Stok Aman, Jangan Panik! Warga NTB Diminta Stop Panic Buying Saat Ramadhan 1447 H

Minggu, 22 Feb 2026, 14:02 WIB

MATARAM – Fenomena panic buying selama Ramadhan kerap dipicu oleh kekhawatiran kenaikan harga dan kekurangan stok, padahal secara struktural pasokan kebutuhan pokok umumnya telah diantisipasi pemerintah dan pelaku usaha jauh hari sebelumnya.

Lonjakan pembelian secara berlebihan justru menciptakan distorsi pasar: permintaan melonjak tajam dalam waktu singkat, distribusi terganggu, dan harga terdorong naik bukan semata karena kelangkaan riil, melainkan karena sentimen.

Ket. Foto: Pedagang cabai di salah satu pasar tradisional di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. — Sumber: ANTARA/Nirkomala.

Secara ekonomi, panic buying merugikan semua pihak. Konsumen menghadapi harga yang lebih tinggi, pedagang kesulitan menjaga stabilitas stok, dan kelompok berpendapatan rendah menjadi pihak paling terdampak.

Selain itu, pola belanja berlebihan berpotensi memicu pemborosan pangan, bertentangan dengan semangat Ramadhan yang mengajarkan pengendalian diri dan keseimbangan.

Karena itu, belanja secara bijak dan sesuai kebutuhan bukan hanya keputusan personal, tetapi juga kontribusi terhadap stabilitas pasar dan keadilan distribusi.

Dengan pola konsumsi yang rasional, masyarakat turut menjaga agar momentum Ramadhan tetap kondusif secara sosial maupun ekonomi.

Dinas Perdagangan Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mengimbau masyarakat tidak melakukan panic buying atau sikap membeli barang secara berlebihan khawatir kelangkaan barang dalam memenuhi kebutuhan pokok selama bulan Ramadhan 1447 Hijriah/2026, sebab sebenarnya ketersediaan bahan pokok tetap terjaga di pasar tradisional.

"Masyarakat hendaknya belanja sesuai kebutuhan dan tidak panik dengan belanja secara berlebihan. Kenaikan harga beberapa bahan pokok yang terjadi saat ini masih fluktuatif," kata Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram Irwan Harimansayah di Mataram, Minggu (22/2), menyikapi kondisi pasar yang saat ini yang mencatat sejumlah kebutuhan pokok mengalami kenaikan.

Komoditas yang paling mencolok kenaikannya cabai rawit yang kini menyentuh harganya Rp170.000 per kilogram di pasar Mataram.

​Pemerintah Kota Mataram melalui dinas terkait tengah melakukan langkah cepat untuk kembali menstabilkan harga pasar. Saat ini, koordinasi dengan para distributor sedang diperkuat untuk mengintervensi pasar agar kenaikan harga tidak semakin membebani masyarakat.

Berdasarkan pantauan di lapangan, menurutnya, kenaikan harga cabai yang mencapai Rp170.000 per kilogram pada Sabtu (21/2-2026), dalam waktu singkat dipicu oleh tingginya permintaan masyarakat yang tidak dibarengi dengan ketersediaan stok di wilayah Kota Mataram.

​

"Kalau stok sebenarnya ada, tapi bukan di Kota Mataram, melainkan di daerah penyangga seperti Lombok Barat dan Lombok Timur," katanya.

Untuk menutupi kekurangan itu, pemerintah kota berencana mendatangkan pasokan tambahan dari daerah-daerah penghasil termasuk cabai dari luar daerah yakni dari Pulau Bali dan Jawa.

"Sementara untuk cabai merah besar dan keriting masih bertahan pada harga Rp30.000 per kilogram," katanya.

Sementara untuk harga daging sapi kini menjadi Rp145.000-Rp150.000 per kilogram dari harga normal Rp125.000-Rp135.000 per kilogram.

Kemudian harga daging ayam kini mencapai Rp42.000-Rp44.000 per kilogram dari harga Rp40.000 per kilogram, begitu juga dengan harga telur ayam ras naik dari Rp58.000 per tray (satu tray isi 30 butir), menjadi Rp60.000 per tray.

"Kendati terjadi kenaikan, kami harap masyarakat tetap tenang dan belanja sesuai kebutuhan bukan keinginan," katanya.

Guna mengantisipasi terjadinya lonjakan harga signifikan, Disdag Kota Mataram telah berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti Dinas Perdagangan Provinsi, Bulog, Bank Indonesia (BI), distributor, dan Satgas Pangan agar harga dan pasokan kebutuhan pokok di pasar tersedia dan terkendali.

​Pemerintah Kota Mataram telah menyiapkan jadwal pasar rakyat atau pasar murah dan gerakan pangan murah (GPM) sebagai langkah mitigasi.

"Minggu depan, tanggal 24-26 Februari, kami akan menggelar pasar rakyat untuk membantu pemenuhan kebutuhan masyarakat, mendekatkan dan memberikan harga di bawah harga pasar," katanya.

​Diperkirakannya, harga akan mulai melandai pada pertengahan bulan Ramadhan sebelum kembali berpotensi naik menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.