- Home
-
- Megapolitan
-
- Premanisme Ibu Kota Mesti ...
Premanisme Ibu Kota Mesti Bisa Ditekan
Selasa, 14 Apr 2026, 01:25 WIBJAKARTA â Beberapa waktu lalu Jakarta dianggap Kota Teraman Kedua di Asean setelah Singapura. Tapi aksi premanisme di Jakarta terus berlangsung dan makin marak, termasuk pemalakan. Untuk itu, anggota DPRD Jakarta, Hardiyanto Kenneth, minta Pemerintah Provinsi (Pemprov) memperkuat pengawasan di titik-titik rawan, khususnya di kawasan Tanah Abang, untuk menekan aksi-aksi premanisme.
âSatpol PP, Dinas Perhubungan, dan kepolisian harus turun tangan. Mereka mesti patroli rutin untuk menindak preman agar jera,â kata Kenneth, Senin. Dia mengatakan ini untuk menanggapi maraknya aksi premanisme di Jakarta yang makin marak. Kenneth menyampaikan keprihatinan sekaligus kecaman keras terhadap aksi pemalakan yang dialami sopir bajaj di Tanah Abang.
Menurutnya, praktik pungutan liar (pungli) tersebut sangat merugikan para pengemudi kecil yang menggantungkan hidup pada penghasilan harian. Ia juga menilai kejadian tersebut mencoreng upaya penataan kawasan yang dilakukan Pemprov. âIni jelas merugikan rakyat kecil dan tidak boleh dibiarkan. Tanah Abang adalah kawasan strategis, sehingga harus bebas dari praktik-praktik premanisme,â ujarnya.
Untuk itu, Kenneth minta Pemprov berkolaborasi dengan kepolisian untuk menindak tegas pemalak karena masuk dalam kategori tindak pidana. Dia juga minta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) memperkuat pengawasan titik-titik rawan parkir liar, khususnya Tanah Abang.
Menurut Kenneth ia, Satpol PP memiliki peran penting dalam menegakkan peraturan daerah serta menjaga ketertiban umum. âSatpol PP harus lebih aktif lagi dalam menertibkan parkir liar. Pastikan hanya parkir resmi yang beroperasi. Kalau ada yang memungut di luar sistem, harus langsung ditindak,â katanya.
Kenneth juga mendorong adanya koordinasi yang lebih intens antara Pemerintah DKI Jakarta, Kepolisian, dan Satpol PP agar penanganan pungutan liar bisa berjalan efektif dan berkelanjutan. Dia menuturkan, penataan parkir tidak hanya berkaitan dengan ketertiban, tetapi juga menyangkut rasa aman dan keadilan bagi masyarakat Jakarta.
âKita ingin sopir bajaj dan masyarakat merasa aman. Tidak ada lagi tekanan atau pungutan yang tidak jelas. Ini soal keberpihakan kepada rakyat kecil,â katanya. Kenneth menambahkan bahwa salah satu penyebab maraknya pungutan liar karena belum tertatanya sistem parkir secara menyeluruh dan transparan.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Warga Kalteng Diingatkan, Banyak Preman Berkedok Ormas
-
Imlek Nasional 2026 Tegaskan Posisi Talenta Indonesia di Panggung Dunia
-
Sambangi Rumah Korban Pemukulan OTK, Wakil Wali Kota Bogor Minta Pelaku Segera Ditindak
-
Beredar Sebuah Video Preman Nekat Bergelantungan di Pintu Sopir Teriak Minta Turun, Sopir Balas dengan Tegas!
-
Kementerian PU bangun 240 unit huntara di Aceh Tamiang
-
Pemerintah Akan Bentuk Tim Penyelesaian Banjir di Pulau Jawa
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.