• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Makna Idul Fitri: Momentum...

Makna Idul Fitri: Momentum Rekonsiliasi Sosial dan Persatuan Bangsa

Rabu, 18 Mar 2026, 22:55 WIB

JAKARTA - Di tengah dinamika politik domestik dan ketegangan geopolitik dunia, Idul Fitri menjadi kesempatan penting untuk memperkuat rekonsiliasi sosial dan kebangsaan. Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan spiritual setelah menjalankan ibadah Ramadan. 

Lebih dari itu, momen ini memiliki makna mendalam sebagai waktu untuk membersihkan diri, mempererat silaturahmi, dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan. Tradisi saling memaafkan yang melekat dalam Idulfitri seharusnya dimaknai lebih dalam, bukan sekadar formalitas atau salaman fisik.

Ket. Foto: Achmad Tjahja Nugraha Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia mengungkapkan Idul Fitri menjadi momentum penting untuk memperkuat rekonsiliasi sosial, persatuan, dan nilai saling memaafkan di tengah dinamika politik dan perbedaan di Indonesia. — Sumber: IST

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad Tjahja Nugraha, menegaskan bahwa makna Idulfitri sejatinya adalah kembali kepada kesucian hati dan memperbaiki relasi antar manusia, termasuk dalam kehidupan berbangsa.

Menurutnya, tradisi saling memaafkan yang terjadi setiap IdulFitri seharusnya tidak berhenti pada simbol atau kebiasaan sosial semata. Dalam pandangannya ucapan maaf pada momen ini bukan sekadar berjabat tangan atau mengucapkan kata-kata formal.

“Maaf dalam IdulFitri bukan sekadar berjabat tangan atau mengucapkan kata-kata formal. Hakikatnya adalah pembersihan hati, keikhlasan untuk menghapus dendam, serta membuka ruang rekonsiliasi yang tulus,” ujar Prof Achmad melalui keterangannya pada hari Rabu (18/3).

Nilai memaafkan sendiri merupakan ajaran penting dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Sebagaimana disebutkan dalam Qur'an Surah Ali Imran 3:134:

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan,” tambahnya.

Menurut Prof Achmad, semangat tersebut sangat relevan dengan kondisi kebangsaan yang kerap diwarnai perbedaan pandangan, konflik kepentingan, hingga polarisasi di ruang publik. Dalam konteks itulah Idulfitri dapat menjadi “risalah nasional” yang mengingatkan seluruh elemen bangsa untuk kembali pada nilai persaudaraan, toleransi, dan persatuan.

“Idulfitri adalah pesan moral bagi bangsa. Jika masyarakat mampu mempraktikkan maaf yang tulus, maka kehidupan sosial dan politik kita juga bisa lebih sehat dan damai,” katanya.

Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan dan mendamaikan konflik di tengah masyarakat. Hal ini tercermin dalam Qur'an Surah Al-Hujurat 49:10: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

Prof Achmad menilai, bangsa Indonesia yang majemuk membutuhkan energi moral seperti yang diajarkan dalam Idulfitri. Tradisi saling memaafkan dapat menjadi fondasi untuk memperkuat kohesi sosial di tengah berbagai perbedaan. Karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai momentum refleksi bersama, tidak hanya dalam lingkup keluarga tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Jika Idulfitri dimaknai secara mendalam, maka ia tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi gerakan moral untuk memperbaiki hubungan sosial dan memperkuat persatuan bangsa,” lanjutnya.

  • toleransi
  • Al-Quran
  • Ramadan
  • persatuan bangsa
  • kohesi sosial
  • Idulfitri 1447 H
  • rekonsiliasi sosial
  • UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
  • Achmad Tjahja Nugraha
  • nilai memaafkan

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.