upaya Sinis

📅 Senin, 28 Sep 2026, 00:48 WIB | Oleh: Tim Penulis
AS Sebut Proposal Iran Buka Selat Hormuz sebagai Upaya Sinis Doc: AFP
Ket. Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menyebut proposal gencatan senjata terbaru Iran sebagai “upaya yang cukup sinis untuk mengajukan sesuatu yang mereka tahu tidak dapat diterima.”

Washington - Pejabat tinggi Amerika Serikat (AS) pada Minggu (27/9) menilai proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai langkah "sinis" dan mengindikasikan bahwa usulan tersebut tidak akan menjadi titik awal bagi Washington.

Rencana gencatan senjata Iran, yang disampaikan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) awal pekan ini, menyerukan pembebasan aset Iran yang dibekukan, pencabutan sanksi terhadap minyak Iran, serta penghentian blokade angkatan laut AS sebagai syarat untuk membuka jalur perairan strategis yang menjadi salah satu jalur utama pasokan energi dunia tersebut.

"Ini, menurut saya, merupakan upaya yang cukup sinis untuk mengajukan sesuatu yang mereka tahu tidak dapat diterima," kata Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz dalam wawancara dengan NBC pada Minggu.

"Meminta pencabutan blokade, sanksi, sanksi internasional, dan akses terhadap aset bernilai miliaran dolar hanya untuk berbicara," ujarnya.

Presiden AS Donald Trump menolak kesepakatan tersebut pada Sabtu. Ia mengatakan para pemimpin Iran menginginkan kesepakatan itu karena "mereka kalah telak."

"Saya pikir masuk akal jika presiden kali ini tidak memiliki banyak kepercayaan diri setelah kami baru saja mencobanya beberapa bulan lalu, tetapi pada akhirnya, tentu saja, ini harus berakhir dalam suatu bentuk kesepakatan," kata Waltz.

"Namun, dia akan mempertahankan semua opsi di atas meja untuk mencapainya," ujarnya.

Dalam wawancara dengan NBC tidak lama kemudian, Araghchi mengecam apa yang disebutnya sebagai "tuduhan-tuduhan lama yang tidak terbukti" yang disampaikan Waltz.

"Kami siap membuka selat tersebut jika beberapa hal tertentu dilakukan oleh AS dan hal-hal tertentu ini bukanlah sesuatu yang baru, bukan sesuatu yang muncul begitu saja," kata Araghchi.

"Ini adalah hak-hak kami yang ingin kami dihormati," ujarnya.

Araghchi juga menyampaikan nada pesimistis mengenai peluang tercapainya kesepakatan dengan Washington.

"Selalu ada harapan untuk diplomasi, tetapi sejujurnya, kami tidak punya alasan, kami tidak punya alasan untuk kembali ke diplomasi dan terlibat dengan pemerintahan ini sekali lagi karena perilaku mereka selama dua tahun terakhir," kata Araghchi kepada NBC.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
Megapolitan
Ratusan Aduan Perubahan Des...
Luar Negeri
AS Sebut Proposal Iran Buka...

FIFA Asean Cup, Timnas Harus Menang Tiga Laga Fase Grup

41 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
FIFA Asean Cup, Timnas Haru...
Olahraga
Joey Pelupessy Minta SUGBK ...
Advertisement
Hati-hati! Pengguna iPhone 18, Waspada Kaspersky Deteksi Modus Penipuan Situs Palsu Kuras Rekening

Hati-hati! Pengguna iPhone 18, Waspada Kaspersky Deteksi Modus Penipuan Situs Palsu Kuras Rekening

27 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.