Pasar Lagi Deg-degan, Investor Asing Pilih Ngumpet di Emas
Kamis, 22 Jan 2026, 11:00 WIBJAKARTA â Investor asing mulai mengalihkan portofolionya ke aset aman seperti emas dan obligasi seiring meningkatnya ketegangan dan ketidakpastian hubungan ekonomi antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa.
Perubahan arah aliran dana ini mencerminkan sikap risk-off pasar global, di mana pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko sambil menunggu kejelasan arah kebijakan fiskal, suku bunga, dan geopolitik.
Kondisi tersebut berpotensi menekan arus modal ke pasar negara berkembang dalam jangka pendek, sekaligus meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global.
Pengamat pasar modal Reydi Octa mengatakan pelaku pasar mengalihkan dananya ke instrumen emas dan obligasi di tengah memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.
Pengalihan dana itu menyebabkan pasar saham Indonesia tertekan, yang mana investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp1,90 triliun pada perdagangan Rabu ini.
"Jika risiko meningkat, investor akan memindahkan aset mereka ke sana, yang lebih rendah risiko seperti emas, obligasi. Hal ini juga memicu profit taking atau cut loss, sehingga indeks jadi tertekan," ujar Reydi di Jakarta, Rabu (21/1).
Ia menjelaskan ketegangan geopolitik seperti kasus Greenland menyebabkan volatilitas di pasar saham, karena investor akan mengurangi risiko mereka dengan melakukan aksi jual (sell) termasuk dari emerging market seperti Indonesia.
"Investor global akan mengurangi paparan risiko terhadap investasinya dengan menjual saham termasuk dari emerging market, IHSG akan ikut tertekan karena arus modal keluar asing," ujar Reydi.
Menurutnya, sektor-sektor yang paling terdampak aksi jual bersih (net sell) yaitu yang sensitif terhadap siklus ekonomi seperti perbankan, properti, dan konsumer.
"Sektor-sektor yang cenderung turun adalah yang sensitif terhadap siklus ekonomi seperti perbankan, properti, konsumer," ujar Reydi.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan mengakuisisi Greenland, serta memberikan ancaman tarif bertahap 10-25 persen terhadap delapan negara anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO), tarif sebesar 200 persen untuk anggur Prancis, serta kecaman terhadap Inggris.
Di sisi lain, Uni Eropa dengan tegas mendukung Greenland dan Denmark untuk mempertahankan keutuhan wilayah mereka.
Selain itu, pasukan negara-negara Eropa Utara yang menjadi anggota Uni Eropa dan NATO siap beroperasi di kawasan Arktik.
Data penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia pada Rabu, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp1,90 triliun dari pasar saham Indonesia, sehingga menyebabkan IHSG ditutup melemah 124,37 poin atau 1,36 persen ke posisi 9.010,33.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 4.032.229 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 61,67 miliar lembar saham senilai Rp34,22 triliun. Sebanyak 170 saham naik, 546 saham menurun, dan 77 tidak bergerak nilainya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Amartha.org Dorong Akses Pendidikan dan Kepemimpinan Perempuan lewat Beasiswa
-
Kondisi Nagari Sungai Batang pascabencana susulan
-
MSCI Soroti Pasar Modal Indonesia, Transparansi dan Isu Saham Gorengan Jadi Perhatian Investor Asing
-
Jumat, Samsat Keliling Jadetabek Hadir di 14 Titik, Cek Lokasinya!
-
BPJPH: Sertifikat Halal Perkuat Posisi Indonesia dalam Rantai Pasok Global
-
Polisi Tangkap 5 Tersangka Pengedar Narkotika Modus COD, Sita Barang Bukti Senilai Miliaran Rupiah
-
Bayern Samai Rekor AC Milan Menang Terus 13 Kali
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.