Manufaktur RI Tumbuh Solid, Kemenperin Catat 633 Pabrik Baru Dibangun di Q1-2026

Sabtu, 25 Apr 2026, 09:55 WIB

JAKARTA — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan sektor industri manufaktur nasional tetap solid dan resilien di tengah gejolak geopolitik, perlambatan ekonomi global, dan ketidakpastian pasar internasional. Sektor ini terbukti masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menyebut industri manufaktur RI menunjukkan daya tahan tinggi dan mampu beradaptasi terhadap tekanan global.

Ket. Foto: Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arief menuturkan, industri manufaktur nasional tetap solid dan resilien di tengah gejolak geopolitik, perlambatan ekonomi global, dan ketidakpastian pasar internasional — Sumber: istimewa

“Kinerja manufaktur kita kuat. Kontribusinya naik, tenaga kerja bertambah, investasi tumbuh, dan tetap jadi penopang utama ekonomi. Ini bukti struktur industri makin kokoh,” kata Febri di Jakarta, Jumat (24/4).

Pertumbuhan Lampaui Ekonomi Nasional

Febri memaparkan, pada 2025 industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,30%, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional 5,11%. Ini jadi momentum penting karena untuk pertama kali dalam 14 tahun terakhir, pertumbuhan industri pengolahan melampaui pertumbuhan ekonomi.

Kontribusi manufaktur terhadap PDB juga terus menguat. Dari 17,92% pada Triwulan II 2022, naik jadi 19,20% pada Triwulan IV 2025. Artinya, dalam periode itu kontribusi manufaktur bertambah 1,28 poin persentase. 

Pada 2023, kontribusi naik dari 18,26% di Triwulan II menjadi 19,08% di Triwulan IV. Tren berlanjut di 2024 dengan 19,13% pada Triwulan IV, dan sempat menyentuh 19,28% di Triwulan I 2024. Tahun 2025, kontribusi terjaga di level tinggi: 18,67% di Triwulan II, naik ke 19,15% di Triwulan III, dan 19,20% di Triwulan IV.

Tenaga Kerja dan Investasi Naik

Data Sakernas Agustus 2025 mencatat tenaga kerja industri pengolahan nonmigas naik konsisten. Dari 15,49 juta orang pada 2015 menjadi 18,90 juta pada 2019. Sempat turun ke 17,44 juta pada 2021 karena pandemi, namun pulih jadi 18,65 juta pada 2022 dan mencapai rekor 20,26 juta orang pada Agustus 2025.

Sementara itu, data SIINas per 23 April 2026 menunjukkan, pada Triwulan I 2026 ada 633 perusahaan industri yang membangun fasilitas produksi dan belum pernah melapor produksi sebelumnya. Total rencana serapan tenaga kerja 219.684 orang dengan nilai investasi Rp418,62 triliun.

Dari jumlah perusahaan, pembangunan terbanyak ada di Industri Pengolahan Tembakau 72 perusahaan, disusul Industri Minuman 67 perusahaan, dan Industri Makanan 60 perusahaan. Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia ada 49 perusahaan.

Dari nilai investasi, Industri Logam Dasar jadi yang terbesar: Rp218,04 triliun dari 24 perusahaan. Diikuti Industri Bahan Kimia Rp81,22 triliun dan Industri Barang Galian Bukan Logam Rp12,10 triliun. Besarnya investasi logam dasar menunjukkan penguatan sektor hulu dan potensi hilirisasi mineral.

Untuk serapan tenaga kerja, Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki tertinggi dengan rencana 37.350 orang, disusul Industri Logam Dasar 25.592 orang, serta Industri Bahan Kimia 9.065 orang. Ini menandakan ada subsektor padat modal dan padat karya yang tumbuh bersamaan.

“Data Q1-2026 ini menunjukkan pembangunan fasilitas produksi masih kuat dan tersebar di subsektor strategis: makanan-minuman, kimia, logam dasar, serta sektor padat karya. Ini sinyal positif untuk pertumbuhan manufaktur 2026,” ujar Febri.

Dorong Kebijakan Pro-Industri

Menurut Febri, kenaikan kontribusi PDB, tenaga kerja, dan investasi tak lepas dari kebijakan pro-industri Menteri Perindustrian. Antara lain reformasi TKDN, kebijakan _non-tariff barrier_, pembangunan kawasan industri, serta perlindungan industri dari gempuran produk impor.

Ia menambahkan, penguatan sektor industri juga berjalan berkat arahan Presiden Prabowo Subianto dan sinergi antar kementerian/lembaga.

Kemenperin menilai masuknya investasi ke manufaktur akan memperkuat kapasitas produksi, mendorong ekspor bernilai tambah, dan memperluas lapangan kerja berkualitas. Pemerintah kini mengarahkan investasi ke sektor prioritas: mamin, kimia, farmasi, otomotif, elektronika, tekstil, hingga hilirisasi SDA.

“Di tengah tekanan rantai pasok global, fluktuasi energi, dan tensi geopolitik, industri nasional tetap tumbuh di atas 5 persen. Ini menunjukkan resiliensi dan daya saing yang terus meningkat,” kata Febri.

Kemenperin optimistis tren positif berlanjut lewat hilirisasi, substitusi impor, penguatan TKDN, transformasi industri 4.0, serta perluasan pasar ekspor nontradisional. “Kami ajak semua pihak lihat manufaktur secara objektif berbasis data. Industri Indonesia terus menuju penguatan struktur ekonomi nasional,” pungkasnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.