Industri dan Pertanian Jadi Benteng Ekonomi RI Hadapi Guncangan Global

Senin, 13 Apr 2026, 00:00 WIB

Tanpa optimalisasi sejumlah sektor seperti industri, pertanian, konsumsi, investasi dan energi hijau serta ekonomi digital, target pertumbuhan ekonomi berpotensi tereduksi oleh ketidakpastian global.

JAKARTA – Perekonomian nasional masih memiliki ruang tumbuh untuk bertahan di kisaran lima persen, meskipun tekanan dari eksternal dan sikap skeptis sejumlah lembaga asing mencerminkan adanya risiko perlambatan global. Kunci utamanya terletak pada kemampuan Indonesia menjaga keseimbangan antara daya tahan domestik dan adaptasi struktural.

Ket. Foto: Pengunjung mengamati produk UMKM lokal di Pasar Pasaran di Taman Balekambang, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (11/4). Pasar rakyat bernuansa Bali modern estetis tersebut menampilkan beragam produk lokal, kuliner dan karya seni yang digelar sebagai wadah promosi bagi para pelaku UMKM sekaligus ruang hiburan kreatif bagi anak muda dan wisatawan di Kota Solo. — Sumber: ANTARA/ MAULANA SURYA

Sektor industri dan pertanian tetap menjadi fondasi produksi, sementara konsumsi domestik berperan sebagai penopang stabilitas jangka pendek. Di sisi lain, akselerasi investasi, khususnya pada energi hijau dan ekonomi digital, menjadi faktor pembeda yang dapat mendorong pertumbuhan lebih berkualitas.

Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai pertumbuhan ekonomi di atas lima persen masih realistis dicapai jika lima sektor utama dioptimalkan secara simultan. Industri pengolahan menjadi kunci utama melalui hilirisasi komoditas bernilai tambah. "Sektor ini adalah kontributor PDB terbesar (sekitar 19-20 persen). Agar target 5 persen tercapai, manufaktur harus tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional," tuturnya, seperti dikutip dari Antara, Minggu (12/4).

Kedua, lanjutnya, pertanian berpotensi menjadi motor baru dengan peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan. Pada 2025, sektor ini mencatatkan pertumbuhan di atas 5 persen, membalikkan tren sebelumnya yang di bawah 2 persen.

Di sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tetap krusial sehingga daya beli perlu dijaga melalui stabilitas harga dan penciptaan lapangan kerja. Investasi, terutama investasi asing langsung (FDI), dinilai mampu mendorong efek berganda bagi ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, didukung percepatan belanja pemerintah.

Adapun energi hijau dan ekonomi digital dipandang sebagai sektor masa depan yang dapat memperkuat efisiensi sekaligus menopang pertumbuhan berkelanjutan. "Proyek seperti Biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai Juli 2026 diproyeksikan bisa menghemat anggaran hingga 48 triliun rupiah, jadi harus ada skala prioritas. Mendorong investasi di bidang teknologi dan ekonomi digital yang memiliki potensi pertumbuhan eksponensial," jelasnya.

Sebelumnya, Bank Dunia dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 4,7 persen dari perkiraaan sebelumnya pada Oktober 2025 sebesar 4,8 persen. Angka tersebut jauh di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen.

Dampak Geopolitik

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons pemangkasan proyeksi pertumbuhan dari Bank Dunia. Menurutnya, revisi tersebut merupakan hal yang wajar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang memengaruhi banyak negara.

“Dengan situasi perang kan, ya mereka semua menurunkan (proyeksi) di berbagai wilayah,” kata Menko Airlangga di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 masih berpeluang melampaui proyeksi Bank Dunia, namun sulit menembus 5 persen di tengah tekanan global.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.