Selama 30 Bulan Tanpa Henti, Harga Emas Perhiasan Terus Mendaki
Rabu, 04 Mar 2026, 01:00 WIBJAKARTA â Harga emas perhiasan yang terus mencatat kenaikan selama 30 bulan berturut-turut mencerminkan tingginya preferensi masyarakat terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi. Ketika volatilitas pasar keuangan meningkat, tekanan inflasi belum sepenuhnya reda, serta tensi geopolitik global memanas, emas menjadi instrumen yang dianggap relatif aman untuk menjaga nilai kekayaan.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono menyampaikan komoditas emas perhiasan mengalami inflasi bulanan selama 30 bulan berturut-turut sejak September 2023 hingga Februari 2026. Dalam struktur Indeks Harga Konsumen (IHK), emas perhiasan masuk dalam Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang menjadi salah satu penyumbang utama inflasi Februari 2026, dengan inflasi kelompok 2,55 persen (mtm) dan andil 0,19 persen.
âKelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya ini menjadi salah satu kelompok utama penyumbang inflasi pada Februari 2026," ujar Ateng Hartono di Jakarta, awal pekan ini.
Secara spesifik, emas perhiasan mencatat inflasi 8,42 persen pada Februari 2026 dan turut menyumbang andil 0,19 persen terhadap inflasi bulanan. Kenaikan ini sejalan dengan lonjakan harga emas global yang pada Februari 2026 mencapai 5.019,97 dolar AS per troy ounce, melonjak signifikan dibanding Juli 2024 di level 2.398 dolar AS.
Secara keseluruhan, inflasi Indonesia pada Februari 2026 tercatat 4,76 persen secara tahunan atau year on year (yoy), 0,68 persen secara bulanan atau month to month (mtm), dan secara tahun kalender berjalan (ytd) sebesar 0,53 persen.
Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko menyebut tren kenaikan harga emas dipicu oleh ekspektasi pasar yang terus meningkat, sehingga permintaan ikut terdorong dan memperkuat kenaikan harga. Emas dipandang sebagai instrumen lindung nilai karena relatif stabil, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi.
"Semakin tinggi ekspektasi kenaikan harga emas, maka permintaan emas juga akan semakin meningkat dan semakin mendorong kenaikan harganya,"ujar Suhartoko kepada Koran Jakarta, Selasa (3/3).
Di sisi lain, lonjakan pembelian emas bisa mencerminkan peningkatan aset masyarakat, namun berpotensi menahan konsumsi jangka pendek. Dia menegaskan harga emas sulit dikendalikan karena merupakan komoditas internasional. âSebagai alternatif untuk meredam permintaan, pemerintah dapat menawarkan surat berharga dengan imbal hasil kompetitif dan fluktuasi harga yang lebih terjaga dibanding emas,â kata Suhartoko kepada Koran Jakarta, Selasa (3/3).
Instrumen Investasi
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menyatakan permintaan emas cenderung meningkat saat kondisi ekonomi memburuk dan diliputi ketidakpastian, sehingga mendorong kenaikan nilainya.
Emas dinilai sebagai instrumen investasi yang mudah disimpan, relatif aman, dan tidak memerlukan pemahaman kompleks seperti saham atau obligasi, sehingga menjadi pilihan favorit masyarakat.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Kekurangan Dana, PBB Pangkas 25% Pasukan Penjaga Perdamaian di Seluruh Dunia
-
Polisi Tangkap 5 Tersangka Pengedar Narkotika Modus COD, Sita Barang Bukti Senilai Miliaran Rupiah
-
Amartha.org Dorong Akses Pendidikan dan Kepemimpinan Perempuan lewat Beasiswa
-
Kreatif Banget! Pemuda Lumajang Olah Limbah MBG Jadi Produk Ramah Lingkungan
-
Jumat, Samsat Keliling Jadetabek Hadir di 14 Titik, Cek Lokasinya!
-
BPJPH: Sertifikat Halal Perkuat Posisi Indonesia dalam Rantai Pasok Global
-
Kondisi Nagari Sungai Batang pascabencana susulan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.