• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Gigi Mumi Bolivia Tulis Ul...

Gigi Mumi Bolivia Tulis Ulang Asal-usul Demam Scarlet

Selasa, 21 Apr 2026, 07:08 WIB

DEMAM scarlet atau scarlet fever adalah penyakit infeksi bakteri yang ditandai dengan ruam merah terang yang khas pada kulit. Dahulu, penyakit ini dianggap sebagai penyakit anak-anak yang sangat serius dan mematikan, namun berkat penemuan antibiotik, kini demam scarlet jauh lebih mudah ditangani.

Yang menjadi pertanyaan sampai sekarang dari mana asal-usul penyakit Demam Scarlet? Yang terbaru para ilmuwan menemukan bukti riwayat penyakit ini dari dataran tinggi Amerika Selatan yang mengguncang pemahaman lama tentang asal-usul penyakit menular di Dunia Baru sebutan untuk benua Amerika.

Ket. Foto: Gigi ini milik seorang pemuda yang tinggal di dataran tinggi Bolivia sekitar 700 tahun yang lalu. Tim peneliti mendeteksi bakteri demam scarlet, Streptococcus pyogenes, di dalamnya. — Sumber: Foto: Guido Valverde

Sejumlah ilmuwan dari Italia dan Inggris menemukan bukti keberadaan bakteri penyebab demam scarlet dalam gigi mumi kuno di wilayah yang kini dikenal sebagai Altiplano. Penemuan ini membuka kemungkinan bahwa penyakit tersebut telah beredar di benua Amerika berabad-abad sebelum kedatangan bangsa Eropa.

Selama ini, demam scarlet penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pyogenes—sering dianggap sebagai bagian dari “paket penyakit” yang dibawa penjajah Eropa ke Amerika setelah pelayaran Christopher Columbus pada 1492.

Narasi tersebut menempatkan penyakit menular sebagai faktor utama kehancuran populasi pribumi yang belum memiliki kekebalan terhadap patogen Eurasia. Namun, analisis DNA kuno dari sisa-sisa manusia yang hidup antara abad ke-13 hingga ke-14 menunjukkan cerita yang lebih kompleks.

Bukti dari Gigi Mumi

Sampel yang diteliti berasal dari seorang pria muda yang hidup sekitar tahun 1283–1383 M, jauh sebelum kontak transatlantik terjadi. Para peneliti berhasil mengidentifikasi jejak genetik Streptococcus pyogenes dalam jaringan gigi salah satu bagian tubuh yang paling tahan terhadap degradasi waktu.

Menurut Frank Maixner, direktur Institut Studi Mumi di Eurac Research, temuan tersebut menunjukkan bahwa strain kuno bakteri ini sudah memiliki banyak karakteristik genetik yang ditemukan pada strain modern.

“Strain kuno tersebut membawa banyak meskipun tidak semua gen patogen yang ditemukan pada strain modern,” ujarnya dikutip dari Live Science. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa bakteri penyebab demam scarlet telah berevolusi dalam jangka waktu yang sangat panjang, namun mempertahankan inti virulensinya.

Menyusun “Teka-Teki ­Genetik” dari Masa Lalu

Mengurai DNA kuno bukanlah pekerjaan mudah. Materi genetik yang ditemukan dalam gigi mumi telah mengalami fragmentasi parah akibat waktu, suhu ekstrem, dan proses kimia alami selama ratusan tahun.

Mohamed Sarhan menggambarkan proses tersebut seperti “menyusun teka-teki tanpa mengetahui gambar aslinya.” Tim peneliti harus merekonstruksi genom bakteri dari potongan-potongan kecil DNA yang tersisa, tanpa bergantung sepenuhnya pada referensi modern.

Pendekatan ini justru membuka peluang baru. Tanpa bias terhadap strain modern, para ilmuwan dapat mengidentifikasi varian genetik yang mungkin telah punah. Teknik ini juga menantang asumsi lama dalam penelitian DNA kuno, yang sebelumnya cenderung mengabaikan fragmen DNA panjang karena dianggap sebagai kontaminasi.

