Jakarta-Shenzhen Resmi Jadi Sister City: Siap Adopsi Sistem Transportasi Listrik Canggih

Rabu, 22 Apr 2026, 19:40 WIB

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, melakukan pertemuan bilateral dengan Executive Vice Mayor Tao Yongxin di Fuzhong 3rd Road, Rabu (22/4). Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan awal untuk menjalin kerja sama sister city antara Jakarta dan Shenzhen.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak menargetkan penandatanganan kerja sama sister city dapat terealisasi pada November 2026. Langkah ini diawali dengan penyusunan Letter of Intent (LoI) sebelum dilanjutkan ke tahap Memorandum of Understanding (MoU).

Ket. Foto: Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, melakukan pertemuan bilateral dengan Executive Vice Mayor Tao Yongxin di Fuzhong 3rd Road, Rabu (22/4). Pertemuan ini menghasilkan kesepakatan awal untuk menjalin kerja sama sister city antara Jakarta dan Shenzhen. — Sumber: Pemprov DKI Jakarta

"Saat ini Jakarta telah menjalin kerja sama sister city dengan Beijing dan Shanghai. Kami berharap dapat menyusun LoI sebagai langkah awal, untuk kemudian dilanjutkan dengan MoU dengan Shenzhen," ujar Pramono.

Ia menilai, kerja sama ini penting untuk memperkuat hubungan internasional sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan antar kota. Jakarta, kata dia, membutuhkan berbagai praktik terbaik untuk menjawab tantangan perkotaan yang semakin kompleks.

Dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 11 juta jiwa, serta kawasan aglomerasi Jabodetabek yang menyentuh 42 juta jiwa, Jakarta menghadapi berbagai persoalan klasik. Di antaranya kemacetan, polusi udara, hingga banjir yang membutuhkan solusi inovatif.

"Jakarta menghadapi persoalan yang dulu juga dialami Beijing. Kami ingin belajar dari Shenzhen sebagai role model dalam pengembangan kota modern," jelasnya.

Sementara itu, Tao Yongxin menyambut positif rencana kerja sama tersebut. Ia bahkan menawarkan sejumlah sektor potensial yang dapat dikembangkan bersama antara kedua kota.

Menurutnya, kerja sama dapat dimulai dari skema friendship city sebagai tahap awal. Selanjutnya, kolaborasi dapat diperluas ke berbagai bidang strategis.

"Kami ingin memulai dari friendship city sebagai langkah awal menuju sister city. Selain itu, ada peluang kerja sama di bidang teknologi dan inovasi, people-to-people connection seperti pertukaran mahasiswa dan budaya, serta sektor maritim," tuturnya.

Tao juga menyoroti posisi Indonesia yang strategis dalam jalur perdagangan global. Hal ini dinilai menjadi peluang besar dalam pengembangan kerja sama sektor maritim antara Jakarta dan Shenzhen.

Di bidang transportasi, Shenzhen disebut siap berbagi pengalaman dalam pengembangan sistem berbasis teknologi. Termasuk di dalamnya elektrifikasi kendaraan dan pembangunan infrastruktur pendukung.

"Kami terbuka untuk mengirim perusahaan Shenzhen ke Jakarta, mulai dari elektrifikasi kendaraan, pengembangan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk layanan publik," ucap Tao.

Sebagai kota yang berkembang pesat, Shenzhen dikenal sebagai pusat inovasi dan teknologi global. Sejak ditetapkan sebagai zona ekonomi khusus pada 1980, kota ini bertransformasi menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

Sejumlah perusahaan teknologi besar berbasis di kota tersebut, seperti Huawei dan BYD. Dengan populasi sekitar 20 juta jiwa, Shenzhen menjadi salah satu kota terdepan dalam pengembangan smart city.

Kerja sama sister city ini diharapkan mampu mempercepat transformasi Jakarta menuju kota global. Selain itu, kolaborasi ini juga membuka peluang investasi dan pertukaran pengetahuan yang lebih luas di masa depan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.