Neraca Dagang RI Januari-Juni 2026 Masih Surplus US$3,58 Miliar, Ditopang Ekspor Nonmigas

Senin, 03 Agu 2026, 12:52 WIB

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia periode Januari-Juni 2026 masih membukukan surplus sebesar US$3,58 miliar. Meski demikian, pada bulan Juni 2026 neraca perdagangan mengalami defisit.

Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS RI, Ateng Hartono, dalam rilis resmi di Jakarta, Senin (3/8).

Ket. Foto: Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS RI, Ateng Hartono, dalam rilis resmi di Jakarta, Senin (3/8) — Sumber: istimewa

“Surplus sepanjang periode Januari-Juni 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas US$19,35 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$15,77 miliar,” jelas Ateng.

Ekspor Tumbuh 4,13 Persen

Nilai ekspor kumulatif Januari-Juni 2026 mencapai US$140,81 miliar, naik 4,13 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan itu didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 4,90 persen menjadi US$134,58 miliar. 

Tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia adalah: Tiongkok US$34,56 miliar atau 25,68 persen, Amerika Serikat US$15,82 miliar atau 11,76 persen serta India US$9,25 miliar atau 6,87 persen

Impor Naik 18,69 Persen

Di sisi lain, nilai impor kumulatif Januari-Juni 2026 tercatat US$137,24 miliar, naik signifikan 18,69 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan impor didorong oleh impor nonmigas sebesar US$115,23 miliar atau naik 15,50 persen. Sementara impor migas melonjak 38,71 persen menjadi US$22,00 miliar.

Berdasarkan penggunaan barang, impor bahan baku/penolong menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$97,95 miliar atau naik 18,38 persen. Disusul impor barang modal US$27,36 miliar naik 20,50 persen, dan impor barang konsumsi US$11,93 miliar naik 17,13 persen.

Tiga negara asal utama impor nonmigas adalah Tiongkok US$48,82 miliar atau 42,37 persen, Jepang US$6,41 miliar, dan Australia US$5,71 miliar.

Komoditas Penyumbang Surplus

Berdasarkan komoditas, surplus perdagangan nonmigas utamanya disumbang oleh Lemak dan minyak hewani/nabati US$17,55 miliar, Bahan bakar mineral US$13,61 miliar, Besi dan baja US$8,61 miliar, Nikel dan barang daripadanyaUS$6,43 miliar serta Alas kaki US$3,24 miliar

Ateng menegaskan, kinerja surplus selama semester I 2026 menunjukkan daya saing ekspor nonmigas Indonesia masih terjaga di tengah tekanan impor bahan baku dan barang modal yang meningkat.

  • impor
  • Badan Pusat Statistik (BPS)
  • Surplus Neraca Dagang

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.