Di Balik Gang Krembangan, Kampung Pancasila Jadi Penjaga “Jiwa” Surabaya
📅 Minggu, 19 Apr 2026, 12:44 WIB | Oleh: Yebdi TrismarIdealisme kota
Di balik optimisme tersebut, terdapat sejumlah persoalan yang perlu dicermati secara kritis. Pertama adalah risiko formalisasi. Ketika sebuah gerakan sosial dilembagakan, selalu ada kemungkinan ia berubah menjadi rutinitas administratif tanpa ruh. Kampung Pancasila bisa saja berhenti sebagai label jika tidak disertai partisipasi warga yang autentik.
Kedua, ketimpangan kapasitas antarwilayah. Tidak semua kampung memiliki modal sosial yang sama. Ada wilayah yang sudah terbiasa dengan gotong royong, tetapi ada pula yang lebih individualistik. Dalam kondisi ini, pendekatan yang seragam berpotensi tidak efektif. Kampung yang sudah kuat akan melaju cepat, sementara yang lemah tertinggal.
Ketiga, tantangan keberlanjutan. Program berbasis komunitas sangat bergantung pada konsistensi partisipasi warga. Ketika antusiasme awal mereda, ada risiko kegiatan menjadi stagnan. Apalagi jika tidak ada insentif atau mekanisme evaluasi yang jelas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keempat, integrasi dengan kebijakan ekonomi. Kampung Pancasila tidak bisa hanya berhenti pada aspek sosial budaya. Ia harus mampu menjawab persoalan konkret seperti pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan.
Upaya melibatkan generasi muda melalui dana stimulan Rp5 juta per RW merupakan langkah strategis, tetapi membutuhkan pendampingan serius agar tidak sekadar habis untuk kegiatan seremonial.
Di sisi lain, pendekatan berbasis kampung juga menghadapi tantangan globalisasi. Arus digitalisasi dan mobilitas tinggi membuat relasi sosial semakin cair. Generasi muda, khususnya, cenderung memiliki ikatan yang lebih longgar dengan lingkungan tempat tinggalnya. Jika tidak diantisipasi, Kampung Pancasila bisa kehilangan relevansi bagi kelompok ini.
Meski demikian, justru di sinilah letak peluangnya. Kampung Pancasila dapat menjadi ruang integrasi antara nilai tradisional dan inovasi modern. Misalnya, pengelolaan ekonomi berbasis digital di tingkat kampung, atau pemanfaatan teknologi untuk transparansi dana sosial. Dengan demikian, kampung tidak hanya menjadi simbol masa lalu, tetapi juga bagian dari masa depan kota.
Merawat kota
Kampung Pancasila mengajukan satu gagasan penting bahwa kota tidak hanya dibangun dari atas melalui kebijakan dan infrastruktur, tetapi juga dari bawah melalui relasi sosial. Ketika warga saling mengenal, saling menjaga, dan saling membantu, maka rasa aman dan kesejahteraan tumbuh secara organik.
Untuk memastikan keberhasilan program ini, diperlukan beberapa langkah strategis.
Pertama, penguatan kapasitas warga melalui pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan. ASN yang ditempatkan di RW harus berperan sebagai fasilitator, bukan sekadar pengawas.
Kedua, diferensiasi kebijakan berdasarkan karakter wilayah. Setiap kampung memiliki dinamika yang berbeda, sehingga pendekatan harus adaptif. Pemerintah perlu memberi ruang inovasi lokal agar warga merasa memiliki program ini.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!