Gunungkidul Perkenalkan Sawah Terpal, Cara Baru Bertani di Lahan Terbatas

Jumat, 17 Jul 2026, 21:45 WIB

YOGYAKARTA – Inovasi di sektor pertanian menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim, alih fungsi lahan, serta meningkatnya kebutuhan pangan.

Pemanfaatan teknologi seperti pertanian presisi, benih unggul, mekanisasi, hingga digitalisasi rantai pasok dapat membantu petani menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan hasil panen.

Ket. Foto: Sosialisasi pembuatan sawah terpal bersama Kelompok Tani (Poktan) Mawarsari di Padukuhan Gandu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Jumat (17/7/2026). — Sumber: ANTARA/HO-Pemkab Gunungkidul

Namun, keberhasilan inovasi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi juga akses terhadap pembiayaan, pendampingan, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia.

Dengan ekosistem yang mendukung, inovasi pertanian berpotensi memperkuat daya saing sektor pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan menjaga stabilitas pasokan pangan nasional.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul mendorong penerapan inovasi di sektor pertanian sebagai upaya mengatasi keterbatasan lahan melalui sosialisasi pembuatan sawah terpal bersama Kelompok Tani (Poktan) Mawarsari di Padukuhan Gandu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop.

Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto, di Gunungkidul, Jumat (17/7), mengatakan terdapat dua inovasi pertanian yang disosialisasikan kepada kelompok tani di Kapanewon Rongkop, yakni pembuatan pupuk kompos organik dan demonstrasi pembuatan sawah terpal.

"Pembuatan kompos organik merupakan upaya mengantisipasi dampak perubahan iklim, sedangkan inovasi sawah terpal menjadi solusi atas keterbatasan lahan pertanian," katanya.

Menurut Joko, sosialisasi dan pembinaan tersebut menyasar kawasan pertanian tadah hujan yang umumnya hanya mampu menghasilkan panen padi satu kali dalam setahun.

"Dengan penerapan teknologi sawah terpal, pemerintah berharap produktivitas lahan dapat meningkat secara signifikan sekaligus membuka peluang usaha baru bagi petani," ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan lahan kosong melalui gerakan penghijauan dan penanaman tanaman produktif karena masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal.

"Misalnya dengan menanam pohon bernilai ekonomi seperti nangka, alpukat, pepaya, dan tanaman produktif lainnya yang mampu memberikan manfaat jangka panjang," katanya.

Menurut Joko, pola pikir masyarakat juga perlu diubah agar lebih berorientasi pada pengembangan budidaya dan pertanian yang berkelanjutan.

"Menanam bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Tanaman produktif akan memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan bagi generasi berikutnya," katanya.

Sementara itu, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Sarno menjelaskan inovasi sawah terpal memungkinkan petani di lahan kering meningkatkan produktivitas usaha tani.

"Dengan penerapan teknologi sawah terpal, petani berpeluang melakukan panen hingga lima kali dalam setahun," ujarnya.

Selain itu, menurut Sarno, inovasi tersebut dapat dipadukan dengan budidaya ikan lele sehingga memberikan nilai tambah bagi pendapatan petani.

"Pemanfaatan teknologi pertanian harus mampu mengubah lahan yang sebelumnya kurang produktif menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat," katanya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.