Antisipasi Dampak El Nino, Kementan Gelontorkan Rp5 Triliun untuk Irigasi dan Benih
Senin, 20 Apr 2026, 17:45 WIBJAKARTA â Menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena Godzilla El Niño membutuhkan langkah strategis yang tidak hanya reaktif, tetapi juga terencana dan berbasis mitigasi risiko jangka panjang.
Fenomena ini berpotensi memperpanjang periode musim kering, menurunkan ketersediaan air, serta mengganggu produktivitas sektor pertanian yang sangat bergantung pada curah hujan.
Dampaknya tidak hanya bersifat hidrometeorologis, tetapi juga menjalar ke aspek ekonomi dan sosial, terutama pada daerah dengan ketergantungan tinggi terhadap pertanian tadah hujan.
Oleh karena itu, strategi seperti penguatan infrastruktur air, optimalisasi irigasi, diversifikasi sumber air, serta penyesuaian pola tanam menjadi sangat krusial untuk menjaga ketahanan pangan.
Di sisi lain, sistem peringatan dini dan koordinasi lintas sektor perlu diperkuat agar respons terhadap perubahan iklim ekstrem dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Tanpa pendekatan strategis yang terintegrasi, risiko gangguan produksi pangan dan tekanan terhadap stabilitas ekonomi daerah akan semakin besar.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pihaknya mengalokasikan anggaran sekitar Rp5 triliun untuk program irigasi melalui pompanisasi dan bantuan benih unggul sebagai langkah strategis menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena Godzilla El Nino.
"Kami dorong anggaran kita untuk hari ini untuk irigasi Rp3 triliun lebih," kata Mentan ditemui usai rapat bersama 170 bupati seluruh Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian Jakarta, Senin (20/.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga produktivitas pertanian nasional tetap stabil di tengah ancaman kekeringan akibat musim kemarau panjang yang diprediksi terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
Dari total anggaran tersebut, pemerintah menggelontorkan lebih dari Rp3 triliun khusus untuk penguatan infrastruktur irigasi, termasuk pompanisasi dan optimalisasi sumber air bagi lahan pertanian di daerah rawan kekeringan.
Selain itu, pemerintah juga menjalankan program cetak sawah baru seluas 30 ribu hektare guna memperluas area tanam dan meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional secara bertahap dan berkelanjutan.
Program irigasi yang diperkuat mencakup pengelolaan lahan hingga 1,5 juta hektare di seluruh Indonesia melalui berbagai metode, termasuk pompanisasi, pemanfaatan sungai, embung dan sumber air lainnya.
Dalam implementasinya, pemerintah telah membuka pendaftaran bantuan pompa air sebanyak 80 ribu unit yang ditargetkan mampu menjangkau sekitar 1 juta hektare lahan sawah terdampak kekeringan.
Mentan menegaskan percepatan distribusi bantuan akan diberikan kepada daerah yang aktif dan responsif dalam mengajukan kebutuhan.
Selain pompanisasi, pemerintah juga mengalokasikan sekitar Rp2 triliun untuk penyediaan benih unggul tahan kekeringan guna mendukung peningkatan indeks pertanaman di berbagai wilayah.
"Bantuannya sudah jalan, kita anggarkan semuanya, estimasi Rp2 triliunan," ucap Amran.
Benih tersebut dirancang untuk mempercepat masa tanam serta memungkinkan petani meningkatkan frekuensi tanam dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.
Program bantuan benih difokuskan pada wilayah upland atau lahan tadah hujan yang selama ini hanya mampu ditanami sekali dalam setahun akibat keterbatasan sumber air.
"Benih kekeringan kita bantu khususnya yang naikkan IP (Indeks Pertanaman). Dari satu menjadi dua kali, kita memberi benih yang tahan kekeringan dan umurnya agak pendek (benih padi)," jelasnya.
Dengan dukungan pompanisasi dan akses air tambahan, lahan tersebut diharapkan dapat dioptimalkan sehingga produktivitas meningkat tanpa bergantung sepenuhnya pada curah hujan musiman.
Ia juga menekankan kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, serta seperti TNI/Polri menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tantangan iklim.
Menurut dia, capaian produksi padi saat ini cukup signifikan dengan stok cadangan beras pemerintah (CBP) mencapai 4,9 juta ton dan diproyeksikan menembus 5 juta ton dalam beberapa hari ke depan.
Pemerintah optimistis berbagai langkah mitigasi yang dilakukan mampu menjaga stabilitas produksi pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di seluruh Indonesia secara berkelanjutan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Sentil Birokrasi Daerah, Wamendagri Bima Arya Dorong DPRD Gunakan Konsep 'Statecraft'
-
Pemkab Bangka Tengah Gencarkan Skrining Aktif untuk Tingkatkan Cakupan Cek Kesehatan Gratis 2026
-
Sampah Bikin Rontok Omzet Pedagang
-
Waspada Macet, 3 Stasiun KRL Ini Bakal Jadi Titik Paling Padat Saat Lebaran 2026
-
PAM Jaya Kembangkan Inovasi Ciptakan Air dari Udara dan Kurangi Plastik
-
Pohon Tumbang Menimpa Dua Kendaraan di Pasar Atas Curup Rejang Lebong
-
Timnas Futsal Indonesia Gagal Mempertahankan Gelar Juara di ASEAN Futsal 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.