• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Tabrakan Planet 11.000 Tah...

Tabrakan Planet 11.000 Tahun Cahaya dari Bumi Terdeteksi, Suhu Panas di Spektrum Inframerah

Minggu, 15 Mar 2026, 16:12 WIB

JAKARTA - Para astronom berhasil mengamati peristiwa kosmik langka berupa tabrakan dahsyat antara dua planet di sebuah sistem bintang yang berjarak sekitar 11.000 tahun cahaya dari Bumi. Peristiwa tersebut terdeteksi di sekitar bintang bernama Gaia20ehk yang berada dekat rasi bintang Puppis.

Penemuan ini bermula ketika seorang kandidat doktor astronomi dari University of Washington, Anastasios Tzanidakis, memeriksa data pengamatan teleskop pada 2020. Ia menemukan pola cahaya yang tidak biasa pada bintang tersebut.

Ket. Foto: Para astronom berhasil mengamati peristiwa kosmik langka berupa tabrakan dahsyat antara dua planet di sebuah sistem bintang yang berjarak sekitar 11.000 tahun cahaya dari Bumi. Peristiwa tersebut terdeteksi di sekitar bintang bernama Gaia20ehk yang berada dekat rasi bintang Puppis. — Sumber: StudyFinds

Bintang Gaia20ehk diketahui merupakan bintang urutan utama yang stabil, mirip dengan Matahari. Namun data pengamatan menunjukkan perubahan terang yang tidak lazim selama beberapa tahun terakhir.

"Output cahaya bintang ini awalnya stabil, tetapi mulai tahun 2016 kecerahannya mengalami tiga kali penurunan," ujar Tzanidakis.

Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut semakin aneh pada tahun-tahun berikutnya. Perubahan drastis pada tingkat kecerahan membuat para peneliti mempertanyakan penyebab fenomena tersebut.

"Bintang seperti matahari kita tidak melakukan hal seperti itu. Jadi ketika kami melihatnya, kami bertanya, 'apa yang sedang terjadi?'" katanya.

Setelah dilakukan analisis lebih lanjut, para peneliti menyimpulkan bahwa sumber gangguan bukan berasal dari bintang tersebut. Cahaya yang terdeteksi dari Bumi ternyata terhalang oleh puing-puing yang mengorbit di sekitarnya.

Material berupa batu dan debu tersebut diyakini berasal dari tabrakan besar antara dua planet. Puing-puing itu melintas di depan bintang dan menyebabkan cahaya yang menuju Bumi terlihat meredup.

"Sungguh luar biasa berbagai teleskop berhasil menangkap tabrakan ini secara real time," ujar Tzanidakis.

Ia menyebut tabrakan planet yang pernah diamati sebelumnya sangat sedikit. Bahkan peristiwa yang memiliki kemiripan dengan proses pembentukan Bumi dan Bulan hampir tidak pernah terdeteksi secara langsung.

Hasil penelitian tim tersebut dipublikasikan pada 11 Maret dalam jurnal ilmiah The Astrophysical Journal Letters. Artikel tersebut berjudul "Gaia-GIC-1: An Evolving Catastrophic Planetesimal Collision Candidate".

Peneliti lain dari University of Washington, James Davenport, kemudian menyarankan tim untuk meninjau data pengamatan dalam spektrum inframerah. Pendekatan ini menghasilkan temuan baru yang mengejutkan.

"Kurva cahaya inframerah benar-benar berlawanan dengan cahaya tampak," jelas Tzanidakis.

Ia menjelaskan ketika cahaya tampak mulai meredup, cahaya inframerah justru meningkat tajam. Kondisi tersebut menunjukkan material yang menutupi bintang memiliki suhu sangat panas.

Fenomena tersebut sesuai dengan karakteristik tabrakan planet berskala besar. Tabrakan seperti itu mampu menghasilkan energi panas tinggi yang membuat puing-puing bersinar dalam spektrum inframerah.

Para peneliti memperkirakan awan puing dari tabrakan tersebut mengorbit bintang pada jarak sekitar satu satuan astronomi. Jarak ini kira-kira setara dengan jarak antara Bumi dan Matahari.

Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa peristiwa tersebut mirip dengan tabrakan kosmik yang diyakini membentuk Bulan sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Peristiwa tersebut menjadi salah satu teori utama dalam pembentukan sistem Bumi-Bulan.

Ke depan, para ilmuwan berharap teknologi observasi baru dapat membantu menemukan lebih banyak peristiwa serupa. Salah satu instrumen yang diperkirakan memainkan peran penting adalah Observatorium Vera C. Rubin.

Observatorium tersebut dilengkapi Teleskop Survei Simonyi yang mampu memantau perubahan langit secara luas dan berkelanjutan. Teknologi ini memungkinkan deteksi fenomena kosmik yang berkembang dalam waktu panjang.

Menurut Davenport, teleskop tersebut berpotensi menemukan sekitar 100 tabrakan planet dalam satu dekade ke depan. Penemuan itu dapat membantu ilmuwan memahami seberapa sering proses pembentukan planet terjadi di alam semesta.

"Seberapa langka peristiwa yang menciptakan Bumi dan Bulan? Pertanyaan itu sangat mendasar bagi astrobiologi," ujarnya.

Ia menambahkan keberadaan Bulan memiliki peran penting dalam mendukung kehidupan di Bumi. Karena itu, mempelajari tabrakan planet dapat memberikan petunjuk penting tentang kemungkinan munculnya kehidupan di tempat lain di alam semesta.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.