Kekurangan Dana, PBB Pangkas 25% Pasukan Penjaga Perdamaian di Seluruh Dunia

Kamis, 09 Okt 2025, 10:17 WIB

PBB - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terpaksa mengurangi sekitar 25 persen pasukan penjaga perdamaiannya di seluruh dunia karena kekurangan dana, yang sebagian besar terkait dengan pemotongan bantuan AS, kata seorang pejabat senior PBB pada Rabu (8/10).

Sekitar 13.000 hingga 14.000 personel militer dan polisi, beserta perlengkapan mereka, harus dipulangkan, kata pejabat yang tidak mau disebutkan namanya itu, "sejumlah besar staf sipil di berbagai misi" juga akan terdampak.

Ket. Foto: Pasukan Penjaga Perdamaian PBB di Mali. — Sumber: un.org

Amerika Serikat diharapkan menyumbang $1,3 miliar dari total anggaran $5,4 miliar untuk operasi penjaga perdamaian 2025-2026.

Namun kini AS telah memberitahu PBB hanya akan membayar sekitar setengah dari jumlah tersebut, atau $682 juta, yang mencakup $85 juta yang dialokasikan untuk misi anti-geng internasional baru di Haiti yang tidak tercantum dalam anggaran awal.

Tiongkok diperkirakan menyumbang $1,2 miliar pada anggaran pemeliharaan perdamaian, yang hingga bulan Juli memiliki $2 miliar kontribusi yang belum dibayarkan.

Dari total anggarannya, PBB sekarang memperkirakan kekurangan 16 hingga 17 persen dalam anggaran pemeliharaan perdamaian saat ini.

Presiden Donald Trump telah lama mengklaim bahwa lembaga internasional telah mengambil keuntungan dari Amerika Serikat dan ia telah mengawasi pemotongan besar-besaran bantuan luar negeri AS sejak kembali ke Gedung Putih pada bulan Januari.

"Kami tahu akan ada konsekuensi dalam hal pemantauan gencatan senjata, perlindungan warga sipil, kerja sama dengan tim kemanusiaan, atau kegiatan penjaga perdamaian lainnya," kata pejabat tersebut.

Pengurangan pasukan sebesar 25 persen akan tersebar di sembilan dari 11 misi penjaga perdamaian, yang telah mengembangkan rencana darurat untuk potensi pemotongan anggaran, kata pejabat itu.

PBB telah menempatkan pasukan penjaga perdamaian di Republik Demokratik Kongo bagian timur, Lebanon selatan, Republik Afrika Tengah, Sudan Selatan, dan Sahara Barat, serta tempat-tempat lainnya .

Pengumuman tersebut "berpotensi  pengurangan signifikan dalam perlindungan bagi hal-hal seperti konvoi kemanusiaan dan warga sipil yang bergantung pada bantuan," ujar Louis Charbonneau dari Human Rights Watch kepada AFP.

"Kami berharap PBB akan memprioritaskan kegiatan kemanusiaan dan hak asasi manusia yang menyelamatkan nyawa," tambahnya.

Richard Gowan dari International Crisis Group mengatakan dampak pemotongan anggaran di lapangan "akan bervariasi tergantung kasusnya."

"Di tempat seperti Sudan Selatan, di mana pasukan penjaga perdamaian menawarkan sedikit perlindungan kepada banyak warga sipil dan hampir terjadi perang baru tahun ini, pengurangan jumlah pasukan penjaga perdamaian mengirimkan sinyal yang sangat buruk."

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.