Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Monumen Maritim yang Membawa Pengunjung Kembali ke Tahun 1488

📅 Selasa, 10 Mar 2026, 07:04 WIB | Oleh:
Monumen Maritim yang Membawa Pengunjung Kembali ke Tahun 1488 Doc: Foto: Wikimedia Commons
Ket. Mossel Bay - Replika Kapal Bartolomeu Dias.

DI SEBUAH gedung tua yang dulunya berfungsi sebagai penggilingan gandum di pesisir Mossel Bay, Afrika Selatan, berdiri sebuah monumen maritim yang tidak hanya sekadar kayu dan layar. Kapal itu adalah replika karavel Bartolomeu Dias, sebuah bukti fisik yang membawa imajinasi pengunjung kembali ke tahun 1488, saat dunia baru saja mulai terpetakan.

Replika ini merupakan jantung dari Bartolomeu Dias Museum Complex. Namun, statusnya bukan sekadar pajangan museum biasa; kapal ini memiliki riwayat perjalanan yang sama heroiknya dengan armada aslinya lima abad silam.

Misi 500 Tahun

Pembangunan kapal ini dimulai di Vila do Conde, Portugal, pada pertengahan 1980-an sebagai bagian dari peringatan setengah milenium pendaratan Dias di Afrika Selatan. Dengan ketelitian tinggi, para perajin kayu Portugal menggunakan metode arkeologi eksperimental untuk menciptakan kembali karavel abad ke-15 yang lincah dan mampu melawan angina sebuah teknologi mutakhir di zamannya.

Puncaknya terjadi pada tahun 1988. Di bawah komando Kapten Emilio de Sousa, replika tersebut benar-benar melayarkan diri dari Lisboa melintasi Samudra Atlantik. Selama tiga bulan, awak kapal modern merasakan kerasnya arus laut dan teriknya khatulistiwa, hingga akhirnya kapal itu berlabuh di Mossel Bay pada 3 Februari 1988, tepat pada tanggal pendaratan asli sang navigator 500 tahun sebelumnya.

Detail Autentik yang Berbicara

Memasuki lambung kapal, pengunjung akan disambut oleh aroma kayu pinus dan ek yang khas. Dengan panjang sekitar 23,5 meter, karavel ini terasa mengecil di tengah luasnya samudra, memberikan perspektif nyata mengenai keberanian (atau kenekatan) para pelaut kuno.

Setiap sudut kapal dirancang untuk bercerita. Di atas dek, terdapat replika tungku masak berbahan batu, tempat para awak mengolah jatah makanan terbatas mereka di tengah laut lepas. Di bagian bawah, ruang yang sempit dan pengap menggambarkan betapa kerasnya kehidupan 16 bulan di laut tanpa kenyamanan modern. Meski terlihat kuno, kapal seberat 130 ton ini tetap menggunakan blok granit dari Portugal sebagai pemberat (ballast) untuk menjaga keseimbangannya saat menyeberangi Atlantik.

Lebih dari Sekadar Kayu

Kini, kapal tersebut telah dipensiunkan dari laut dan ditarik ke dalam museum menggunakan sistem hidrolik. Ia berdiri megah, dikelilingi oleh koleksi artefak maritim lainnya, termasuk replika pilar batu (padrão) yang pernah ditegakkan Dias di sepanjang pantai Afrika.

Bagi Mossel Bay, karavel ini bukan hanya objek wisata. Ia adalah simbol pertemuan budaya, saksi bisu awal mula rute maritim ke Hindia, dan pengingat akan semangat eksplorasi manusia yang tak terbatas. Menaiki dek kapal ini bukan sekadar berjalan di atas kayu, melainkan melangkah mundur ke sebuah era di mana cakrawala masih menyimpan seribu rahasia. hay

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Jakarta Merintis Diri Menjadi Hub Ekonomi Kreatif

24 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Jakarta Merintis Diri Menja...
Daerah
Mau Tahu Alasan Dedi Mulyad...
Ekonomi
GoPay Permudah Masyarakat I...
Megapolitan
Waoooww….Warga Bandung ak...
Luar Negeri
Gempa Tibet Tewaskan 16 Ora...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.