Bersama Bung Karno, Forum Praksis Ajak Kembali Mengobarkan Semangat Pancasila bagi Indonesia dan Dunia

Senin, 22 Jun 2026, 13:58 WIB

JAKARTA – Pancasila lahir sebagai manifestasi hak keberadaan bangsa Indonesia yang selama ratusan tahun hidup dalam penjajahan dan belum memiliki pandangan hidup maupun jati diri sebagai bangsa merdeka. Karena itu, pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 yang memperkenalkan Pancasila menjadi fondasi filosofis sekaligus pandangan hidup bagi Indonesia merdeka.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Forum Praksis Seri ke-21 bertema “Bersama Bung Karno Kembali Mengobarkan Semangat Pancasila bagi Indonesia dan Dunia” yang diselenggarakan PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesuit) bekerja sama dengan Yayasan Bung Karno di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Istimewa

Forum menghadirkan Mayjen Pol. (Purn.) Sidarto Danusubroto, mantan ajudan terakhir Presiden Soekarno sekaligus mantan Ketua MPR RI periode 2013–2014, serta diplomat madya Indonesia Sigit Aris Prasetyo sebagai narasumber. Diskusi dimoderatori oleh praktisi komunikasi Susana Sunarno.

Dalam pemaparannya, Sidarto menjelaskan bahwa gagasan Pancasila lahir melalui proses perenungan panjang Soekarno, terutama ketika menjalani masa pengasingan di Ende, Nusa Tenggara Timur. Gagasan tersebut kemudian mencapai puncaknya saat Soekarno menyampaikan pidato bersejarah dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945.

Menurut Sidarto, dalam pidato tersebut Soekarno mengusulkan lima prinsip dasar negara, yakni Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Momentum ini secara resmi diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila,” kata Sidarto yang juga pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden periode 2015–2024.

Ia menambahkan, pemikiran Soekarno mengenai Pancasila tidak berhenti pada konteks Indonesia. Pada 30 September 1960, dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Soekarno memperkenalkan dan menjabarkan Pancasila kepada dunia sebagai ideologi yang memiliki nilai universal.

Dalam pidato tersebut, kata Sidarto, Soekarno mengajak negara-negara anggota PBB untuk mengakui dan mendukung negara-negara yang baru merdeka sebagai anggota yang setara dalam pergaulan internasional.

“Konsep pemikiran Sukarno inilah yang mendorong negara-negara lain untuk lebih aktif berpartisipasi dalam menciptakan perdamaian dunia, yang terwujud dalam Gerakan Nonblok pada tahun 1961,” ujarnya.

Sementara itu, Sigit Aris Prasetyo menambahkan bahwa pidato Soekarno di PBB tidak hanya memperkenalkan Pancasila kepada dunia internasional, tetapi juga menjadi panggung untuk menyuarakan sikap anti-kolonialisme.

Menurut dia, Soekarno secara tegas mendorong proses dekolonisasi bangsa-bangsa yang masih terjajah. Pada saat yang sama, Presiden pertama Republik Indonesia itu juga menolak bipolaritas yang muncul akibat Perang Dingin serta mendesak reformasi terhadap struktur dan keanggotaan PBB.

Sigit menilai relevansi Pancasila justru semakin kuat di tengah berbagai tantangan global yang dihadapi dunia saat ini.

“Lebih dari delapan puluh tahun setelah lahirnya Pancasila, dunia justru menghadapi tantangan yang membuat nilai-nilainya makin penting,” kata Sigit.

Ia menyebut sejumlah tantangan tersebut antara lain krisis geopolitik, kolonialisme dalam bentuk-bentuk baru yang terselubung, polarisasi dan intoleransi, ketimpangan ekonomi global, krisis kemanusiaan, hingga persoalan tata kelola global.

Menurut Sigit, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tetap relevan sebagai pijakan untuk menjawab berbagai persoalan tersebut.

“Kita terberkati dengan adanya Pancasila,” pungkasnya.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.