BGN Dorong Pekerja Keramba Waduk Cirata Naik Kelas Lewat Akses KUR
📅 Minggu, 15 Feb 2026, 12:43 WIB | Oleh: Sriyono
Doc: antara foto
JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong pemerintah daerah mengoptimalkan akses kredit usaha rakyat (KUR) bagi pekerja keramba jaring apung di Waduk Cirata, Jawa Barat, agar mereka naik kelas menjadi pelaku usaha mandiri.
Wakil Kepala BGN bidang Komunikasi Publik dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang berharap nantinya mereka dapat menjadi pemasok ikan ke dapur-dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).
"Bank pemerintah itu boleh menyediakan KUR dengan bunga murah. Mereka ini didaftar, Pak Wabup Bupati, mana yang tidak punya dan mana yang punya (keramba jaring apung sendiri). Pak Wabup hebat kalau bisa mengembalikan mereka menjadi pemilik lagi, menjadi pengusaha," kata Nanik dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (15/2).
Sementara itu, Wakil Bupati Purwakarta Abang Ijo Hafidin menjelaskan bahwa pada awalnya keramba jaring apung dimiliki oleh masyarakat setempat.
Namun, ketika usaha tersebut mengalami kerugian akibat kematian ikan secara massal, tingginya harga pakan, serta keterbatasan modal, para pemilik terpaksa menjual keramba mereka kepada para pemodal.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Setelah dijual, mereka yang semula memiliki keramba ini, kemudian menjadi kulinya," kata dia.
Budi daya ikan dengan sistem keramba jaring apung di perairan seperti Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur dinilai bukan usaha yang mudah.
Petani ikan perlu menyiapkan modal awal sekitar Rp20 juta hingga Rp30 juta untuk setiap siklus budi daya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagian besar modal tersebut dialokasikan untuk pembelian pakan ikan yang harganya fluktuatif. Masa panen umumnya berlangsung setiap tiga hingga enam bulan.
"Sekarang harga jual dengan harga pakan itu, mahal. Beda jauh. Jadi ada ketimpangan di situ," kata Asep, salah seorang pekerja keramba.
Selain faktor ekonomi, kendala juga datang dari faktor alam. Pada musim angin dan saat terjadi fenomena upwelling atau pembalikan massa air ketika pergantian musim, sisa pakan dan endapan di dasar waduk yang mengandung sulfur oksida (SO2) dapat terangkat ke permukaan.
Kondisi tersebut berpotensi meracuni ikan di dalam keramba yang tidak dapat berpindah tempat, sehingga meningkatkan risiko kematian massal dan kerugian bagi para pembudi daya.
"Kalau ada balikan air seperti itu, ikan-ikan mati semua, dan kami rugi," jelas Asep.
Adapun pada pertengahan 2025, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Barat mencatat terdapat 86.437 unit keramba jaring apung di perairan Waduk Cirata.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!