Perlu Langkah Agresif untuk Jaga Rupiah
Rabu, 08 Apr 2026, 00:00 WIBDengan respons yang cepat dan terukur, stabilitas nilai tukar diharapkan dapat lebih terjaga di tengah dinamika global yang masih berisiko tinggi.
Jakarta â Tekanan global yang dipicu eskalasi geopolitik dan ketidakpastian pasar keuangan menuntut langkah yang lebih agresif dalam menjaga stabilitas rupiah. Tidak cukup hanya mengandalkan intervensi pasar, diperlukan penguatan sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil.
Bank Indonesia (BI) harus mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang mendorong pelemahan hingga menembus level 17.000 rupiah per dollar AS.
Seperti dikutip dari Antara, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa stabilitas menjadi prioritas utama bank sentral dalam menghadapi ketidakpastian global yang meningkat.
âDi tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas bagi BI,â kata Destry di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, BI secara konsisten hadir di pasar uang melalui berbagai instrumen, baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri, maupun Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.
Menurut Destry, dampak konflik Timur Tengah terhadap perekonomian Indonesia bersifat dua arah. Di satu sisi memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, namun di sisi lain kenaikan harga komoditas dapat menjadi penopang bagi Indonesia sebagai negara eksportir.
Pada penutupan perdagangan Selasa, rupiah tercatat melemah 70 poin atau 0,41 persen menjadi 17.105 rupiah per dollar AS dari sebelumnya 16.980 rupiah. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga melemah ke 17.092 dari 17.037 rupiah per dollar AS.
Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan bahwa bank sentral telah melakukan kalibrasi kebijakan intervensi rupiah dengan mempertimbangkan tiga skenario dampak harga minyak dunia, yakni rendah, menengah, dan tinggi.
âKami terus mengoptimalkan di moneter tiga instrumen intervensi dengan kecukupan cadangan devisa dan diperkuat dengan kebijakan suku bunga,â ujar Perry.
Dalam upaya menjaga stabilitas eksternal, BI juga menekankan pentingnya memperkuat Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Data menunjukkan neraca perdagangan pada Februari 2026 mencatat surplus sebesar 1,27 miliar dollar AS, meningkat dibandingkan Januari sebesar 0,95 miliar dollar AS.
Eskalasi Perang
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pelemahan rupiah merupakan fenomena global yang juga dialami oleh berbagai mata uang lainnya.
"Itu kan bukan hanya rupiah, berbagai currency (mata uang) lain juga demikian," kata Airlangga.
Pengamat pasar Ibrahim Assuaibi menyebut tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
âInvestor bersiap menghadapi potensi eskalasi di Timur Tengah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak,â ujarnya.
Menurutnya, konflik tersebut telah mengganggu aliran energi global, mendorong kenaikan harga minyak, serta meningkatkan risiko inflasi yang pada akhirnya mempersulit arah kebijakan moneter di berbagai negara.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga tengah menantikan rilis data inflasi AS yang akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah suku bunga bank sentral AS (The Fed).
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah mencerminkan kombinasi tekanan global yang kompleks, mulai dari eskalasi geopolitik, gangguan pasokan energi, hingga dinamika pasar keuangan internasional yang masih diliputi ketidakpastian.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Liga Champions : Sporting Lisbon Mengincar Remontada, Bodo/Glimt Siap Pertahankan Keunggulan
-
Harga Terbaru Emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Rabu (04/2) Siang Ini
-
Kemacetan di Selat Hormuz Bahayakan Kelompok Rentan Dunia
-
Jelang Hari Besar Keagamaan, Bupati Mimika Ajak Warga Perkuat Toleransi
-
BPS: Angka Kemiskinan Jakarta Turun ke 4,03%, Terendah Sejak Pandemi
-
Warga Diungsikan, Rumah Rusak akibat Tanah Bergerak di Pamekasan Madura Bertambah
-
Athletic dan Sociedad Berebut Tiket Final Copa del Rey
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.