Strategi Satgas PRR: Sulap Kayu Hanyutan Pascabencana Jadi Hunian Warga

Jumat, 03 Apr 2026, 00:55 WIB

JAKARTA - Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera mempercepat pemanfaatan kayu hanyutan sebagai bagian dari strategi pemulihan di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi. Langkah ini dinilai efektif untuk mendukung pembangunan kembali sekaligus mengoptimalkan sumber daya yang tersedia di lapangan.

Pemanfaatan kayu hanyutan dilakukan di sejumlah daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dengan berbagai fungsi. Selain digunakan untuk pembangunan hunian sementara, material tersebut juga dimanfaatkan untuk fasilitas sosial hingga kebutuhan industri.

Ket. Foto: Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera mempercepat pemanfaatan kayu hanyutan sebagai bagian dari strategi pemulihan di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi. — Sumber: Istimewa

"Kayu hanyutan ini bisa dimanfaatkan untuk membangun hunian oleh masyarakat maupun kebutuhan lainnya," ujar pejabat terkait dalam konferensi pers di Jakarta.

Data per 2 April 2026 menunjukkan pemanfaatan kayu hanyutan telah berjalan signifikan di berbagai wilayah terdampak. Di Kabupaten Aceh Utara, volume kayu mencapai 2.112,11 meter kubik telah digunakan untuk pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak.

Sementara itu, di Kabupaten Aceh Tamiang terdapat 572,4 meter kubik kayu yang saat ini masih menunggu kebijakan pemerintah daerah untuk penentuan penggunaannya. Proses ini dilakukan agar pemanfaatan kayu dapat sesuai dengan kebutuhan prioritas di wilayah tersebut.

Di Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Tapanuli Selatan, sebanyak 329,24 meter kubik kayu dimanfaatkan untuk pembangunan hunian sementara, fasilitas sosial, dan fasilitas umum. Sedangkan di Kabupaten Tapanuli Tengah, 93,39 meter kubik kayu telah digunakan untuk mendukung pemulihan rumah warga.

Untuk wilayah Sumatera Barat, Kota Padang mencatat pemanfaatan kayu hanyutan sebesar 1.996,58 meter kubik yang telah diserahkan kepada pemerintah daerah. Material tersebut dimanfaatkan sesuai kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak.

"Kami mendorong agar kayu yang berukuran kecil tetap dimanfaatkan agar memiliki nilai ekonomi dan bisa menjadi pemasukan daerah," ujar pejabat tersebut.

Pemanfaatan kayu hanyutan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mengatur penggunaan material hasil bencana sebagai bagian dari proses pemulihan. Regulasi tersebut memberikan dasar hukum bagi pemerintah daerah untuk mengelola dan memanfaatkan kayu secara optimal.

Selain untuk kebutuhan konstruksi, kayu berukuran kecil juga diarahkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku industri, seperti pembuatan batu bata hingga sumber energi alternatif. Skema kerja sama dengan pihak ketiga juga dibuka agar hasil pengelolaan dapat memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Dari sisi progres penanganan, pemerintah mencatat sebagian besar kayu hanyutan telah berhasil dibersihkan. Di Aceh, sekitar 70 persen kayu telah tertangani, sementara 30 persen sisanya masih berada di wilayah pedalaman yang sulit dijangkau.

Di Sumatera Barat, penanganan hampir mencapai 99 persen, sedangkan di Sumatera Utara telah mencapai sekitar 90 persen. Angka ini menunjukkan percepatan pemulihan yang cukup signifikan pascabencana yang terjadi akhir tahun lalu.

"Kami akan terus mempercepat penanganan hingga seluruh kayu hanyutan di lokasi terdampak dapat diselesaikan," kata pejabat tersebut.

Upaya ini diharapkan tidak hanya mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi, tetapi juga menciptakan sistem pengelolaan sumber daya yang lebih berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, dampak bencana dapat ditekan sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

  • Rehabilitasi
  • Rekonstruksi
  • Pemulihan bencana
  • Kayu Hanyut
  • Infrastruktur Pascabencana
  • Bangun Hunian Tetap
  • Pascabencana di Aceh dan Sumatera

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

Berita Terbaru

Sempat Unggul, Liverpool Gagal Menang! Newcastle Paksa The Reds Berbagi Poin

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

Karhutla di Kalbar Capai 38 Ribu Hektare, BNPB Waspadai Ancaman Bencana Asap

Status Bandara IKN Bakal Diubah Jadi Bandara Umum

TNI Siagakan 73.766 Personel Tangani Karhutla di Berbagai Wilayah.

TNI Salurkan 695,17 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT.

Perlu Audit Nasional PMB Jalur Mandiri PTN Buntut Kasus Unsoed

Kelas Menengah Menyusut Pertanda Kemajuan Pembangunan Indonesia Melambat

Pramono Siapkan 10.000 Bus Listrik untuk Atasi Polusi dan Kemacetan Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.