Anthrobots, Masa Depan Kedokteran Tanpa Obat Kimia Dosis Tinggi
📅 Selasa, 31 Mar 2026, 07:12 WIB | Oleh: Haryo BronoNamun, di balik potensi besar tersebut, muncul pula pertanyaan etis yang tidak bisa diabaikan. Apakah Anthrobots dapat dipatenkan? Siapa yang memiliki hak atas sel manusia yang telah dimodifikasi? Bagaimana memastikan teknologi ini tidak disalahgunakan?
Lembaga internasional, termasuk badan-badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, mulai membahas kerangka regulasi untuk teknologi biologi sintetis semacam ini. Transparansi, keamanan, dan akses yang adil menjadi isu utama dalam diskusi tersebut.
Era Baru Kedokteran: Dari Intervensi ke Kolaborasi
Terlepas dari berbagai tantangan, komunitas ilmiah melihat Anthrobots sebagai awal dari paradigma baru dalam dunia medis. Jika sebelumnya pengobatan identik dengan intervensi—memotong, mengganti, atau menekan gejala maka masa depan mungkin akan lebih berfokus pada kolaborasi dengan sistem biologis tubuh itu sendiri. “Kita sedang bergerak dari era ‘membedah dan mengganti’ menuju era ‘mengarahkan dan menyembuhkan’,” ujar Dr. Michael Levin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Anthrobots menjadi simbol dari perubahan tersebut. Mereka menunjukkan bahwa tubuh manusia tidak hanya dapat diperbaiki dari luar, tetapi juga dapat diberdayakan dari dalam.
Dengan pendekatan ini, manusia bukan lagi sekadar pasien yang menerima terapi, melainkan menjadi bagian aktif dari proses penyembuhan. Tubuh tidak hanya menjadi objek pengobatan, tetapi juga menjadi pabrik, laboratorium, sekaligus apotek bagi dirinya sendiri.
Jika riset ini terus berkembang, bukan tidak mungkin dalam beberapa dekade ke depan, istilah “minum obat” akan mulai tergantikan oleh sesuatu yang jauh lebih canggih: mengirim “pasukan sel” untuk memperbaiki tubuh dari dalam.
Menjinakkan Sel Trakea Jadi Pasukan Penyembuh
Dalam pengobatan masa depan, dokter molekuler yang dibangun dari sel pasien sendiri mungkin dapat mendeteksi kanker, memperbaiki jaringan yang cedera, dan bahkan menghilangkan plak dari pembuluh darah. Para peneliti kini telah mengambil langkah menuju visi tersebut dengan membujuk sel-sel trakea untuk membentuk kelompok terkoordinasi yang disebut organoid.
Organoid itu dapat menggerakkan diri mereka sendiri dengan anggota tubuh kecil. Ketika ditambahkan ke neuron yang terluka di laboratorium, robot yang kemudian disebut dengan “anthrobot” ini membantu neuron memperbaiki diri mereka sendiri.
Karya yang dilaporkan hari ini di Advanced Science, “luar biasa, dan inovatif,” kata Xi “Charlie” Ren, seorang insinyur jaringan di Universitas Carnegie Mellon yang tidak terlibat dalam penelitian ini. “Penciptaan perangkat hidup ini, membuka jalan menuju pengobatan personal,” ucapnya dikutip dari Science.Org.
Michael Levin, seorang ahli biologi perkembangan di Universitas Tufts dan pemimpin studi baru ini, membuat “robot hidup” pertamanya 4 tahun yang lalu. Ia dan rekan-rekannya menjahit sel-sel jantung dan kulit embrio dari katak bercakar Afrika untuk menciptakan organoid dengan silia, rambut-rambut kecil yang bergerak maju mundur, memungkinkannya untuk merayap dan bahkan berenang.
“Levin menunjukkan bahwa sel dapat dilatih untuk melakukan sesuatu yang tidak akan pernah mereka lakukan sendiri,” kata Ron Weiss, seorang ahli biologi sintetis di Massachusetts Institute of Technology yang tidak terlibat dalam pekerjaan tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!