Menkeu AS: Washington Akan Rebut Kendali Selat Hormuz untuk Pulihkan Navigasi
📅 Rabu, 01 Apr 2026, 01:05 WIB | Oleh: Tim RedaksiWASHINGTON - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengatakan pada akhirnya Washington akan merebut lagi kendali atas Selat Hormuz dan memulihkan kebebasan navigasi.
“Seiring waktu, Amerika Serikat akan merebut kembali kendali atas selat tersebut dan akan ada kebebasan navigasi, baik melalui pengawalan oleh Amerika maupun multinasional,” kata Bessent kepada Fox News seperti dikutip dari Antara.
Terkait potensi keterlibatan kelompok Houthi di Yaman dan situasi di Laut Merah, Bessent menganggap enteng kekhawatiran tersebut dengan mengatakan bahwa Houthi telah dalam kondisi “sangat tenang”.
Selat Hormuz telah mengalami gangguan secara efektif sejak awal Maret, dengan sekitar 20 juta barel minyak melintas setiap harinya atau sekitar 20 persen dari pasokan global.
Blokade selat itu telah mendorong kenaikan harga minyak dan memicu kekhawatiran akan gangguan ekonomi yang berkepanjangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengeluarkan ultimatum selama 48 jam kepada Iran dan mengancam akan menyerang pembangkit listrik jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya. Namun, tenggat waktu ultimatum itu diperpanjang dengan alasan adanya negosiasi.
Serangan Amerika dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026 dan dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.
Tidak Dapat Diterima
Sebaiknya Anda baca juga:
Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan bahwa tuntutan Iran agar Amerika mengakui kedaulatan Iran atas Selat Hormuz, dalam perundingan yang sedang berlangsung, tidak dapat diterima.
“Pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz bukan hanya tidak dapat diterima oleh kami, tetapi juga oleh komunitas internasional. Tidak ada negara yang akan menyetujuinya,” kata Marco Rubio kepada Al Jazeera, Senin (30/3).
Sebelumnya, Utusan Khusus AS Steve Witkoff pada Kamis (26/3) mengatakan bahwa 15 poin rencana perdamaian telah disampaikan AS kepada Iran melalui Pakistan dan mengeklaim telah mendapat “respons positif”.
Namun, Kementerian Luar Negeri Iran menilai rencana tersebut tidak realistis. Kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Iran telah mengirimkan tanggapan resmi atas proposal AS dan kini menunggu respons dari Washington.
Dalam tanggapannya, Teheran dilaporkan menuntut kompensasi berupa penghentian perang di semua garis depan yang melibatkan sekutunya di kawasan, serta pengakuan atas kedaulatannya terhadap Selat Hormuz.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer milik Amerika yang berada di Timur Tengah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!