Dalam studi ini, para peneliti menunjukkan bahwa fragmen panjang tersebut justru memiliki pola kerusakan kimia khas DNA purba, sehingga dapat dipastikan keasliannya. Temuan ini berpotensi mengubah metodologi dalam bidang paleogenomik.

Jejak Evolusi Ribuan Tahun

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa strain kuno Streptococcus pyogenes memiliki hubungan dekat dengan strain modern penyebab infeksi tenggorokan. Para peneliti memperkirakan bahwa garis evolusinya terpisah sekitar 10.000 tahun lalu.

Temuan ini sejalan dengan teori migrasi manusia awal melalui Selat Bering sekitar 20.000 tahun lalu. Jika bakteri tersebut sudah menginfeksi manusia sebelum migrasi, maka sangat mungkin patogen ini ikut terbawa ke benua Amerika bersama gelombang populasi awal.

Hipotesis ini diperkuat oleh bukti lain yang menunjukkan keberadaan Streptococcus pyogenes di Eropa dan Afrika sejak sekitar 4.000 tahun lalu. Dengan demikian, penyebaran global bakteri ini kemungkinan besar mengikuti jalur migrasi manusia purba, bukan semata-mata hasil ekspansi kolonial.

Menantang Narasi ­“Penyakit Kolonial”

Selama bertahun-tahun, penyakit seperti cacar, campak, difteri, dan demam scarlet dianggap sebagai “penyakit perbatasan” yang dibawa penjajah Eropa ke Dunia Baru. Narasi ini memang didukung oleh dampak epidemi besar yang terjadi setelah abad ke-15.

Namun, temuan dari Bolivia menambah daftar bukti bahwa sejarah penyakit jauh lebih kompleks. Studi DNA kuno sebelumnya di Amerika Selatan juga mengindikasikan bahwa penyakit seperti sifilis dan bahkan kusta mungkin telah ada di kedua belahan dunia sebelum era kolonial. Dengan kata lain, interaksi manusia dan patogen telah berlangsung selama ribuan tahun, melampaui batas geografis dan periode sejarah yang selama ini diasumsikan.

Dampak Medis dan ­Relevansi Modern

Sebelum ditemukannya antibiotik, demam scarlet merupakan salah satu penyebab utama kematian anak-anak di berbagai belahan dunia. Infeksi ini tidak hanya menyebabkan demam dan ruam, tetapi juga komplikasi serius seperti kerusakan organ, gangguan pendengaran, hingga kebutaan.

Saat ini, penyakit tersebut relatif dapat dikendalikan. Namun, munculnya resistensi antibiotik pada strain modern Streptococcus pyogenes kembali menjadi perhatian global. Dalam konteks ini, memahami evolusi bakteri dari masa ke masa menjadi sangat penting. Dengan mempelajari bagaimana patogen berkembang dan beradaptasi selama ribuan tahun, ilmuwan dapat merancang strategi pengobatan yang lebih efektif di masa depan.

Penemuan DNA bakteri dalam gigi mumi Bolivia tidak hanya menambah pengetahuan tentang sejarah penyakit, tetapi juga mengguncang narasi lama tentang asal-usul epidemi di Amerika. Alih-alih menjadi “penyakit impor” dari Eropa, demam scarlet kemungkinan telah menjadi bagian dari sejarah kesehatan manusia di benua tersebut jauh sebelum era penjelajahan.

Temuan ini menegaskan satu hal: sejarah manusia tidak dapat dipisahkan dari sejarah mikroorganisme yang menyertainya. Dan seperti yang ditunjukkan oleh penelitian ini, jejak hubungan tersebut masih tersimpan bahkan dalam sepotong gigi yang berusia ratusan tahun. hay

  • Gigi Mumi

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.