Jakarta Disebut Kota Global, Bisakah Menyamai Tokyo yang 80 Persen Warganya Gunakan Transportasi Publik?

Sabtu, 04 Jul 2026, 18:15 WIB

JAKARTA – Jakarta terus didorong menjadi kota global dengan berbagai pencapaian yang diklaim mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik berbagai penghargaan dan pengakuan internasional, masih terdapat sejumlah persoalan mendasar yang kerap dikeluhkan masyarakat sehari-hari.

Mulai dari kemacetan, polusi udara, banjir musiman, hingga belum meratanya akses air bersih menjadi tantangan yang dinilai masih perlu mendapat perhatian serius. 

Ket. Foto: Potret MRT, Transjakarta, dan LRT yang merupakan transportasi publik di Jakarta. — Sumber: Gemini AI

Berikut sejumlah fakta yang kerap menjadi sorotan publik.

1. Warga Bisa Menghabiskan Hingga Tiga Jam di Jalan

Kemacetan masih menjadi bagian dari aktivitas harian sebagian warga Jakarta dan kawasan penyangga. Tidak sedikit pekerja yang harus menghabiskan waktu sekitar tiga jam setiap hari untuk perjalanan pergi dan pulang kerja.

Waktu yang terbuang di perjalanan tidak hanya berdampak pada produktivitas, tetapi juga kualitas hidup masyarakat karena mengurangi waktu bersama keluarga maupun waktu istirahat.

2. Kemacetan Belum Terurai Sepenuhnya

Meski berbagai infrastruktur transportasi telah dibangun, kepadatan lalu lintas masih terjadi di banyak ruas jalan utama, terutama pada jam sibuk.

Pertumbuhan kendaraan bermotor yang tinggi belum sepenuhnya mampu diimbangi oleh kapasitas jalan maupun perpindahan masyarakat ke transportasi umum.

3. Indonesia Masuk Daftar Negara dengan Polusi Udara Terburuk

Data Air Quality Index (AQI) terbaru menempatkan Indonesia di posisi kelima negara dengan indeks polusi udara terburuk. Kondisi ini turut tercermin di Jakarta yang dalam beberapa kesempatan berada pada kategori kualitas udara buruk.

Paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, penyakit jantung, hingga berbagai masalah kesehatan lainnya.

4. Transportasi Publik Dinilai Belum Menjangkau Seluruh Jabodetabek

Pengembangan MRT, LRT, KRL, dan TransJakarta memang terus dilakukan. Namun, jaringan transportasi publik dinilai belum sepenuhnya terintegrasi hingga menjangkau seluruh kawasan Jabodetabek.

Akibatnya, jutaan masyarakat masih bergantung pada kendaraan pribadi untuk beraktivitas setiap hari. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya konsumsi bahan bakar, biaya transportasi rumah tangga, kemacetan, dan emisi kendaraan.

5. Banjir Musiman Masih Terjadi

Persoalan banjir juga belum sepenuhnya terselesaikan. Saat curah hujan tinggi, sejumlah kawasan di Jakarta masih mengalami genangan hingga banjir yang mengganggu aktivitas warga.

Meski berbagai proyek pengendalian banjir telah dijalankan, persoalan drainase, alih fungsi lahan, dan tingginya intensitas hujan masih menjadi tantangan.

6. Akses Air Bersih Belum Merata

Keluhan mengenai layanan air bersih juga masih disampaikan sebagian masyarakat.

Cakupan distribusi air minum melalui jaringan perpipaan yang dikelola PAM JAYA disebut baru mencapai sekitar 65 persen dari target layanan penuh. Artinya, sekitar 35 persen warga Jakarta masih belum memperoleh akses air bersih melalui jaringan pipa dan masih mengandalkan sumber air lainnya.

Pemerataan layanan air bersih menjadi salah satu indikator penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan.

7. Kendaraan Pribadi Masih Mendominasi Jalanan

Jumlah kendaraan bermotor di DKI Jakarta terus menunjukkan angka yang sangat besar. Data mencatat terdapat lebih dari 12 juta kendaraan bermotor, termasuk sekitar 9,1 juta sepeda motor dan lebih dari 520 ribu truk.

Di sisi lain, penggunaan transportasi publik disebut mencapai sekitar 39 juta perjalanan per bulan atau sekitar 1,3 juta perjalanan per hari. Jika dibandingkan dengan sekitar 22,4 juta pergerakan kendaraan setiap hari di Jakarta (data 2022), muncul perbedaan interpretasi mengenai proporsi penggunaan transportasi umum. 

Angka tersebut kerap menjadi bahan diskusi mengenai efektivitas perpindahan masyarakat dari kendaraan pribadi ke angkutan umum, sehingga perlu dilihat berdasarkan metodologi masing-masing sumber data.

Ruang Terbuka Hijau Juga Menjadi Perhatian

Selain berbagai persoalan di atas, keberadaan ruang terbuka hijau juga kerap menjadi sorotan. Sebagian pihak menilai pembangunan perkotaan membuat sejumlah kawasan hijau berkurang akibat pembangunan gedung dan infrastruktur, meskipun pemerintah juga telah membangun dan merevitalisasi sejumlah taman kota.

Belajar dari Tokyo

Sebagai perbandingan, kawasan metropolitan Tokyo di Jepang yang dihuni sekitar 37 juta penduduk memiliki sistem transportasi publik yang sangat terintegrasi. Kereta dan bus menjadi moda utama masyarakat, sehingga penggunaan kendaraan pribadi relatif lebih rendah dibanding banyak kota metropolitan lainnya.

Kondisi tersebut menunjukkan kota berpenduduk besar tetap dapat menjaga mobilitas yang efisien apabila didukung jaringan transportasi publik yang luas, terhubung, dan mudah diakses.

Di tengah ambisi Jakarta menjadi kota global, berbagai persoalan layanan dasar seperti kemacetan, kualitas udara, transportasi, banjir, dan akses air bersih masih menjadi tantangan yang terus membutuhkan penyelesaian. 

Keberhasilan sebuah kota tidak hanya diukur dari pengakuan internasional, tetapi juga dari sejauh mana kualitas hidup warganya dapat meningkat secara merata.

  • transportasi publik
  • Jakarta
  • Jakarta Kota Global
  • tokyo

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

Berita Terbaru

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.