Jangan Tunggu Krisis! Daerah Rawan Pangan Harus Jadi Prioritas
Rabu, 24 Jun 2026, 23:59 WIBJAKARTA â Anggota Komisi V DPR RI, Erna Sari Dewi meminta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengoptimalkan anggaran guna mengantisipasi ancaman cuaca ekstrem dan fenomena alam jangka panjang, seperti El Nino, yang berdampak langsung pada stabilitas ketahanan pangan nasional.
Ia mendorong agar instansi penyedia data meteorologi tersebut memberikan perlakuan khusus berupa penguatan sistem peringatan dini di daerah pesisir yang rawan terdampak aktivitas tektonik.
"Anggaran itu harus fokus juga diberikan treatment khusus kepada wilayah atau daerah-daerah yang rawan bencana seperti Aceh, Sumatera Utara, kemudian Bengkulu, yang dalam satu tahun saja guncangan gempanya tahun 2025 guncangan gempanya sudah 627 kali dan itu berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Maka saya minta BMKG maupun Basarnas memberikan perhatian khusus," ucap Erna usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (24/6).
Erna mendesak Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan rencana kerja anggaran secara cermat agar langsung menyentuh kebutuhan publik. Hal strategis ini ia sampaikan kepada Parlementaria usai
Menurut Erna, kedua lembaga tersebut merupakan garda terdepan negara yang mengemban tanggung jawab besar untuk memastikan keselamatan jiwa rakyat.
Oleh sebab itu, alokasi anggaran yang diberikan harus sebanding dengan besarnya risiko tugas dan tanggung jawab penanggulangan dampak bencana di lapangan.
Fenomena cuaca El Nino diprediksi akan mulai melanda Indonesia. Pemerintah telah bersiap sejak jauh hari sebelumnya dalam kaitannya memperkuat stok pangan nasional, terutama beras.
Indikatornya ada di stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang telah berada lebih dari 5 juta ton sebelum El Nino menerpa.
"Kami memang sudah siapkan jauh hari sebelumnya menghadapi El Nino. Dulu pengalaman kita (El Nino) tahun 2023. Alhamdulillah kita lolos. Stok kita sampai detik ini, itu 5,2 sampai 5,3 juta ton. Itu stok tertinggi sepanjang sejarah. Nah ini Alhamdulillah cukup baik," ujar Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Amran Sulaiman
Amran pun mengaku optimistis mengenai ketersediaan beras Indonesia sampai Desember masih aman. Bahkan dalam estimasinya keseluruhan stok beras masih dapat mencukupi sampai Mei tahun depan.
"Insya Allah aman, katakanlah sampai Desember. (Bahkan) beras kita sudah sampai Mei pun cukup. Jadi tidak masalah," kata Amran lagi.
Hal Tersebut selaras dengan Proyeksi Neraca Pangan untuk beras yang sudah diperbarui awal Juni ini. Neraca akhir tahun beras Indonesia diestimasikan masih terdapat stok 16,24 juta ton.
Hal ini berasal dari stok awal tahun 2026 di 12,54 juta ton ditambah proyeksi produksi setahun 34,76 juta ton lalu dikurangi kebutuhan konsumsi setahun 31,1 juta ton.
Dengan proyeksi neraca akhir tahun beras sebesar 16,24 juta ton tersebut dinilai masih mampu untuk penuhi kebutuhan konsumsi nasional sekitar 5 bulan lamanya pada 2027.
Namun demikian, di Maret April stok beras nasional akan semakin meningkat karena telah memasuki musim panen raya.
Bantuan Diperpanjang
Untuk diketahui, per 23 Juni dalam catatan Bapanas, realisasi penyaluran CBP ke masyarakat untuk anggaran 2026 telah menyentuh total 1,02 juta ton.
Hal ini terdiri dari bantuan pangan beras 601,7 ribu ton, SPHP beras 367,8 ribu ton, golongan anggaran 38 ribu ton, dan tanggap darurat 11,3 ribu ton. Terbaru, pemerintah pun telah memutuskan bantuan pangan beras akan ditambah 3 bulan alokasi selama semester kedua tahun ini.
Sementara total stok beras yang ada di Bulog sampai 23 Juni berada di angka 5,17 juta ton. Ini bersumber dari pengadaan setara beras produksi dalam negeri sejak awal 2026 yang telah mencapai 3,23 juta ton.
Selain itu juga ditopang dari stok akhir tahun 2025 yang masih ada 3,24 juta ton yang sepenuhnya bersumber dari realisasi pengadaan setara beras produksi dalam negeri selama 2025 di 3,43 juta ton tanpa ada impor.
Lebih lanjut, kondisi harga beras dalam pemantauan Bapanas, per 22 Juni mencatatkan rerata harga beras medium masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Memang terjadi kenaikan harga beras dalam sebulan terakhir, namun masih sesuai koridor HET beras medium.
Zona I (Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi), rerata harga per 22 Juni di Rp 13.080 per kilogram (kg) dengan HET beras medium Zona I di Rp 13.500 per kg.
Sulawesi Selatan menjadi daerah dengan rerata harga beras medium paling rendah dengan Rp 12.665 per kg dan Sulawesi Tengah mengalami rerata harga paling tinggi di Rp 13.847 per kg.
Untuk Zona II (Sumatera selain Lampung dan Sumsel, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan), rerata harga 22 Juni di Rp 13.704 per kg dengan HET Rp 14.000 per kg. Jambi menjadi daerah dengan rerata harga beras medium paling rendah dengan Rp 12.595 per kg dan daerah dengan rerata harga paling tinggi di Kalimantan Timur dengan Rp 14.586 per kg.
Terakhir, di Zona III (Maluku, Papua), rerata harga beras medium per 22 Juni berada di level Rp 15.244 per kg dengan HET Rp 15.500 per kg. Daerah paling rendah rerata harga beras medium ada di Maluku dengan Rp 14.700 per kg, sedangkan daerah dengan rerata harga beras medium tertinggi di Papua Pegunungan dengan Rp 20.000 per kg.(ers)
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Telkom Perkuat UMKM Perempuan Lewat Digitalisasi dan Sertifikasi melalui Kartini BISA Fest 2026
-
Sore Nanti akan Turun Hujan di Jakarta
-
Peringati May Day, Khofifah - Emil Luncurkan Kebijakan Pro-Buruh
-
BMKG Prakirakan Cuaca Sejumlah Wilayah di Indonesia Berawan hingga Hujan Ringan pada Kamis
-
BMKG Imbau Warga Banten Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem pada 3–8 Mei
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.