Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dari Nafta ke LPG, Industri Petrokimia Cari Jalan Alternatif Keluar dari Tekanan Geopolitik

📅 Senin, 06 Apr 2026, 15:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Dari Nafta ke LPG, Industri Petrokimia  Cari Jalan Alternatif Keluar dari Tekanan Geopolitik Doc: istimewa
Ket. Tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng) mulai dirasakan industri petrokimia dalam negeri. Struktur industri yang masih bergantung pada impor memperbesar kerentanan terhadap gejolak eksternal

JAKARTA — Tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng) mulai dirasakan industri petrokimia dalam negeri. Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengungkapkan pelaku usaha terus mencermati arah pasar, terutama terkait pasokan bahan baku utama seperti nafta.

Struktur industri yang masih bergantung pada impor memperbesar kerentanan terhadap gejolak eksternal. Kebutuhan bahan baku yang tinggi belum sepenuhnya diimbangi oleh kapasitas produksi domestik.

"Untuk nafta kebutuhan 3 juta ton per tahun dan 100% impor. Untuk bahan baku plastik seperti PE (Polyethylene), PP (Polypropylene), PET (Polyethylene Terephthalate), PS (Polystyrene), dan PVC (Polyvinyl Chloride) dan lainnya sekitar 8 juta ton, dengan 50% masih impor," katanya, Senin (6/4)

Ketergantungan terhadap nafta menjadi titik krusial bagi industri ini dan Ia berharap pasokan nafta lancar. Gangguan distribusi sedikit saja dapat langsung memengaruhi rantai produksi. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pelaku industri mulai membuka opsi penggunaan bahan baku alternatif. "Nol persen bea masuk LPG sebagai bahan baku alternatif. Pasokan gas," kata Fajar.

Ketersediaan energi dinilai menjadi faktor yang lebih mendesak dibandingkan relaksasi kebijakan fiskal. Tanpa jaminan pasokan yang stabil, efisiensi dan daya saing industri sulit dipertahankan di tengah tekanan global yang meningkat.

Di sisi lain, situasi global yang tidak menentu juga mendorong banyak negara memperketat pengamanan pasokan. Lonjakan permintaan di sejumlah kawasan menjadi sinyal meningkatnya kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan baku di pasar internasional.

Upaya untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan pun mulai dilakukan. Pelaku industri bersama pemerintah membuka komunikasi dengan berbagai negara alternatif sebagai sumber pasokan baru, meski konsekuensi logistik menjadi tantangan tersendiri.

"Sudah mulai komunikasi dengan Asia Tengah, Afrika, dan Amerika. Yang jelas lead time lebih lama, paling cepat sekitar 50 hari. Semua negara sedang berusaha untuk mengamankan feedstock" jelas Fajar.

Dalam kondisi seperti saat ini, persaingan mendapatkan bahan baku semakin ketat karena hampir semua negara berada dalam posisi yang sama, yakni mengamankan kebutuhan industri masing-masing. Strategic Research Manager di Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai bahwa durasi konflik menjadi faktor penentu utama dalam membaca arah dampaknya.

“Kalau kita melihat konflik Timur Tengah ini dalam kerangka skenario, kuncinya sebenarnya ada pada durasi. Selama konflik masih berkaitan dengan tujuan strategis seperti tekanan politik atau perubahan rezim, maka kecil kemungkinan selesai dalam waktu cepat. Artinya, yang kita hadapi bukan lagi sekadar gejolak jangka pendek, tapi tekanan yang bisa berubah menjadi lebih struktural,” ujarnya.

Meski demikian, dalam fase awal ini pemerintah dinilai masih memiliki ruang untuk merespons melalui kebijakan yang fleksibel, baik dari sisi fiskal maupun stabilitas nilai tukar. Namun, tantangan akan berubah signifikan jika konflik berlangsung lebih lama, misalnya hingga enam bulan atau lebih. Pada titik tersebut, tekanan dinilai tidak lagi bersifat sementara.

Dalam menghadapi situasi tersebut, Yusuf menekankan pentingnya respons kebijakan yang tidak hanya reaktif, tetapi juga adaptif terhadap skenario jangka panjang.

“Dalam jangka pendek, pemerintah perlu menjaga fleksibilitas fiskal dan memastikan subsidi semakin tepat sasaran, sambil menjaga stabilitas nilai tukar. Tapi kalau konflik berlanjut lebih lama, penyesuaian yang lebih struktural menjadi tidak terhindarkan,” katanya.

Di sisi industri, terutama sektor yang bergantung pada energi dan bahan baku impor seperti kimia, diperlukan dukungan kebijakan agar tetap bertahan di tengah tekanan biaya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Pramono Cabut KJP dan KJMU Siswa Bermasalah, Pelaku, Perundungan dan Tawuran

Pramono Cabut KJP dan KJMU Siswa Bermasalah, Pelaku, Perundungan dan Tawuran

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.