Ketua DPRD DKI Cek RDF Rorotan, Pastikan Anggaran Triliunan Bisa Atasi Sampah Jakarta

Rabu, 11 Mar 2026, 19:41 WIB

JAKARTA - Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin meninjau fasilitas Refuse Derived Fuel Plant Rorotan di Jakarta Utara, Rabu (11/3). Kunjungan tersebut dilakukan setelah peristiwa longsoran sampah di TPST Bantargebang yang menunjukkan besarnya tekanan pada fasilitas pembuangan utama sampah Jakarta.

Sebelum meninjau fasilitas RDF, Khoirudin terlebih dahulu berdialog dengan warga di wilayah Rorotan. Ia mendengarkan langsung berbagai keluhan masyarakat, terutama terkait aroma tidak sedap yang sempat muncul saat proses commissioning dan pengoperasian awal fasilitas tersebut.

Ket. Foto: Ketua DPRD DKI Jakarta Khoirudin meninjau fasilitas Refuse Derived Fuel Plant Rorotan di Jakarta Utara, Rabu (11/3). Kunjungan tersebut dilakukan setelah peristiwa longsoran sampah di TPST Bantargebang yang menunjukkan besarnya tekanan pada fasilitas pembuangan utama sampah Jakarta. — Sumber: DPRD DKI Jakarta

Menurut Khoirudin, kejadian di Bantargebang menjadi pengingat bahwa Jakarta tidak bisa terus bergantung pada satu lokasi pembuangan sampah. Ia menilai kota ini membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang lebih beragam dan berkelanjutan.

"Produksi sampah Jakarta mencapai sekitar 8.700 ton per hari. Perlu solusi permanen," kata Khoirudin.

Ia menjelaskan teknologi RDF dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi volume sampah yang dikirim ke Bantargebang. Dengan pengolahan tersebut, sebagian sampah dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif sehingga tidak semuanya berakhir di tempat pembuangan akhir.

"Salah satu solusinya adalah RDF, sehingga tidak semua sampah dibuang ke Bantargebang," ujar Khoirudin.

Khoirudin menegaskan DPRD perlu memastikan fasilitas yang dibangun menggunakan anggaran besar dapat berfungsi secara optimal. Ia menyebut proyek RDF merupakan investasi besar yang harus memberi manfaat nyata bagi pengelolaan sampah di Jakarta.

"Saya datang untuk memastikan anggaran triliunan yang telah disetujui benar-benar memberi manfaat," kata Khoirudin.

Fasilitas RDF Rorotan dirancang memiliki kapasitas input hingga 2.500 ton sampah per hari. Dengan kapasitas tersebut, fasilitas ini diperkirakan mampu mengurangi sekitar 30 persen volume sampah yang selama ini dikirim ke Bantargebang.

Menurut Khoirudin, pembangunan fasilitas pengolahan sampah seperti RDF perlu dilakukan di beberapa titik di Jakarta. Langkah itu dinilai penting agar kota ini memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih aman dan tidak bergantung pada satu lokasi saja.

"Kalau fasilitas seperti ini ada di beberapa lokasi, tentu bisa menjadi solusi permanen," tutur Khoirudin.

Dalam kunjungan tersebut, ia juga menyoroti pentingnya hubungan sosial antara pengelola RDF dengan masyarakat sekitar. Ia menilai penerimaan warga menjadi faktor penting dalam keberhasilan operasional fasilitas pengolahan sampah.

"Kalau muncul masalah sosial, yang harus dilihat adalah seberapa kuat layanan RDF kepada masyarakat," kata Khoirudin.

Ketua RW 08 Rorotan Ahmad Fauzi mengatakan warga pada dasarnya mendukung keberadaan fasilitas RDF. Ia menyebut masyarakat memahami persoalan sampah Jakarta yang semakin kompleks setiap tahun.

"Terkait pembangunan RDF, warga RW 08 mendukung karena sampah memang menjadi masalah di Jakarta," ujar Ahmad Fauzi.

Namun ia berharap wilayah yang berada paling dekat dengan fasilitas tersebut juga mendapatkan manfaat langsung. Salah satunya melalui penanganan sampah lingkungan yang lebih cepat dan bersih.

"Karena kami paling dekat dengan RDF, sampah di wilayah kami harus bersih dan diselesaikan," kata Ahmad Fauzi.

Sementara itu, perwakilan RDF Jakarta Muhammad Andika Firmansyah menjelaskan pengelola terus melakukan pembenahan dalam operasional fasilitas tersebut. Dua tantangan utama yang menjadi fokus saat ini adalah sistem transportasi sampah dan pengendalian bau.

Ia menyebut Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta berkomitmen menggunakan truk kompaktor tertutup untuk mengangkut sampah ke fasilitas RDF. Langkah ini bertujuan mencegah ceceran sampah maupun tetesan air lindi selama proses distribusi.

Selain itu, RDF Rorotan telah dilengkapi perangkat pengontrol emisi dan sistem pengendalian bau. Pengelola juga memasang delapan stasiun pemantau kualitas udara yang datanya dapat diakses masyarakat.

Langkah tersebut diharapkan dapat meminimalkan dampak operasional fasilitas terhadap lingkungan dan warga sekitar. Dengan pengawasan terbuka, pengelola juga berharap kepercayaan masyarakat terhadap fasilitas RDF dapat terus meningkat.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.